Penjelasan inflasi dan stagflasi

Diposting pada

Inflasi dan stagflasi merupakan keadaan pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Perlunya mengetahui dan memahami pengertian inflasi dan stagflasi agar pengusaha bisa menyikapi dengan bijak dalam menentukan strategi mereka dalam kondisi inflasi atau stagflasi.

Inflasi adalah suatu kondisi kenaikan harga barang secara umum karena berkurangnya nilai mata uang. Inflasi bisa disebabkan karena pertumbuhan ekonomi atau penyebab inflasi lainnya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan optimisme pelaku ekonomi meningkat, diiringi juga peningkatan permintaan menyebabkan kenaikan harga barang secara umum. Tidak heran jika inflasi di negara berkembang lebih tinggi dari negara kaya, karena slope atau kemiringan tingkat pertumbuhan lebih tinggi dibanding negara yang sudah maju, kurva lebih landai.

Inflasi biasanya disandingkan dengan deflasi yakni kondisi resesi atau pertumbuhan ekonomi yang minus. Pada kondisi deflasi terjadi peningkatan nilai mata uang karena terjadi penurunan harga. Resesi bisa menyebabkan pengangguran karena pelaku ekonomi terutama perusahaan mengurangi produksi seiring terjadinya perlambatan ekonomi. Contoh resesi yang baru saja terlihat di depan mata adalah masa covid-19 tahun 2019. Karena terjadi pembatasan besar-besaran baik barang ataupun masyarakat, terjadi penurunan produksi “secara paksa” yang menyebabkan turunnya produksi. Jika perusahaan memaksakan produksi dalam kondisi normal, justru akan mengalami kerugian yang parah karena terjadi penumpukan barang (biaya logistik tinggi), seiring turunnya daya beli masyarakat karena kebijakan work from home dan pembatasan aktivitas masyarakat.

Setelah kondisi resesi berakhir dalam arti pandemi covid-19 dapat diatasi, maka animo pengusaha dan pelaku ekonomi lainnya menjadi tinggi untuk dapat beraktivitas normal kembali. Aktivitas tersebut meliputi aktivitas ekonomi yang menimbulkan permintaan mendadak tinggi. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi melejit sehingga terjadi inflasi atau kenaikan harga secara umum. Lalu mengapa terjadi stagflasi saat terjadi inflasi?

Mengapa bisa terjadi inflasi dan stagflasi?

Inflasi yang terlalu tinggi tidak terlalu baik bagi perekonomian terutama di bidang moneter. Ekonomi yang optimis akan membutuhkan transaksi ekonomi yang tinggi. Hal ini menyebabkan kebutuhan uang atau permintaan uang akan meningkat, uang yang beredar akan meningkat, sehingga menyebabkan inflasi. Inflasi akan menurunkan nilai mata uang karena permintaan uang tersebut. Penurunan mata uang akan berefek secara langsung terhadap perdagangan internasional karena harus membayar lebih mahal mata uang asing, terlebih jika memiliki hutang yang tinggi dalam bentuk mata uang asing.

Oleh sebab itu, untuk menyeimbangkan nilai mata uang, bank sentral yang mengatur peredaran dan jumlah mata uang akan menaikkan suku bunga. Kebijakan ini diambil dengan harapan bahwa jika suku bunga di bank lebih tinggi dari sektor real, maka masyarakat tetap ingin menjaga uang mereka di bank sehingga uang yang keluar dari bank bisa sedikit dicegah. Perlu diketahui bagi pelaku ekonomi yang berpikir realistis, jika bunga bank masih lebih tinggi dari bunga di sektor real, maka mereka lebih memilih menyimpan uangnya dibank. Sebaliknya jika bunga sektor real lebih menguntungkan dari bunga bank, maka mereka lebih memilih menarik uangnya untuk diputar di sektor real.

Kondisi diatas merupakan gambaran kontraksi dari inflasi yang terjadi. Jika inflasi terjadi secara normal dan perlahan, peristiwa kontraksi ekonomi tersebut tidak terlalu dirasakan. Namun jika terjadi inflasi secara mendadak, drastis, dan cepat, maka kontraksi ekonomi tersebut bisa terjadi secara bersamaan dengan inflasi. Hal itulah yang disebut sebagai stagflasi. Stagflasi adalah kondisi perekonomian dimana inflasi dan kontraksi ekonomi terjadi secara bersamaan.

Apa dampak stagflasi?

Pertanyaan ini bisa terjawab dengan menggambarkan dua kondisi inflasi yang terjadi. Kondisi pertama, inflasi yang disebabkan oleh pergerakan sektor real. Artinya, inflasi tersebut memang terjadi karena aktivitas ekonomi masyarakat suatu negara. Ibaratnya, uang yang diperoleh memang hasil kerja keras keringat sendiri.  Maka kondisi stagflasi hanya akan mengoreksi tingkat inflasi. Artinya dalam kondisi yang sangat optimis, pelaku ekonomi dapat diredam dengan naiknya tingkat suku bunga. Kondisi ini akan menyebabkan harga tinggi tapi langka karena respon ekonomi yang lambat. Namun itu terjadi singkat karena pelaku usaha dapat menyesuaikan kondisinya karena iklim ekonomi berada dalam situasi yang optimis.

Kondisi kedua, inflasi disebabkan oleh faktor luar, misalnya kejadian diluar negeri atau kelangkaan barang dari luar negeri yang berimbas kepada naiknya harga barang di dalam negeri. Sebut saja misalnya kelangkaan energi (gas atau minyak) karena embargo sebuah negara. Biaya produksi naik karena mencari alternatif energi lain, berimbas kepada naiknya harga. Inflasi menyebabkan naiknya permintaan uang yang beredar, tapi bukan karena aktivitas ekonomi real, melainkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Jika kondisi ini yang terjadi, saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk menetralkan uang yang keluar, yang terjadi adalah terjadi inflasi dan pengangguran secara bersamaan.

Kondisi ini agak unik karena biasanya kenaikan harga dan pengangguran terjadi di periode yang berbeda. naiknya harga terjadi saat inflasi, pengangguran terjadi saat resesi atau deflasi. Saat stagflasi, keduanya terjadi bersamaan. Hal ini karena inflasi yang terjadi bukan disebabkan aktivitas ekonomi real, melainkan karena dampak dari faktor eksternal. Disaat harga tinggi, aktivitas ekonomi tetap, bank sentral menaikkan suku bunga, menghasilkan penurunan ekonomi. Alhasil, pengangguran terjadi karena perusahaan mengurangi produksinya.

Pentingnya kemandirian bangsa

Melihat kejadian diatas, maka perlu kesadaran tentang kemandirian ekonomi suatu bangsa. Kemandirian tersbeut bisa meliputi kemandirian energi dan kemandirian pangan yang merupakan pondasi dari aktivitas ekonomi. Sebaik apapun pertumbuhan ekonomi tetapi jika dasarnya bergantung kepada negara lain, maka perekonomian yang dibangun akan rapuh dan mudah digoyang oleh kondisi global.

Faktor kemandirian ini justru dirasakan pentingnya saat era globalisasi melanda. Pertempuran daya saing komoditas pertanian antara para produsen dapat dimenangi oleh negara yang memiliki efisiensi yang tinggi. Hal ini menimbulkan terjadi sentra sentra produksi di negara tertentu karena lebih efisien yang bisa menyebabkan komoditas yang sama di negara lain tertekan. Contoh, komoditas kedelai. Saat kedelai impor lebih sangat murah, lambat laun dan sangat terlihat kedelai dalam negeri tidak terdengar lagi. Kondisi menjadi ketergantungan ini yang cukup berbahaya karena mengikis kemandirian dan kedualatan pangan.

Terima kasih

Gambar Gravatar
Data analyst sekaligus researcher. Pernah mendalami production scheduling dalam manufacture. Melalui blog ini menyalurkan hobi menjadi statistical consulting dan menghimpun statistical process control software.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *