Bukan hal yang aneh saat kita melakukan sebuah usaha menjumpai permasalahan terutama menyangkut sumber daya. Hal ini memanglah lazim terjadi karena menyangkut kelangkaan sumber daya dan ketidakterbatasan keinginan manusia. Dalam hukum mikroekonomi, adanya kelangkaan sumber daya inilah yang menyebabkan manusia atau pelaku ekonomi melakukan pilihan pilihan yang tepat untuk membuat penyelesaian dalam permasalahan tersebut.

Mari kita buat dalam contoh yang lebih dipahami. Seorang petani mengeluhkan pupuk yang mahal, bibit yang sulit dicari, bantuan pemerintah yang tidak kunjung datang. Jika kita amati, kebutuhan pupk dan bibit adalah kebutuhan pokkok dalam berbudidaya. Hampir semua paham jika penggunaan benih yang unggul tentu akan menghasilkan produksi yang lebih baik. Begitupula dengan pupuk, penggunaan pupuk yang optimal akan menambah produktivitas lahan dalam memproduksi hasil tanaman.

Namun, perlu diketahu bahwa semua petani membutuhkan hal tersebut. Dalam statistik BPS disebutkan bahwa hampir 31,8 persen tenaga kerja di Indonesia adalah petani (sekitar 39,68 juta). Secara logika, kesemua petani tersebut pastinya membutuhkan bibit dan pupuk dalam berbudidaya. Tentu saja jumlah ini sulit untuk dipenuhi dengan pupuk bersubsidi atau bantuan benih yang dikeluarkan pemerintah. Gambaran contoh ini makin menguatkan teori ekonomi bahwa kebutuhan yang terus bertambah bahkan tidak terbatas menghadapi sumber daya yang semakin terbatas.

Berbicara sumber daya, ada satu contoh lagi yang masih sangat relevan dalam topik ini, yakni lahan. Konversi lahan yang terus terjadi akibat nilai tambah pertanian tidak bersaing dengan nilai tambah sektor industri, kos kosan atau sekedar menjadi tempat rental warung internet di masa 90-an. Pada akhirnya pilihan logis dan ekonomis, banyak sawah di pinggri perkotaan menjadi perumahan untuk memenuhi kebutuhan penduduk perkotaan yang semakin padat dan nilai tanah yang semakin mahal.

Jika tanpa solusi, tentu pertanian hanyalah sebatas cerita di lahan lahan yang produktiv bahkan rawa dan lahan bekas tambang, bahkan sekarang pernah mendengar pertanian di lahan pantai. Hal ini dikatakan menjadi solusi terhadap berkurangnya lahan produktif yang pernah ada. Pertanyaannya adalah: berapa biaya yang diperlukan untuk menjadikan lahan yang awalnya non produktiv (rawa, gambut, dan pantai) menjadi lahan yang produktiv? Itu sangat mahal. Bahkan lahan sawah yang benar benar sawah di luar jawa sampai saat ini belum bisa menyamai produktivitas lahan pertanian di Jawa.

Lalu bagaimana solusi terhadap kelangkaan ini? Jawaban yang masih masuk akal adalah menggunakan inovasi. Inovasi menurut KBBI adalah menemukan hal yang baru. Inovasi pada versi “wah” nya seperti video yang tersebar di media sosial, yakni pertanaman di gedung, pertanaman di perkotaan, vertikultur di perhotelan, dan lain – lain. Mungkin banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk mewujudkan itu semua. Padahal, jangan melihat bahwa inovasi itu tidak bisa diraih. Berdasarkan permasalahan diatas, tentu bukan jenis inovasi ini yang dibutuhkan petani mayoritas di indonesia. Melainkan bagaimana cara mengganti pupuk yang langka, bagaimana bisa menyediakan benih secara mandiri, bagaiamana bisa menggunakan bahan bahan sekitar untuk dijadikan obat obatan, bagaimana bisa meningkatkan produktivitas lahan seiring persaingan penggunaan lahan di sektor yang lain.

Contoh dari inovasi yang disebutkan di paragraf diatas sudah sangat buanyak di internet. Baik yang sudah dilakukan dan disebarluaskan oleh pemerintah, maupun didengungkan oleh petani yang sudah berpengalaman. Selian materi, banyak juga contoh yang sudah terbukti berhasil secara mandiri. Ada petani yang berhasil membudidayakan padi, cabai, dan kambing dalam satu hamparan yang sama. Ada juga petani yang berhasil membuat hidroponik, ada juga petani yang berhasil membangun ternak ayam, dan lain – lain sebagainya.

Jadi, keberhasilan suatu usaha tetap kembali kepada pelaku usaha tersebut. Bagaimana dia mengatasi permasalahan kelangkaan input dan sumber daya disaat ada pertimbangan untuk menjual sawahnya menjadi perumahan atau berubah profesi lain yang lebih menjamin dengan gaji bulanan.

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *