Makroekonomi dan mikroekonomi tidak hanya berbeda berdasarkan pengertian saja, melainkan ilmu yang didalaminya memang berbeda baik dari sudut pandangan, maupun pelaku yang dijelaskan dalam teori tersebut.

Berbicara tentang ekonomi biasanya kita mendengar istilah mikroekonomi dan makroekonomi. Ekonomi sendiri merupakan ilmu yang muncul dari kelangkaan sumberdaya sedangkan kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Sehingga dalam memanfaatkan sumberdaya ini, manusia harus memilih sumber daya yang paling efisien dan efektif. Maka muncullah ilmu ekonomi. Tidak heran jika keberadaan ilmu ekonomi ini berada di akhir setelah ilmu ilmu pasti seperti fisika kimia dan ilmu dasar lainnya. Mengapa? Karena setelah perkembangan ilmu tersebut, timbullah keinginan manusia yang tidak terbatas sedangkan sumberdaya yang dimiliki tidak juga bertambah.

Misalnya pada pertemuan teknologi kendaraan yang menggantikan hewan dengan kendaraan roda dua, tiga ataupun empat. Teknologi dengan adanya perkembangan ilmu dasar fisika telah menghadirkan beberapa pilihan bagi manusia untuk melakukan transportasi yang nyaman. Sepeda motor lebih cepat dari pada menunggang kuda. Kemudian hadir mobil yang memberikan perlindungan dari panas dan hujan dan menambah kapasitas penumpang. Di sisi lain, sumberdaya manusia yang memilih kendaraan tersebut sebut saja pendapatan tidak lah sama. Maka dari gap antara kebutuhan dan kemampuan inilah akan menyebabkan tindakan ekonomi yang berbeda beda setiap individu ataupun perusahaan.

Ekonomi sendiri terpecah dalam mikroekonomi dan makroekonomi. Banyak yang mempersepsikan dari pengertian kata bahwa makro adalah besar, dan mikro adalah kecil. Sehingga makro dan mikro hanya berbeda dalam skala atau lingkup pembahasan. Pengetahuan ini tidaklah salah karena jika dilihat secara sepintas biasanya makro membahas sebuah negara, sedangkan mikro membahas tentang individu. Namun, rasanya kurang lengkap jika membedakan hanya berdasarkan istilah atau pengertian kata saja. Berikut merupakan perbedaan antara makroekonomi dan mikroekonomi.

Pelaku ekonomi

Karena ekonomi merupakan sistem yang kompleks, sistem ekonomi melibatkan banyak pelaku. Pelaku ini dijelaskan secara berbeda dari mikroekonomi dan makroekonomi. Dalam mikroekkonomi, biasanya menjelaskan tentang pelaku individu misalnya adalah individu manusia itu sendiri atau satu perusahaan. Perilaku yang dijelaskan tentunya perilaku ekonomi dalam memilih keputusan yang tepat dalam penggunaan sumber daya. Misalnya bagaimana perusahaan harus bertindak jika terjadi kenaikan harga input seperti tenaga kerja? Atau bagaimana posisi biaya dalam jangka penjang dengan menerapkan investasi, apakah berada dalam increasing, constant ataukah malah decreasing.

Di sisi yang lain, makroekonomi menjelaskan pelaku ekonomi secara agregat. Misalnya permintaan agregat suatu negara terhadap suatu komoditas, atau penawaran agregat suatu negara atau wilayah terhadap komoditas tertentu. Perbedaan ini yang biasa dimengerti oleh masyarakat atau mahasiswa pada umumnya.

Perilaku ekonomi

Selain pelaku ekonomi, mikroekonomi dan makroekonomi juga dibedakan dengan perilaku ekonomi. Jika mikroekonomi diddasari dengan perilaku individu yang berusaha memaksimalkan utilitasnya, sedangkan pada individu perusahaan akan berperilaku memaksimalkan keuntungan. Individu atau seorang manusia akan berusaha memaksimalkan utilitas dari uang yang ia punya. Artinya jika ia menginginkan sepatu dengan uang yang dimilikinya sebesar Rp. 1 juta, maka ia akan memilih sepatu yang pantas dengan nilai tersebut. Begitupun sebuah perusahaan akan berperilaku secara ekonomi dengan memaksimalkan keuntungan dari sumberdaya yang dimiliki. Meskipun ada juga perusahaan non profit yang tidak melihat itu, namun individu perusahaan yang dimaksud disini adalah perusahaan dengan aktivitas ekonomi.

Makroekonomi tidak membahas perilaku tentang maksimal utility ataupun maksimal keuntungan. Karena makroekonomi merupakan agregasi dari mikroekonomi, maka makroekonomi lebih membahas terhadap dampak dari keputusan individu atau perusahaan secara agregat. Misalnya adanya inflasi akibat kenaikan nilai mata uang, pendapatan domestik bruto yang riil maupun nominal, tingkat pengangguran ataupun suplly uang. Jadi, ketika membahas negara tidak membicarakan maksimal utility dan maksimal keuntungan. Melainkan bagaimana kondisi sebuah negara tersebut secara makro atas dasar keputusan dari individu secara makro.

Jadi saat membahas makroekonomi akan terlihat wajar apabila pemerintah memberikan bantuan secara cuma cuma atau biasa disingkat sebagai Bantuan Langsung Tunai dengan harapan menaikkan tingkat konsumsi masyarakat. Padahal jika dilihat dari sisi mikroekonomi, hal ini merupakan pemborosan. Contoh lain saving atau menabung secara sudut pandang mikroekonomi dan makroekonomi bisa saja berbeda. Secara mikroekonomi, saving atau menabung akan mendapatkan bunga pengembalian sehingga menguntungkan. Sedangkan secara makroekonomi, semua saving seharusnya sama dengan investasi. Jika berbeda antara saving dan investment akan menyebabkan saving investment gap yang akan menimbulkan defisit neraca perdagangan. Artinya saving yang tinggi belum tentu baik jika dilihat dari makroekonomi.

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *