Perkembangan pekarangan di dalam perkotaan tidak bisa menghambat trend masyarakat untuk mananam buah atau bunga dalam pot. Berlatar belakang dengan keterbatasan lahan, tidak menyurutkan untuk mengelola pekarangan menjadi lebih indah dan produktif. Lebih indah dengan penataan tanaman yang hijau membuat pekarangan menjadi tampak lebih hidup, menjadi lebih produktif karena hasilnya bisa dikonsumsi secara harian. Sebagai contoh adalah penerapan vertiminaponik di perkotaan.

Keutamaan memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayuran dan buah adalah kita yakin dengan apa yang kita tanam, dan bisa saja kita mengupayakan pertanian organik karena tidak menggunakan bahan kimia sehingga tentunya hasilnya akan lebih menyehatkan. Selaku penanam, jika kita bisa berperan sebagai pengawas pengunaan pestisida dan pupuk kimia. Residu bahan kimia bisa sangat diminimalkan dan tentu keyakinan terhadap produk tanaman pekarangan bisa ditingkatkan.

Kebutuhan Pupuk Dalam Pot

Pupuk merupakan nutrisi yang penting bagi tanaman, entah itu berada di lahan ataupun berada di pot. Tanah humus dan sekam biasanya digunakan sebagai media untuk menahan sementara unsur hara sehingga nantinya akan diserap oleh tanaman. Pupuk tetap terdiri dari unsur makro dan unsur mikro. Beberapa dosis tanaman bisa dibaca pada artikel jadwal pemupukan tanaman pekarangan.

Konversi pupuk ke dalam pot

Pada artikel ini akan lebih menitikberatkan bagaimana kita mengkonversi pupuk yang berada di hamparan lahan luas menjadi dosis pupuk dalam pot. Pengetahuan ini cukup penting untuk dipahami oleh petani perkotaan. Keuntungan yang bisa diperoleh dari memahami ini adalah: pertama, petani perkotaan akan melakukan efisiensi yang tinggi. Hal ini dikarenakan pupuk yang tersedia di toko pertanian sebenarnya cukup murah jika kita bisa meraciknya dengan benar. Misalnya pupuk urea kita bisa sesuaikan dengan dosis yang diperlukan, sehingga kita tidak perlu lagi membeli pupuk N yang bersifat pupuk cair. Karena toh sebenarnya pun pupuk cair itu juga hasil pencairan urea dengan konversi dosis dalam pot. Kecuali pupuk cairnya berasal dari urine alami.

Kedua, pemahaman konversi pupuk dalam pot akan meningkatkan pemahaman petani perkotaan terhadap tingkat tinggi rendahnya pupuk kimia yang digunakan. Meskipun berbagai macam pupuk dan obat obatan sudah lengkap di tokopertanian, jika petani tetap mengupayakan pupuk dasar maka pemahaman dasar akan kebutuhan tanaman sudah dikuasai. Misal, jika tanaman berdaun, maka pupuk sebaiknya difokuskan kepada pemberian N. jika tanaman berfokus pada bunga, maka diperbanyak unsur K, jika tanaman berfokus kepada buah, maka diperbanyak pupuk P. kesemua itu tanpa harus membeli pupuk racikan yang sudah disediakan dengan botol yang lebih kecil sehingga penggunaannya akan lebih boros.

Contoh konversi pupuk ke dalam pot

Misal dalam suatu tanaman sayuran tertulis di buku diperlukan dosis pupuk Urea sebanyak 150 Kg perhektar. Lalu berapakan dosis yang diperlukan untuk satu polybag dengan isi tanah sekitar 10 Kg?

Konsep perhitungan pada dosis pupuk dalam pot adalah menghitung solum atau berat tanah dalam lapisan atas tanah (top soil), kemudian kita konversikan dalam pot yang hanya memiliki berat 10 Kg saja. Tahapan perhitungannya adalah sebagai berikut:

Menghitung solum tanah

Solum tanah dalam 1 hektar dihitung luas lahan x tinggi top soil. Top soil biasanya setinggi 25 cm. jadi solum tanah untuk 1 hektar adalah:
=10.000 m2 x 25 cm, samakan satuan semua menjadi cm:
= 100.000.000 cm2 x 25 cm
= 2.500.000.000 cm3

Menghitung berat top soil

Berat top soil ini bergantung kepada BD atau Bulk density . Bulk density ini sebuah nilai yang mencerminkan berat dan volume tanah. Misal BD bernilai 1, maka 1 cm3 terdapat 1 gram berat tanah. Jika BD tanah 1.2, maka setiap 1 cm3 mengandung 1.2 gram tanah.

Maka, kembali lagi ke perhitungan pupuk dalam polybag tadi, berat top soil untuk luasan satu hektar dengan asusmsi BD 1.2 adalah:

=2.500.000.000 x BD
=2.500.000.000 cm3 x 1.2 gram/cc
=3.000.000.000 gram

Mengkonversi tiap polybag

Setelah mengetahui berat top soil maka kita bisa mengkonversi kebutuhan pupuk dari hektar menjadi polybag yang hanya berukuran 10 Kg saja dengan cara sebagai berikut:

Asumsi 10 Kg tanah di dalam pot berarti sekitar 10.000 gram
150 Kg pupuk urea dikonversi ke gram sekitar 150.000 gram urea

= dosis pupuk (g/ha) / 3.000.000.000 (g/ha) x 10.000 g
= 150.000 g/ha / 3.000.000.000 gram/ha  x  150.000 gram urea
= 7.5 gram

Jadi konversi pupuk 150 Kg/ha jika digunakan untuk pot yang berbobot 10 Kg tanah dengan berat jenis tanah 1.2, maka kebutuhan pupuk tersebut hanya 7.5 gram perpot saja.

Jenis konversi silahkan diubah misalnya berat pot yang lebih kecil atau lebih besar dengan tahapan sama seperti diatas. Untuk mengetahui DB tinggal ditimbang saja setiap polybag, kemudian berat polybang tersebut dibagi volume dari polybang (P x L x T).

Konversi pupuk tunggal dan pupuk majemuk sudah dijelaskan di artikel : menghitung kebutuhan pupuk.

Terima kasih sudah berkunjung.

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *