BPS sudah merilis pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga mengalami pertumbuhan negatif dengan nilai sebesar -3.49 persen. Ini menandakan bahwa Indonesia mengalami masa resesi karena sudah dua kuartal berturut turut memiliki pertumbuhan ekonomi yang negatif.

Kondisi ini tentunya sudah diketahui penyebabnya akibat adanya pandemi yang melumpuhkan beberapa lapangan usaha akibat tidak mampu beroperasi atau terkena dampak tidak langsung akibat pandemi ini. Efek domino yang diingat di akhir tahun 2019 adalah pandemi ini menyerang sektor pariwisata terlebih dahulu karena turunnya angka wisata mancanegara maupun domestik. Hal ini menyebabkan sektor pariwisata mulai melambat di awal tahun 2020. Sektor ini cukup telak dengan memperlihatkan pertumbuhan negatif pada lapangan usaha akomodasi makan dan minum yakni -22.02 di kuartal kedua dan -11.86 dikuartal ketiga.

Akomodasi dan perhotelan dalam efek dominonya mempengaruhi penawaran stok pangan dimana saat itu seharusnya terjadi sedikit kelangkaan akibat adanya libur idul fitri. Kondisi ini biasanya banyak perusahaan melakukan stok untuk mneghadapi peak session yang biasanya menguras habis cadangan produk dan makanan di gudang penyimpanan distributor. Maka efek tersebut menjalar kepada bidang transportasi dan supply chain yang turun dengan menyentuh nilai pertumbuhan -30.8 di kuartal kedua dan naik sedikit menjadi -16.7 di  kuartal ketiga.

Karena penawaran berlebih karena rendahnya permintaan, maka perusahaan pun banyak mengalami kerugian atau dapat dikatakan mengalami kredit macet akibat penjualan yang tertunda. Produk yang seharusnya sudah menjadi uang, saat ini masih banyak  menumpuk di gudang. Otomatis perusahaan akan melakukan pengurangan produksi dengan cara meliburkan mesin produksi yang berimbas kepada pengurangan tenaga kerja. Hal ini tercermin pada pertumbuhan negatif di sektor industri, jasa perusahaan, dan perdagangan.

Indonesia resesi namun menunjukkan perbaikan

Jika dilihat dari perbandingan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua dan kuartal ketiga, maka terlihat memang ada perbaikan. Pada kuartal kedua mengalami -5.32 persen kemudian naik di kuartal ketiga menjadi -3.49 persen. Kabar ini semakin optimis karena adanya prediksi penemuan vaksin covid-19 yang akan menghentikan pandemi ini di akhir tahun 2020.

Selain itu di setiap sektor juga menunjukkan adanya perbaikan pertumbuhan. Artinya, peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terjadi pada satu atau dua sektor lapangan usaha saja. Pada contoh diatas seperti sekto akomodasi, transportasi sudah menunjukkan perbaikan pertumbuhan ekonomi. Hal ini lah yang menjadi alasan mengapa banyak pakar mengatakan bahwa Indonesia mengalami resesi, namun sudah melewati masa kritis dan akan segera pulih.

Melalui artikel ini akan dibahas sedikit tentang siapa yang terkena dampak resesi di kuartal dua dan tiga tersebut. Hal ini dimaksudkan kita akan memahami sebenarnya apakah resesi tersebut memang dirasakan nyata oleh masyarakat ataukah hanya angka ekonomi saja. Dikatakan angka ekonomi karena pertumbuhan ekonomi dihitung dengan nilai PDB (Produk Domestik Bruto) yang dihitung dengan mengalikan jumlah produk dan harga berlaku ataupun harga dasar. Penggunaan harga dasar biasanya untuk melihat jumlah PDB riil dengan menghilangkan tingkat inflasi.

Kelemahan perhitungan PDB adalah bahwa PDB tidak mencerminkan pemerataan pendapatan. Nilai pendapatan pada suatu subsektor mungkin saja memang mengalami pertumbuhan, tapi dimungkinkan juga ternyata pelaku usaha yang bergerak disubsektor tersebut sedikit sehingga peningkatan perekonomian hanya dinikmati oleh sebagian pelaku usaha saja.

jumlah penduduk bekerja

Oleh sebab itu, perlu adanya pembanding data pertumbuhan ekonomi tersebut dengan tenaga kerja yang berkecimpung di setiap lapangan usaha. Masih bersumber dari berita resmi statistik pada tanggal 5 November tentang keadaan ketenagakerjaan Indonesia, maka data pertumbuhan ekonomi disandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja di masing masing lapangan usaha. Hasilnya adalah tabel dalam gambar sebagai berikut:

Lapangan UsahaPersentase Penduduk yang bekerjaPertumbuhan ekonomi Q3
Pertanian29.762.15
Perdagangan19.23-5.03
Industri Pengolahan13.61-4.31
Akomodasi  makan dan minum6.65-11.86
konstruksi6.28-4.52
jasa lainnya4.99-5.55
 jasa pendidikan4.692.44
Transportasi dan pergudangan4.35-16.7
Administrasi pemerintahan3.561.86
Jasa kesehatan1.5615.33
Jasa perusahaan1.4-7.61
Jasa keuangan1.2-0.95
Pertambangan1.05-4.28
Informasi dan komunikasi0.7310.61
Pengadaan air0.386.04
Real Estate0.311.98
Pengadaan listrik dan gas0.24-2.44
128.45 juta
Persentase pekerja pertumbuhan ekonomi negatif59   persen
Persentase pekerja pertumbuhan ekonomi positif40.99   persen
sumber: BPS

Menurut BPS, jumlah penduduk Indonesia yang bekerja sebanyak 128.45 juta dengan persentase tertinggi bekerja di lapangan usaha pertanian yakni sekitar 29.76 persen kemudian disusul dengan perdagangan 19.23 persen, industri pengolahan 13.61 persen dan seterusnya.

Pada kolom ketiga merupakan informasi pertumbuhan ekonomi Q3 yang menandakan pertumbuhan positif atau negatif. Seperti contoh pada lapangan usaha pertanian, bahwa sekitar 38.22 juta penduduk yang bekerja di sektor pertanian tidak mengalami resesi karena pertumbuhannya positif. Sehingga dari lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif diakumulasikan dan diketahui sekitar 40.99 persen pekerja di Indonesia tidak terkena resesi. Sebaliknya lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif sebesar 59 persen atau sekitar 75.7 juta tenaga kerja terkena dampak resesi.

BPS sebenarnya sudah memberikan penjelasan secara spesifik tenaga kerja yang terimbas covid 19. Pada halaman 50 dari 51 halaman yang ditayangkan, terlihat bahwa pengangguran karena covid sekitar 2.56 juta orang. Selain itu ada tenaga kerja yang sementara dirumahkan sebesar 1.77 juta orang dan bekerja dengan pengurangan jam kerja sebesar 24.03 juta orang.

Jika melihat pemaparan tersebut, Indonesia memang sedang mengalami resesi karena hampir separuhnya (59 persen) pekerja di Indonesia berada di dalam lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan negatif.

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *