Maluku memiliki luas lahan kering yang sangat potensial dikembangkan beberapa tanaman pangan dan hortikultura, salah satunya bawang merah. Pada tahun 2018 yang lalu kebetulan saya memimpin tim penelitian tentang bawang merah. Pada intinya kegiatan ini adalah kegiatan sosial ekonomi yang membahas tentang daya saing bawang merah. Tapi sebagai tambahan untuk melengkapi paket penelitian, kami melakukan kajian adaptasi varietas bawang merah di Maluku.

Pada pengkajian adaptasi varietas unggul baru pada awalnya kami menggunakan dua metode yang berbeda, yakni penggunaan benih biji bawang merah atau TSS dan pertumbuhan dengan menggunakan umbi. Namun, sepertinya penggunaan TSS perlu dilakukan pengkajian khusus karena hal yang kami jumpai adalah sangat sulit membudidayakannya. Alhasil, kajian adaptasi tetap dilanjutkan dengan menggunakan pertumbuhan umbi. Hasilnya cukup memuaskan dan sudah sering saya share di blog ini.

Apa Itu Daya Saing?

Jujur saya katakan saat pertama kali membuat proposal kajian ini adalah ketergantungan Maluku terhadap Pulau Jawa dan Makasar masih cukup tinggi. Ini disebabkan karena adanya perbedaan ongkos produksi yang kurang efisien di Maluku sehingga tidak bisa bersaing dengan produk hortikultura dari daerah luar. Itu merupakan asumsi awal sebelum saya menjumpai langsung petani petani bawang merah.

Dalam dunia bisnis pertanian, ada banyak hal yang membatasi ruang gerak pelaku bisnis. Pertama, produk pertanian terutama hortikultura bersifat perishable dan bulky. Keterbatasan masa simpan membuat pelaku bisnis tidak bisa menyimpan dalam jangka waktu lama sedangkan barang harus terjual untuk menutupi biaya produksi. Lewat satu bulan saja, bawang merah akan membusuk dan harganya akan langsung turun sehingga petani akan mengalami kerugian.

Kedua, bawang merah termasuk dalam persaingan yang sempurna, meskipun pasar sempurna yang benar benar sempurna itu tidak ada didunia ini. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa bawang merah produknya sama dari daerah satu dan daerah lainnya. Hal ini menimbulkan tambahan panen dari daerah satu akan mempengaruhi kestabilan harga dengan asumsi tidak ada masalah transportasi dan cateris paribus tentunya. Cateris paribus adalah asumsi dimana kondisi diluar itu dianggap konstan.

Ketiga, produk hortikultura khususnya bawang merah sangat sangat sangat bergantung kepada alam terutama musim hujan.  Disamping adanya kajian bawang merah di luar musim, namun biaya atau cost dari budidaya diluar musim ini beresiko dan mahal biayanya. Bawang merah juga rentan terserang penyakit jika dilakukan pada musim hujan.

Dari ketiga faktor tersebut tentunya petani yang mampu bersaing dalam arti mampu memproduksi bawang merah dengan menekan biaya akan mendapatkan penerimaan yang lebih tinggi dibandingkan petani yang tidak memperhatikan efisiensi biaya. Inilah yang dimaksud dengan daya saing.

Secara teori, yang sudah dijelaskan dalam artikel ini PENGANTAR POLICY ANALYSIS MATRIKS [PAM], daya saing terbagi menjadi dua, daya saing komparatif dan daya saing kompetitif. Pembeda keduanya adalah subsidi dari pemerintah. Daya saing kompetitif menghitung keunggulan dengan menggunakan private price, yang bisa diartikan secara awam berapa jumlah biaya dan penerimaan yang diterima oleh petani saat membudidayakan bawang merah.

Berbeda dengan daya saing kompetitif, daya saing komparatif menghitung perbandingan efisiensi bawang merah dibandingkan usahatani di daerah lain dengan menggunakan biaya dan penerimaan ‘seharusnya’, atau biasa dikenal sebagai social price. Jadi dalam perhitungan ini semua subsidi dicabut dan barrier dalam transportasi atau perkapalan juga dihilangkan. Indikator indikator lengkapnya bisa dibaca di artikel berikut: Indikator penting dalam Policy Analysis matrix

Cerita di balik artikel daya saing bawang merah Maluku

Menginjak kaki di Tual, salah satu lokasi penelitian bawang merah ini, kesan pertama adalah wilayah ini begitu indah. Bila anda sempat mampir kesini, berkunjunglah di pantai panjang. Mata kita akan disuguhi pemandangan yang wow.. tidak bisa saya jelaskan dengan kata dan saya sampai sekarang masih sulit menjelaskan kepada orang lain tentang suatu hal yang indah. Menunjukkan photo pun terkadang mereka belum percaya sebelum melihatnya langsung.

menikmati pantai setelah penelitian bawang merah

Oke, fokus kepada cerita penelitian. Kami datang ke Kabupaten Maluku Tenggara yang saat itu pemerintah dinas sedang melakukan pengembangan bawang merah. Bawang merah yang dihasilkan sangat berkualitas karena iklim panas yang mendukung. Hambatan yang dimilikii adalah ketersediaan air, semoga saat tulisan ini dibuat sudah ada solusinya. Karena pada saat itu bahkan sumur bor yang dibuat tetap tidak mengeluarkan air.

Satu hal yang pasti, antusias petani sangat tinggi dalam mengembangkan bawang merah ini. Keramahan kami rasakan saat mulai bertanya dalam kuesioner kuesioner yang sudah kami susun jauh secara komprehensif. Suasana hari iu sangat cerah dengan langit yang sangat membiru. Memang itu sebabnya pemenadangan pantainya sangat indah sekali, air yang jernih, pasir yang lembut selembut tepung. Wah, kenapa membahas pantai lagi ya….

Setelah dua hari kami di lapangan dengan menelusuri beberapa kelompok tani, kami selanjutnya survei ke pasar. Kami dapati “bawang merah tual”, begitu istilah mereka menyebut bawang lokal, sudah banyak diperdagangkan di pasar bersaing dengan bawang merah dari Jawa,  khususnya Surabaya. Tidak hanya penjual bawang merah lokal yang terkena jurus rayu panelis yang bertanya dengan membeli bawang sebagai imbalan jawaban yang diberikan, melainkan juga pedagang bawang merah dari surabaya juga kami tergetkan untuk mengetahui berapa kisaran harga mendatangkan bawang itu dari Surabaya. Usut punya usut memang pedagang atau pengusaha lebih tepatnya berani mendatangkan bawang merah dengan partai yang besar untuk menekan efisiensinya.

Ada hal yang menarik saat berbincang dengan Kepala Dinas pertanian, bahwa perbedaan musim bisa dimanfaatkan untuk dapat menjaga stabilitas harga bawang merah. Musim yang bisa digunakan untuk menanam bawnag merah adalah akhir musim hujan dan akhir musim kemarau. Ini untuk menghindari puncak musim hujan dan puncak musim kemarau yang bisa menggagalkan panen. Hal ini penting karena saat wilayah jawa sedang mengalami musim hujan, biasanya harga bawang melonjak tinggi hingga 40 ribu perkilo. Pada saat itu, petani lokal bisa membudidayakan bawang merah lokal dan dapat meningkatkan keuntungannya.

Itulah cerita tentang pengalaman berkunjung ke Tual dan Maluku Tenggara saat melakukan penelitian bawang merah yang hasil artikel itu bisa dilihat atau didownload pada link di bawah ini:

Daya saing bawang merah Provinsi Maluku dan Upaya Peningkatannya

Terima kasih sudah berkunjung.

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *