Kolaborasi kerja dalam fungsional periset

Diposting pada

Kolaborasi kerja merupakan solusi metode dalam beradaptasi atas perubahan yang terjadi. Perubahan struktural yang terjadi dalam iklim riset di Indonesia pada tahun 2019 berdampak pergeseran iklim kerja. Periset yang sebelumnya menyebar di kementerian dan lembaga lebih banyak melakukan riset sesuai kebutuhan strategis instansi setempat. Memiliki kantor dan fasilitas yang sudah ditetapkan berdasarkan fungsionalnya. Meskipun terkadang mengerjakan sesuatu hal diluar tupoksi, tapi cara berpikir kritis dan ilmiah tetap digunakan sehingga bisa bekerja efektif dan efisien.

Kini, perubahan struktur telah terjadi. Periset diberi kebebasan melakukan penelitian berdasarkan minat dan kepakarannya. Kebebasan yang dimaksud mengandung arti bahwa fasilitas yang dimiliki semua periset tidak jauh berbeda. Fasilitas dikelola secara modern namun tetap selaras dengan arah pengembangan penelitian. Hal yang menarik adalah bahwa laboratorium dan aset penelitian lainnya bisa digunakan oleh periset seluruh Indonesia, tidak terbatas periset BRIN saja. Tidak hanya itu, anggaran juga dikelola untuk mendukung pengembangan periset di Indonesia. Ada tiga aspek; SDM (periset), Aset, dan Anggaran, yang tusinya sudah diletakkan secara benar namun tidak disatukan. Pengertian tidak disatukan ini mengandung arti ada mekanisme khusus jika periset ingin menggunakan anggaran atau aset. Apa yang terjadi? Periset harus berkompetisi untuk  mendapatkan anggaran.

Tentu saja hal tersebut merubah iklim periset di Indonesia. Tidak jarang saya mendengar keluhan periset yang belum mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Periset yang mengandalkan kegiatan top down dengan paket anggaran lengkap, tentu harus berupaya lebih keras untuk mendapatkan hal yang sama di era sekarang. Periset yang menunggu tanpa strategi secara perlahan akan menyadari bahwa kompetisi ini nyata adanya.

Perubahan tidak hanya terjadi pada peraturan struktural. Perubahan secara fungsional sudah terjadi lebih lama. Jika sebelumnya peneliti hanya menabung angka kredit tahunan untuk bisa naik jabatan, saat ini yang sedang tenar terdengar adalah Hasil Kerja Minimal (HKM). Angka kredit yang dikumpulkan peneliti tidak hanya memenuhi syarat dari sisi akumulasi, melainkan harus mengandung unsur HKM yang telah ditetapkan, misalnya jumlah kti di jurnal nasional, jurnal internasional bereputasi, dan lain lain.

HKM inilah yang bisa menghentikan laju lompatan jabatan yang marak terjadi sebelum tahun 2018. Caranya cukup sederhana, kumpulkan angka kredit yang banyak dengan prosiding, buku, ataupun jurnal. Langsung ajukan ke madya. Setelah menjabat madya, jabatan fungsional diparkirkan sementara dan selanjutnya mengincar jabatan struktural. Menjadi pejabat struktural otomatis tidak terkena maintenance angka kredit karena jabatan fungsionalnya menjadi tidak aktif. Sehingga saya pernah mendengar istilah “peneliti prosiding”. Sebenarnya saya cukup kesal menulis ini, karna begitu saya ingin melakukan lompatan jabatan tersebut, ternyata aturan baru sudah berlaku.

Selain HKM, saat ini juga ada istilah KKM (Keluaran Kerja Minimal) merupakan capaian yang harus diraih pada masa satu tahun. HKM memiliki periode 4 tahun, sedangkan KKM satu tahun. KKM sebenarnya membantu capaian HKM karena targetnya dibagi menjadi tahunan. Namun, sedikit permasalahan akan terjadi jika HKM yang ingin dicapai adalah Jurnal Internasional. Selain membutuhkan ide yang bagus, jurnal internasional membutuhkan dana yang besar.

Jenjang karir dalam kolaborasi kerja

Kolaborasi merupakan solusi dari permasalahan capaian HKM tersebut. Namun, hanya kolaborasi kerja yang baik yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Jika mengingat kembali jenis interaksi makhluk hidup, setidaknya terdapat tiga simbiosis; pertama, simbiosis komensalisme. Interaksi mahkluk hidup yang netral. Kedua belah pihak tidak mendapatkan keuntungan atau kerugian dari interaksi yang dilakukan. Saya gambarkan kolaborasi jenis ini adalah sekumpulan periset yang selalu bersama tapi tidak pernah melakukan kerjasama riset di kelompoknya. Mereka bersama tapi tidak merasakan manfaat dan kerugian.

