Alhamdulillah, setelah melalui proses pengembangan yang cukup panjang, berbagai kali pengujian, perbaikan pada bagian-bagian yang ternyata tidak sesederhana perkiraan awal, dan hampir dua pekan menjalani closed testing, aplikasi Review Paper akhirnya resmi tersedia di Google Play Store. Bagi saya, kehadiran aplikasi ini tentu bukan hanya persoalan bahwa sebuah aplikasi Android berhasil melewati proses peninjauan dan kemudian dapat diunduh oleh pengguna. Ada perjalanan yang cukup panjang di belakangnya, terutama karena aplikasi ini tidak dibuat hanya sebagai proyek pemrograman untuk mengisi waktu luang, tetapi berangkat dari persoalan yang saya temui sendiri dalam lingkungan akademik sebagai seorang dosen dan peneliti. Semakin lama terlibat dalam proses bimbingan mahasiswa, saya semakin menyadari bahwa persoalan bimbingan skripsi sebenarnya bukan karena kita kekurangan teknologi komunikasi. Justru sebaliknya, kita sudah memiliki terlalu banyak pilihan untuk berkomunikasi. Mahasiswa dapat mengirim pesan melalui WhatsApp, mengirim dokumen melalui email, menyimpan file di cloud storage, melakukan pertemuan melalui Zoom atau Google Meet, dan dalam kondisi tertentu masih melakukan bimbingan secara langsung. Semua teknologi tersebut tentu sangat membantu, tetapi ada satu persoalan yang kemudian menjadi semakin jelas, yaitu proses bimbingan akademik sering kali menjadi tersebar di berbagai tempat dan akhirnya kehilangan struktur.
Dari persoalan tersebutlah gagasan Review Paper mulai muncul. Saya tidak ingin membuat aplikasi chatting lain yang hanya mengganti warna, bentuk tombol, atau tampilan antarmukanya kemudian diberi label sebagai aplikasi bimbingan skripsi. Kalau hanya sekadar membuat ruang percakapan antara mahasiswa dan dosen, menurut saya WhatsApp sudah melakukan pekerjaan tersebut dengan sangat baik. Yang menjadi pertanyaan justru adalah bagaimana membuat sebuah sistem yang memahami bahwa bimbingan skripsi bukan percakapan biasa. Bimbingan merupakan proses yang berlangsung secara bertahap, membutuhkan pembacaan, membutuhkan revisi, membutuhkan waktu untuk berpikir, dan yang tidak kalah penting adalah memiliki awal serta akhir yang jelas. Dari sinilah konsep dasar Review Paper kemudian saya susun, yaitu menjadikan proses bimbingan sebagai sebuah perjalanan yang terdokumentasi, bukan sekadar rangkaian pesan yang terus mengalir tanpa struktur.
Ketika Bimbingan Skripsi Berubah Menjadi Percakapan yang Terlalu Panjang
Saya kira persoalan ini cukup mudah ditemukan dalam kehidupan mahasiswa. Pada awal bimbingan, semuanya terlihat sederhana karena jumlah pesan masih sedikit. Mahasiswa mengirim Bab 1, dosen memberikan komentar, mahasiswa memperbaiki, kemudian mengirimkan kembali dokumen tersebut. Beberapa hari kemudian pembahasan mulai berpindah ke tinjauan pustaka, metodologi penelitian, hasil penelitian, pembahasan, sampai akhirnya kesimpulan. Masalah mulai muncul ketika proses tersebut berlangsung selama berbulan-bulan dan seluruh percakapan tetap berada dalam satu ruang chat yang sama. Pesan semakin banyak, file revisi semakin bertambah, dan mahasiswa maupun dosen harus mengandalkan kemampuan pencarian aplikasi untuk menemukan kembali percakapan yang mungkin terjadi beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan sebelumnya.
Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan semata-mata karena pesan terlalu banyak. Yang lebih penting adalah konteks dari pesan tersebut mulai sulit dipertahankan. Sebuah komentar dosen terhadap metodologi penelitian tentu memiliki hubungan dengan diskusi mengenai rumusan masalah dan tujuan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Demikian pula ketika dosen memberikan catatan terhadap hasil penelitian, komentar tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri karena berkaitan dengan metode yang digunakan, data yang diperoleh, dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan sejak awal. Ketika seluruh proses tersebut hanya diperlakukan sebagai percakapan biasa, hubungan antarkomponen tersebut menjadi semakin sulit ditelusuri.
Kondisi seperti ini membuat saya berpikir bahwa mungkin masalahnya bukan terletak pada aplikasi komunikasi yang digunakan, melainkan pada cara kita memperlakukan proses bimbingan itu sendiri. Selama ini kita cenderung menganggap bimbingan sebagai aktivitas bertukar pesan, padahal jika dilihat lebih jauh, bimbingan merupakan sebuah proses pekerjaan akademik yang memiliki tahapan dan perkembangan. Mahasiswa tidak hanya bertanya kepada dosen dan mendapatkan jawaban, tetapi sedang membangun sebuah karya ilmiah secara bertahap. Karena itu, saya merasa sistem yang digunakan untuk mendukung proses tersebut juga seharusnya mampu mempertahankan alur perjalanan tersebut.
Satu Mahasiswa, Satu Dosen, dan Satu Tiket Bimbingan
Konsep yang kemudian menjadi fondasi utama Review Paper sebenarnya cukup sederhana, tetapi saya sengaja membuatnya menjadi sebuah aturan sistem. Satu mahasiswa hanya dapat memiliki satu tiket bimbingan untuk satu dosen. Selama tiket tersebut belum selesai, mahasiswa tidak dapat membuat tiket baru kepada dosen yang sama. Aturan ini mungkin terdengar membatasi jika dibandingkan dengan aplikasi chatting yang memungkinkan pengguna membuat percakapan baru kapan saja, tetapi justru pembatasan inilah yang menurut saya membuat konsep Review Paper menjadi berbeda.
Tiket dalam Review Paper bukanlah tiket untuk satu bab atau satu pertanyaan tertentu. Saya sempat membayangkan bagaimana jika mahasiswa membuat tiket untuk Bab 1, kemudian ketika masuk Bab 2 membuat tiket baru, lalu Bab 3 kembali membuat tiket baru. Dari sisi pengelolaan mungkin terlihat rapi, tetapi jika dipikirkan dari perspektif penelitian, pendekatan tersebut justru dapat memecah sebuah proses yang sebenarnya merupakan satu kesatuan. Skripsi bukanlah kumpulan bab yang tidak berhubungan satu sama lain. Apa yang dibahas pada Bab 1 akan memengaruhi Bab 2, teori yang digunakan akan berhubungan dengan metode penelitian, metode akan menentukan bagaimana data diperoleh dan dianalisis, sementara hasil analisis akan menjadi dasar pembahasan dan kesimpulan. Oleh karena itu, saya justru ingin agar riwayat bimbingan tersebut tetap mengalir sebagai satu proses yang utuh.
Dengan mekanisme tersebut, mahasiswa memulai satu tiket bersama dosen pembimbingnya dan tiket tersebut terus digunakan dari awal proses bimbingan sampai pekerjaan tersebut benar-benar selesai. Bab 1 dibahas di sana, kemudian berlanjut ke Bab 2, Bab 3, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan, revisi akhir, dan berbagai diskusi lain yang masih berkaitan dengan perjalanan skripsi tersebut. Mahasiswa tidak perlu membuat tiket baru hanya karena sudah berganti bab. Justru seluruh perubahan dan perkembangan tersebut menjadi bagian dari riwayat yang sama.
Bagi saya, konsep ini memiliki nilai yang cukup penting karena tiket tersebut pada akhirnya tidak lagi sekadar menjadi ruang komunikasi, tetapi berubah menjadi semacam jurnal perjalanan bimbingan skripsi. Jika beberapa bulan kemudian mahasiswa ingin mengetahui kembali mengapa sebuah metode dipilih, kapan dosen memberikan arahan tertentu, atau bagaimana sebuah bagian penelitian mengalami perubahan, seluruh riwayatnya masih berada dalam satu tempat. Begitu pula bagi dosen, ketika membaca hasil penelitian mahasiswa, konteks pembahasan sebelumnya masih tersedia tanpa harus membuka percakapan atau aplikasi lain.
Mengapa Saya Tidak Membuat Review Paper Seperti Aplikasi Chatting?
