Home » Pekarangan » Usahatani » Tiga Type Curah Hujan di Indonesia

Tiga Type Curah Hujan di Indonesia


Berbicara mengenai produksi pertanian, biasanya berbicara tentang makhluk hidup baik tumbuhan maupun hewan atau ternak. Keduanya sangat membutuhkan air dalam perkembangannya, sehingga biasanya produksi pertanian sangat dikaitkan dengan curah hujan.

Wilayah yang memiliki curah hujan yang rendah biasanya memiliki tanaman semacam ilalang dengan karakter tanah yang telah mengeras. Ekosistem yang terbentuk juga sangat berpengaruh kepada tinggi rendahnya curah hujan.

Pertanian dalam lingkup tanaman sendiri terbagi dalam berbagai sub sektor; tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan. Tanaman perkebunan umumnya adalah tanaman tahunan. Hal ini berpengaruh kepada perkembangan tanaman dalam jangka panjang sehingga kekeringan yang dialami satu dua bulan tidak begitu mempengaruhi produksi tanaman perkebunan. Secara fisologis, tanaman perkebunan juga memiliki akar yang panjang sehingga taham terhadap kekeringan di permukaan tanah.

Berbeda dengan tanaman perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura merupakan tanaman semusim. Satu minggu saja terkena hujan terus menerus, biasanya petani menderita kerugian akibat gagal panen. Satu bulan dilanda kekeringan, petani juga akan mengalami kerugian akibat tanaman yang mati. Maka, biasanya penelitian dilakukan untuk mengurangi dampak anomali iklim terutama untuk tanaman semusim seperti tanaman pangan dan hortikultura.

Komponen iklim biasanya berupa curah hujan dan suhu. Umum terdengar bahwa bulan januari hingga februari merupakan bulan musim hujan karena biasanya berita menyajikan informasi banjir di berbagai daerah. Tapi, ternyata Indonesia memiliki tiga jenis curah hujan yang berbeda. Perbedaan curah hujan ini tentunya akan mempengaruhi perkembangan produksi pertanian di wilayahnya masing masing.

Perbedaan tipe curah hujan disebabkan karena letak geografis Indonesia yang berada di dua benua dan dua samudera. Tentu anda sering mendengar adanya angin monsun yang datang dari utara atau selatan akibat kemiringan bumi. Hal itu membuat Indonesia memiliki dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau.

Ketiga tipe curah hujan itu adalah tipe ekuatorial, tipe monsun, dan tipe lokal. Kebetulan penulis artikel ini sudah merasakan secara langsung perbedaan ketiga curah hujan tersebut.

Tipe ekuatorial memiliki dua puncak curah hujan yakni biasanya maret dan oktober. Tipe ini memiliki curah hujan yang tinggi dibandingkan lainnya. Atau dapat dikatakan meskipun memasuki musim kemarau, hujan pasti ada sehingga tidak terasa apakah sedang musim hujan atau musim kemarau. Daerah yang bertipe curah hujan ekuatorial berada di bagian utara Indonesia seperto Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan lain lain.

Berbeda dengan tipe ekuatorial, tipe monsun memiliki kondisi yang ekstreem. Saat musim hujan curah hujannya tinggi hingga bisa banjir, saat musim kemarau jumlah curah hujan bisa saja tidak mencapai 100 mm perbulannya. Inilah yang sering diberitakan karena wilayah jawa kesemuanya bertipe monsun. Curah hujan tertinggi biasanya di bulan Februari dan Musim kemarau puncaknya sekitar Bulan Oktober.

Tipe hujan terakhir adalah tipe lokal. Tipe hujan yang satu ini memiliki ciri yang berkebalikan dengan tipe monsun. Saat wilayah monsun mengalami musim hujan, justru wilayah dengan tipe lokal mengalami kemarau. Sebaliknya saat wilayah monsun mengalami musim kemarau, wilayah lokal ini mengalami musim hujan. Daerah yang memiliki tipe ini tidak banyak, hanya sebagian Provinsi Maluku tepatnya di sebelah selatan.

Mengapa mempelajari tipe curah hujan menjadi penting? Menurut pendapat penulis, dari pada melakukan rekayasa lingkungan lebih baik memahami dengan baik kondisi lingkungan yang sudah disediakan sehingga dapat menurunkan biaya. Pengembangan pertanian baik tanaman pangan maupun hortikultura mungkin bisa disesuaikan dengan kondisi tipe curah hujan di wilayahnya masing – masing.

Selain melakukan diseminasi teknologi, penyebaran informasi mengenai pemanfaatan cuaca untuk menentukan waktu tanam menjadi penting untuk mengurangi kerugian akibat perubahan iklim.

Selamat belajar!

Like this article? Dont keep this to yourself!


One response to “Tiga Type Curah Hujan di Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published.