Kedua, simbiosis parasitisme. Interaksi makhluk hidup dimana satu akan mendapatkan keuntungan disaat yang lainnya mendapatkan kerugian. Kolaborasi jenis ini menggambarkan ada pihak yang tidak melakukan kontribusi dalam kelompoknya. Berbicara kontribusi, karya tulis ilmiah dalam proses publikasi, setidaknya melalui berbagai tahapan. Tahap pertama, ide. Bagaimana penelitian itu dikonsep, tujuan yang ingin dihasilkan, bagaimana cara memperolehnya. Output tahapan pertama adalah proposal atau ICP (Idea Concept Paper). Tahap kedua, pengumpulan dan pengolahan data. Pada tahap ini proses pengujian hipotesis terjadi. Data yang dikumpulkan bisa terdiri dari data primer ataupun data sekunder, penelitian juga bisa bersifat kuantitatif atau kualitatif. Output dari tahapan ini adalah hasil analisis dan kesimpulan. Tahap ketiga, proses penulisan. Hasil analisis dan ICP sebelumnya dituangkan dalam bentuk Karya tulis ilmiah dengan kelengkapan tinjauan pustaka sebagai pembahasan. Output pada proses ini adalah draft karya tulis ilmiah. Tahap keempat adalah publikasi. Proses mempublikasikan draft tersebut ke sebuah jurnal. Proses ini biasanya membutuhkan dana tergantung jurnal yang dituju. Ada sebagian yang bersifat open dan free namun biasanya membutuhkan waktu yang lama. Dari keempat tahapan tersebut, perlu dievaluasi kontribusi kita ada di tahapan yang mana?

Ketiga, simbiosis mutualisme. Inilah kolaborasi yang ideal dan baik, semua orang didalam kelompok memberikan kontribusi yang adil. Kontribusi yang adil bukan berarti sama rata. Namun proporsi terhadap kemampuan. Misalnya dalam tahapan ide ada seseorang yang menonjol  memberikan kontribusinya, namun kurang dalam tahapan penulisan. Contoh lain, ada orang yang menonjol dalam penulisan tapi lemah dari sisi dana. Contoh lain, ada orang yang menonjol dari sisi pengolahan data, tapi lemah dalam pencarian ide. Kesemua itu bisa saling melengkapi dan berkolaborasi untuk mendapatkan target masing-masing.

Selain jenis kolaborasi, periset khususnya peneliti memiliki empat jenjang; peneliti ahli pertama, peneliti ahli muda, peneliti ahli madya, dan peneliti ahli utama. Keempat kelas peneliti tersebut memiliki HKM yang berbeda sehingga targetnya biasanya berbeda. Peneliti ahli pertama tidak masalah jika karya tulisnya publish di jurnal nasional karena memang itulah HKMnya. Sedangkan peneliti madya dan utama menginginkan publikasi jurnal internasional. Perbedaan kebutuhan ini seyogyanya bisa diatasi dengan baik didalam kelompok. Dengan asumsi kontribusi yang sama pada tahapan satu sampai tiga diatas, maka seyogyanya peneliti ahli madya dan ahli utama rela berkontribusi lebih pada tahapan keempat berdasarkan kebutuhannya.

Khusus untuk peneliti ahli pertama, perlu dipahami selain kolaborasi, ada kalanya perlu melakukan proses publikasi secara mandiri. Jenjang karir peneliti diumpamakan sebagai anak tangga yang memiliki pembelajaran berbeda. Pengalaman menerima masukan dari reviewer akan membiasakan diri saat menghadapi publikasi ke jurnal yang lebih tinggi.  Pengalaman ini tidak didapatkan jika terus mengandalkan kolaborasi pada jurnal internasional, karena pada umumnya tidak merasakan langsung proses submit, menjawab reviewer dan mensubmit kembali. Namun, berkolaborasi dengan peneliti jenjang yang lebih tinggi, akan memberikan pengalaman yang berharga karena banyak ilmu yang tidak bisa dijelaskan secara teori.

Sebagai penutup dan sebagai pengingat, bentuklah kolaborasi seperti simbiosis mutualisme. Kolaborasi terjadi karena saling membutuhkan. Tetapkan kontribusi pada tahapan karya tulis ilmiah dalam kelompok.

Terima kasih

Disclaimer: tulisan ini hanya opini. Jangan tegang…

Gambar Gravatar
Data analyst sekaligus researcher. Pernah mendalami production scheduling dalam manufacture. Melalui blog ini menyalurkan hobi menjadi statistical consulting dan menghimpun statistical process control software.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *