Tips Membuat Kuesioner

Notifikasi group whatsapp berdering, beberapa menginfokan bahwa dalam waktu dua hari diminta untuk membuat kuesioner sebagai bahan tambahan publikasi untuk tahun depan. Rasanya memang memberatkan untuk merangkai kuesioner terlebih model penelitiannya adalah hal yang baru.

Belum juga dimulai niat membuat kuesioner sebagai jawaban atas permintaan tersebut, siang ini masuk lagi tamu yang awalnya berniat diskusi penelitian, namun ujung ujungnya meminta tolong membuat konsep kuesioner. Meskipun berbeda dengan kegiatan sebelumnya, tetap saja kuesioner terkadang menjadi beban awal penelitian dan sebenarnya tidak bagus jika hanya melimpahkan kepada satu orang saja

Kuesioner sebenarnya hanya satu dari beberapa alat untuk menangkap data. Alat yang lain seperti FGD, pengamatan, dan wawancara. Namun karena kuesioner ini memiliki kelebihan dari instrumen yang lain, maka kuesioner begitu populer dalam ilmu sosial dan ekonomi.

Kelebihan kuesioner

Kelebihan kuesioner pertama adalah terstruktur dan sistematis. Kuesioner sudah dikonsep mengikuti strukturisasi dari peneliti sehingga tidak ada informasi yang tertinggal dari narasumber atau responden nantinya. Kuesioner sebenarnya ada juga yang hanya menjadi pedoman enumerator dan enumerator yang mengembangkan pertanyaan saat wawancara dengan responden. Namun tetap saja kuesioner menjadi pedoman bagi pertanyaan enumerator tersebut. Layaknya acara tukul arwana yang saat ini sudah tidak ada, kuesioner seolah ditujukan dengan ungkapan “kembali ke laptop

Penyusunan kuesioner yang sistematis dan disusun baik tidak memungkinkan informasi yang tertinggal. Bayangkan saja berapa biaya yang harus dikorbankan jika ternyata ada informasi yang tertinggal sehingga harus turun lapang lagi?

Kelebihan kedua dari kuesioner adalah penyusunannya berdasarkan teori. Kuesioner yang lebih banyak digunakan pada penelitian kuantitatif, diturunkan dari teori yang menjadi variabel variabel. Pertanyaan yang mengacu kepada variabel tersebut tertuang dalam kuesioner. Dampaknya saat penelitian, instrumen tersebut sudah menyesuaikan dengan teori yang ada sehingga tidak dikhawatirkan akan berkembang saat turun di lapangan mencari data. Berbeda dengan penelitian kualitatif dengan pertanyaan wawancara terbuka, pengembangan terhadap pertanyaan bisa berkembang bergantung kepada pengetahuan responden.

Ketiga, kuesioner meringkas pekerjaan. Terkadang dilapangan menjumpai FGD yang cenderung menyukai topik tertentu sehingga pembahasannya habis di topik itu saja. Padahal ada bagian lain yang perlu didalami. Inilah fungsi kuesioner dengan pertanyaan pertanyaan tertutup. Enumerator biasanya segera memotong pembicaraan karena sudah cukup mengerti tentang informasi responden untuk selanjutnya menanyakan pertanyaan berikutnya.

Kelebihan kuesioner yang teetuang diatas tentu menghasilkan resiko. Resikonya peneliti harus menyiapkan kuesioner yang baik agar sesuai dengan tujuan, mencakup seluruh topik, meringkasnya seefektif mungkin. Sehingga dalam merancang kuesioner perlu memperhatikan teori, efektif pertanyaan, dan kelengkapan data pendukungnya.

Membuat kuesioner yang baik

Membuat kuesioner yang baik harus disertai dengan teori jika penelitiannya berupa penelitian kuantitatif. Dari teori kemudian diturunkan menjadi variabel, kemudian menjadi indikator dan berbuah menjadi pertanyaan. Kalimat kuesioner harus mudah dipahami jika kuesioner nantinya dibaca oleh responden. Tapi jika kuesionernya hanya menjadi pegangan enumerator, sebaiknya satu demi satu pertanyaan memiliki persepsi yang sama di dalam satu tim penelitian.

Trik dalam membuat kuesioner selanjutnya adalah menggunakan kalimat tanya aktif yang cenderung tertutup. Misalnya “berapa umur anda?, Sistem tanam yang anda gunakan?”. Hal ini akan memudahkan penginputan data dan pengkodingan nantinya. Apalagi penelitian kuantitatif yang mengandalkan skala kontinue, tentu setiap jawaban akan dikonversi menjadi angka.

Hal yang sulit akan anda jumpai jika anda melakukan pertanyaan terbuka dan cenderung meminta penjelasan, seperti “mengapa anda menggunakan sistem tanam pindah?”. Selain kesulitan pengkodingan nantinya, biasanya jawabannya akan bervariasi dan spss belum bisa mengolah data essai. Pertanyaan terbuka lebih ditekankan kepada penjelasan deskriptif yang dibutuhkan untuk menjelasakan anomali data atau karakteristik data/responden.

Trik selanjutnya dalam membuat kuesioner, jika ada pertanyaan yang bisa membuat skala data rasio, maka jangan sesekali mengubahnya langsung menjadi skala nominal. Hal ini karena skala rasio adalah skala tertinggi yang nantinya akan mudah dikonversi ke skala yang lebih rendah. Sebaliknya skala nominal atau ordinal tidak bisa dikonversi menjadi skala rasio. Sehingga jika ada kecenderungan pertanyaan bisa menghasilkan data rasio, maka usahakan tetap rasio.

Misal pertanyaan : berapa lama pendidikan anda? Jawabannya dalan satuan tahun itu akan menghasilkan jawaban rasio. Tapi jika langsung kita berikan isian pilihan ganda SD, SMP, SLTA, PT, maka jawaban yang kita peroleh akan menjadi data skala ordinal. Mengenai bagaimana nantinya data itu akan ditampilkan itu persoalan yang berbeda. Data skala rasio lebih mudah dikonversi menjadi skala di bawahnya dengan pengelompokkan ataupun pengolahan lainnya.

Demikian beberapa trik dalam pembuatan kuesioner. Penulis bukannya mengerjakan pesanan kuesioner malah menulis trik ini untuk anda. Video dibawah ini adalah contoh pembuatan kuesioner untuk kepuasan pelanggan.

x
Membuat kuesioner untuk menghitung Kepuasan Pelanggan / CSI dan Fishbein

By Agung

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *