Home » Pojok Statistik » Dasar Stat » Kuantitatif lebih baik daripada kualitatif

Kuantitatif lebih baik daripada kualitatif


Judul artikel ini cenderung memancing di air yang keruh. Disaat semua sedang menjunjung tinggi perbedaan pendapat, justru artikel ini secara tegas menyatakan bahwa kuantitatif lebih baik daripada kualitatif. Tapi sabar dulu, mari kita simak penjelasan singkat mengapa bisa terjadi judul yang sepertinya melabrak pakem yang ada.

Saya terkadang terlalu bersemangat dalam mengikuti pertandingan badminton. Apalagi jika bukan mendukung pemain badminton dari Indonesia. Perasaan menang atau kalah campur aduk ditambah perasaan tegang selama pertandingan. Apalagi jika skornya terus saling susul menyusul. Terkadang dengan reflek berteriak yang bisa mengagetkan kucing sedang tidur.

Paragraf diatas tidak salah tulis. Sebenarnya topik yang akan dibahas adalah setelah kejadian pertandingan badminton tersebut. Biasanya, dan sangat sering terjadi saya akan membuka twitter untuk melihat bagaimana respon netizen dalam berkomentar. Satu lagi, apalagi jika pertandingannya itu Indonesia melawan Malaysia. Selalu dinantikan dan seperti ada pesan ghaib bahwa harus menang dengan negara tetangga satu ini. Persaingan yang sangat sehat antar negara bertetangga.

Misalnya pada satu pertandingan Indonesia memang berhasil menang terhadap lawannya. Komentar netizen selalu beragam, ada yang mendukung Indonesia atau ada juga yang tetap mendukung lawan, bahkan ada juga yang menyalahkan pemerintah atau pelatih.

Saya menganggapnya data kemenangan Indonesia pada contoh tersebut adalah suatu data kuantitatif, sedangkan komentar para netizen adalah data kualitatif. Ibarat saya mendapat nilai ulangan 100, komentar netizen mungkin saja adalah penjelasan mengapa saya mendapat nilai 100.

Itu hanya sebatas contoh pertandingan badminton. Contoh yang lebih berani lagi adalah raport pemerintah. wah, klo sudah berbicara ini seperti berdebat pemilu. Satu sisi akan selalu mendukung pemerintah dan menutupi alasan mengapa pemerintah belum berhasil menyelesaikan suatu permasalahan bangsa. Di satu sisi, ada saja kelompok yang selalu menyalahkan pemerintah meskipun data semua sudah dikeluarkan. Sebagai contoh: klaim indonesia sudah tidak impor beras. Meskipun data sudah menunjukkan adanya penurunan drastis impor beras sejak tahun 2018, tetap saja ada yang bersikukuh bahwa Indonesia masih impor beras dan data itu belum cukup.

Fenomena ini memberikan saya sedikit argumen bahwa kuantitatif lebih baik dibandingkan kualitatif. saya tidak mengatakan penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif, karena itu sudah pernah saya tuliskan pada artikel penelitian kualitatif dan kuantitatif di mata peneliti sosial ekonomi.

Ketika kita menjumpai fenomena seperti kejadian diatas, sebaiknya kita mengambil intisari datanya terlebih dahulu bahwa Indonesia menang, dan terjadi penurunan impor beras. Kita sebut itu sebagai informasi kuantitatif. Sedangkan perdebatan yang mengikutinya bisa kita setujui dan bisa juga tidak, tergantung dari perspektif masing masing.

Berbicara tentang perspektif saya teringat cerita tentang tiga orang buta yang memegang seekor gajah. Satu orang buta memegang belalai gajah dan berkata “ternyata gajah itu panjang dan lonjong” . Seorang lainnya memegang telinga gajah dan berkata “bukan, gajah itu pipih dan lebar”. Satu orang buta terakhir memegang ekor gajah dan secara meyakinkan berteriak “kalian salah semua, gajah itu seperti tali yang ujungnya berambut”.

Baik, cukup dulu ceritanya. Saya akan mengulas alasan mengapa kuantitatif lebih baik daripada kualitatif.

Kuantitatif mudah terukur

Ketika saya mengatakan 5 dari pilihan angka 1 hingga 10, maka sudah dipastikan nilai tersebut adalah nilai pertengahan dari angka maksimal. Cukup mudah untuk menjelaskan mengapa kuantitatif mudah terukur.

Sangking mudahnya dan egoisnya, biasanya saya juga akan menanyakan untuk sebuah pertanyaan “seberapa paham anda terhadap materi yang diberikan”, berikan nilai antara 1 hingga 10. Padahal, dalam persepsi responden nilai 10 yang dipahaminya belum tentu sama dengan nilai 10 yang dipahami oleh penanya. Semua itu dilakukan agar penanya memperoleh data kuantitatif.

“seberapa sering hujan turun?” jawaban hujan akan turun di malam hari dan merata sepanjang tahun karena tipe hujan ekuatorial, akan sulit ditulis dibanding menjawab 3 dari 5 atau cukup sering.

Kuantitatif mudah dianalisis

satu ditambah satu sama dengan dua, mudah bagi anak IPA. Tapi klo anak IPS, satu ditambah satu bisa dua, tiga, empat, dan seterusnya. Itu sedikit kenangan cerita guru SMU menerangkan tentang perbedaan IPA dan IPS. Faktanya, seorang laki laki yang menikahi seorang perempuan (satu ditambah satu), bisa saja dikaruniai satu anak, dua anak, tiga anak, hingga belasan anak. Tentu saja saya yang saat itu adalah anak IPA tidak setuju dengan penjelasan guru tersebut. Bagaimana mungkin kalimat matematika dihubungkan dengan proses biologis?

Cerita itu menggambarkan bahwa kuantitatif memiliki rumus yang lebih kaku dibanding kualitatif. Saya yang kebetulan kuliah ternyata di jurusan campuran IPA dan IPS dan bekerja juga di bagian sosial ekonomi, hingga saat ini masih sulit berkomunikasi dengan seseorang yang lulus dari keilmuan IPA murni. Terkadang saya berpikir orang tersebut sangat kaku, sebaliknya mereka berpendapat saya sering menabrak ketentuan yang sudah ditetapkan.

Data kualitatif bahkan (lagi) harus dibuatkan data kuantitatif agar bisa diolah. Padahal, menjumlahkan skor persepsi sebenarnya tidak menggambarkan persepsi dari individu pada sebuah kelompok. Persepsi bukanlah perhitungan suara pada pemilu. Persepsi adalah pengetahuan seseorang terhadap sesuatu yang didasari oleh latar belakang baik pendidikan, pengalaman, ataupun lingkungan. Persepsi mungkin bisa dikelompokkan tapi merubahnya menjadi kalimat matematik itu sama saja satu ditambah satu versi anak IPS.

Kuantitatif memiliki skala pengukuran

Statistik memiliki skala pengukuran nominal, ordinal, interval dan rasio. empat skala pengukuran yang bisa mendasari alat analisis yang berbeda. Saya tidak akan membahas ini karena sama saja harus balik lagi ke dasar statistik.

Globalisasi Sistem Informasi

Nah, alasan terakhir ini adalah point utama pada artikel ini. Berdasarkan contoh yang cukup relevan di awal tadi (menurut saya), kemajuan sistem informasi yang mengglobal menjadikan kita harus bijak mengambil sebuah informasi. Ada baiknya kita mendahulukan informasi yang bersifat kuantitatif terlebih dahulu. Misalnya kita memperoleh data pertumbuhan ekonomi, berapa persen peningkatannya? dari sektor apa? dan berapa nilai GDPnya.

Atau informasi seperti siapa yang menang pemilu? berapa persen perolehannya? baru kita mencari informasi kualitatifnya seperti mengapa dia bisa menang? Adakah black campaign selama kampanye? dan seterusnya.

Mengapa ini saya sangkutkan dengan globalisasi? karena meskipun informasi sudah mengglobal, kita bisa mengakses informasi dari kutub selatan sekalipun, biasanya yang terjadi data kuantitatif tetap begitu adanya; dia akan berupa angka atau suatu pengukuran, atau pencapaian. sedangkan informasi yang bersifat kualitatif tetap akan dipengaruhi oleh persepsi dan lingkungan lokal. misal dalam sebuah pemilu si A yang menang, kemudian muncul informasi adanya kecurangan pemilu, penggelembungan suara, serangan fajar, dan lain lain. Yang namanya pendapat, semua orang bisa berpendapat meskipun ada fakta yang terungkap.

Karena pada dasarnya kualitatif menerangkan data kuantitatif, maka seyogyanya kita mengambil intisari dari apa yang diterangkan terlebih dahulu (kuantitatifnya) baru memahami penjelasan kualitatifnya.

Ah, kok jadi serius begini ya…
ini hanya tulisan bebas yang bisa disetujui ataupun tidak. termasuk judul yang mungkin terlalu berani, itupun hanya dari subjektivitas penulis saja. Bisa saja penulis ini hanya orang buta yang sedang memegang belalainya gajah.

Selamat Belajar.

Like this article? Dont keep this to yourself!