Pertanyaan ini sebenarnya menjadi salah satu pertanyaan penting selama proses pengembangan. Jika tujuan akhirnya hanya agar mahasiswa dan dosen dapat berkomunikasi, mengapa tidak menggunakan saja aplikasi yang sudah tersedia? Bukankah membuat aplikasi baru justru menambah satu lagi aplikasi yang harus dipasang dan digunakan oleh mahasiswa maupun dosen?
Saya kira pertanyaan tersebut sangat masuk akal. Karena itu, sejak awal saya mencoba membedakan Review Paper bukan berdasarkan seberapa banyak fitur komunikasi yang dimilikinya, tetapi berdasarkan aturan komunikasi yang diterapkan di dalamnya. Aplikasi ini tidak dirancang agar mahasiswa dapat mengirim pesan sebanyak mungkin dan mendapatkan respons secepat mungkin. Justru ada beberapa pembatasan yang sengaja dibuat agar pola penggunaan aplikasi tetap mendekati proses bimbingan akademik.
Salah satu pembatasan tersebut adalah mekanisme jeda dua jam untuk memberikan balasan. Setelah seorang pengguna mengirimkan balasan dalam sebuah tiket, pengguna tersebut harus menunggu selama dua jam sebelum dapat memberikan balasan berikutnya. Jika dilihat dari sudut pandang aplikasi media sosial, mekanisme seperti ini mungkin terasa aneh. Kita terbiasa dengan aplikasi yang memungkinkan seseorang mengirim pesan secara berturut-turut tanpa batas waktu. Bahkan ketika pesan pertama belum dibaca, pengguna dapat mengirim pesan kedua, ketiga, dan seterusnya.
Namun justru pola seperti itulah yang ingin saya hindari.
Dua Jam yang Sengaja Diberikan untuk Berpikir
Dalam bimbingan skripsi, saya merasa kecepatan bukan selalu merupakan sesuatu yang harus dikejar. Ketika dosen memberikan komentar terhadap sebuah bagian skripsi, mahasiswa seharusnya memiliki waktu untuk membaca komentar tersebut, memahami maksudnya, membuka kembali dokumen yang berkaitan, mencari literatur jika diperlukan, melakukan revisi, dan kemudian memberikan tanggapan. Jika setelah dosen mengirim komentar mahasiswa langsung membalas beberapa menit kemudian hanya dengan pertanyaan tambahan, kemudian mengirim file lain, kemudian menambahkan penjelasan lain karena merasa belum lengkap, maka proses tersebut perlahan berubah menjadi percakapan spontan seperti di media sosial.
Hal yang sama berlaku dari sisi dosen. Ketika mahasiswa mengirimkan sebuah dokumen revisi, tidak selalu berarti dosen dapat langsung membacanya dan memberikan komentar pada saat itu juga. Dosen mungkin sedang mengajar, melakukan penelitian, menghadiri rapat, atau mengerjakan pekerjaan akademik lainnya. Ketika akhirnya dokumen tersebut dibaca, dosen juga membutuhkan waktu untuk memahami perubahan yang dilakukan mahasiswa dan memberikan komentar yang benar-benar berkaitan dengan isi penelitian.
Karena itu, jeda dua jam dalam Review Paper sebenarnya bukan saya tempatkan sebagai hambatan komunikasi, melainkan sebagai bagian dari filosofi aplikasi. Saya ingin memberikan ruang agar setiap respons tidak harus muncul secara spontan. Pengguna memiliki waktu untuk membaca, berpikir, mengerjakan sesuatu, kemudian kembali memberikan respons ketika memang sudah siap. Dengan mekanisme tersebut, saya berharap Review Paper tidak berkembang menjadi aplikasi media sosial dengan tema akademik, tetapi tetap mempertahankan karakter sebagai ruang bimbingan.
Tentu saja, dua jam bukan angka yang sakral. Dalam pengembangan aplikasi, aturan seperti ini selalu dapat dievaluasi berdasarkan pengalaman pengguna. Namun untuk versi awal Review Paper, saya ingin menguji sebuah gagasan sederhana: mungkin bimbingan yang baik justru membutuhkan sedikit lebih banyak waktu di antara satu respons dengan respons berikutnya.
Last Reply dan Pertanyaan Sederhana: Sekarang Giliran Siapa?
Pembatasan waktu tersebut kemudian saya lengkapi dengan sebuah informasi yang cukup sederhana, yaitu Last Reply. Pada daftar tiket, pengguna dapat melihat siapa yang terakhir memberikan respons, apakah Author atau Reviewer. Fitur ini terlihat sederhana jika dibandingkan dengan berbagai fitur teknis lain yang ada di dalam aplikasi, tetapi dalam praktiknya informasi tersebut memiliki fungsi yang cukup penting karena proses bimbingan pada dasarnya merupakan proses bergantian.
Jika Reviewer adalah pihak yang terakhir memberikan respons, maka mahasiswa dapat memahami bahwa ada sesuatu yang perlu ditindaklanjuti dari sisi Author. Sebaliknya, jika mahasiswa baru saja mengirimkan revisi atau pertanyaan, maka dosen dapat mengetahui bahwa respons terakhir berasal dari Author dan proses tersebut masih menunggu tanggapan Reviewer. Dengan demikian, pengguna tidak perlu terus-menerus bertanya apakah sekarang sudah waktunya mengirim pesan lagi atau apakah pihak lain masih harus memberikan respons.
Menurut saya, kombinasi antara Last Reply dan jeda dua jam justru menjadi salah satu bagian yang paling menggambarkan filosofi Review Paper. Last Reply membantu menunjukkan posisi masing-masing pihak dalam proses bimbingan, sedangkan pembatasan dua jam membantu menjaga agar proses tersebut tidak berubah menjadi percakapan tanpa jeda. Keduanya bukan fitur yang berdiri sendiri, tetapi dirancang untuk menjaga ritme komunikasi tetap berada dalam konteks akademik.
Dari Bab 1 Sampai Skripsi Selesai
Saya membayangkan penggunaan Review Paper kurang lebih seperti ini. Seorang mahasiswa memulai bimbingan dengan dosennya dan membuat satu tiket. Pada tahap awal, yang dibahas mungkin masih seputar latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan bagian-bagian awal Bab 1. Setelah mendapatkan masukan, mahasiswa melakukan revisi dan mengirimkannya kembali melalui tiket yang sama. Ketika Bab 1 selesai dan pembahasan mulai berpindah ke tinjauan pustaka, tidak ada tiket baru yang perlu dibuat karena prosesnya masih merupakan bagian dari perjalanan penelitian yang sama.
Kemudian masuk ke metodologi. Diskusi menjadi lebih teknis. Ada perubahan pada variabel, metode pengumpulan data, teknik analisis, atau instrumen penelitian. Setelah itu penelitian mulai dilaksanakan dan mahasiswa memperoleh data yang kemudian perlu dianalisis. Hasil analisis kembali dibawa ke dalam proses bimbingan, disusul pembahasan, kesimpulan, dan revisi akhir. Selama semua itu masih merupakan bagian dari proses bimbingan dengan dosen yang sama, tiket tetap berjalan.
Ketika dilihat dari awal hingga akhir, tiket tersebut sebenarnya menyimpan lebih dari sekadar percakapan. Ia menyimpan perkembangan sebuah penelitian. Pada awalnya mungkin hanya terdapat sebuah gagasan yang masih sangat umum, kemudian secara bertahap berkembang menjadi proposal, metodologi, data, hasil analisis, pembahasan, hingga akhirnya menjadi skripsi yang siap dipertanggungjawabkan. Saya menyukai gagasan bahwa seluruh perjalanan tersebut dapat berada dalam satu ruang yang sama karena hal itu membuat hubungan antara berbagai keputusan akademik menjadi lebih mudah dilacak.
Dalam konteks inilah saya merasa istilah ticket menjadi cukup menarik. Tiket memiliki titik mulai dan titik selesai. Ketika bimbingan dimulai, tiket dibuka. Selama proses berlangsung, tiket menjadi ruang diskusi. Ketika proses bimbingan telah selesai, Reviewer dapat menutup tiket dan sistem kemudian menempatkannya sebagai arsip. Jadi, satu tiket bukan berarti satu tiket untuk selamanya, melainkan satu tiket untuk satu perjalanan bimbingan dengan seorang dosen sampai perjalanan tersebut selesai.
Dashboard Mahasiswa dan Dosen Tidak Dibuat dengan Cara yang Sama
Karena Author dan Reviewer memiliki kebutuhan yang berbeda, dashboard keduanya juga dirancang dengan sudut pandang yang berbeda. Mahasiswa membutuhkan tempat untuk melihat proses bimbingannya, mengetahui tiket mana yang masih aktif, membuat permintaan bimbingan, dan melihat perkembangan diskusi. Dosen, di sisi lain, menghadapi persoalan yang berbeda karena seorang dosen dapat menangani beberapa mahasiswa dalam waktu yang sama sehingga yang dibutuhkan bukan hanya ruang percakapan, tetapi juga kemampuan untuk melihat permintaan bimbingan dan pekerjaan yang sedang menunggu perhatian.
Konsep satu tiket untuk satu dosen juga membuat pengelolaan tersebut menjadi lebih masuk akal. Mahasiswa tidak dapat memenuhi dashboard dengan banyak tiket yang sebenarnya membicarakan perjalanan penelitian yang sama. Selama proses belum selesai, semua pembahasan tetap diarahkan ke tiket yang sama. Dari sisi dosen, hal ini membuat setiap mahasiswa memiliki satu jalur bimbingan yang dapat diikuti dari awal sampai akhir.
Saya sengaja menggunakan istilah Author dan Reviewer karena sejak awal Review Paper sebenarnya tidak hanya saya bayangkan sebagai aplikasi untuk skripsi. Struktur yang digunakan cukup memungkinkan untuk dikembangkan ke proses review paper, laporan penelitian, tugas akhir, maupun berbagai aktivitas akademik lain yang memiliki hubungan antara seseorang yang mengajukan dokumen dan seseorang yang memberikan review. Tetapi untuk penggunaan awal, konteks yang paling dekat tentu saja adalah mahasiswa dan dosen dalam proses bimbingan skripsi.
File Revisi dan Masalah yang Sering Dianggap Sepele
Selain percakapan, dokumen merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bimbingan akademik. Dalam satu proses skripsi, jumlah file yang digunakan dapat bertambah dengan cepat. Mahasiswa mengirim dokumen, dosen memberikan masukan, mahasiswa memperbaiki, kemudian mengirimkan versi baru. Setelah beberapa kali revisi, muncul berbagai nama file yang pada akhirnya semakin panjang hanya untuk membedakan satu versi dengan versi lainnya.
Masalahnya bukan hanya jumlah file, tetapi hubungan antara file dan pembahasannya. Sebuah dokumen seharusnya tidak berdiri sendiri karena ada alasan mengapa file tersebut dikirim dan ada komentar tertentu yang diberikan terhadapnya. Karena itu, Review Paper menyediakan mekanisme pengiriman dan pengunduhan lampiran di dalam ruang tiket sehingga dokumen tetap berada dalam konteks percakapan yang membahasnya.
Dalam proses pengembangan, bagian ini ternyata tidak sesederhana yang terlihat dari sisi pengguna. Sebuah file bukan hanya perlu berhasil dikirim. Sistem juga harus memastikan file tersimpan dengan benar, informasi mengenai jenis file tidak hilang, nama dan ekstensi dapat dikenali, kemudian file dapat diunduh dan dibuka kembali oleh pengguna. Persoalan kecil seperti ekstensi file mungkin tidak terlihat ketika aplikasi sedang dipresentasikan, tetapi ketika pengguna benar-benar membutuhkan dokumen tersebut dan file tidak dapat dibuka, persoalan tersebut berubah menjadi masalah yang sangat nyata.
Pengalaman semacam ini membuat saya semakin memahami bahwa membangun aplikasi bukan hanya persoalan membuat fitur terlihat bekerja. Sebuah fitur baru dapat disebut selesai ketika ia dapat digunakan dalam kondisi nyata dan tetap memberikan hasil yang memang diharapkan pengguna.
Ketika Riwayat Bimbingan Perlu Dibawa Keluar dari Aplikasi
Karena Review Paper mempertahankan seluruh proses bimbingan dalam satu tiket, muncul kebutuhan lain yang cukup logis, yaitu bagaimana jika riwayat tersebut perlu disimpan sebagai dokumen. Dari sinilah fitur Export PDF menjadi bagian penting dalam aplikasi.
Dengan fitur ini, riwayat percakapan dan informasi lampiran dalam tiket dapat disusun menjadi dokumen PDF. Bagi mahasiswa, hasil tersebut dapat digunakan sebagai arsip pribadi maupun dokumentasi proses bimbingan. Dalam kondisi tertentu, dokumentasi tersebut juga dapat membantu ketika mahasiswa membutuhkan bukti proses bimbingan untuk keperluan akademik.
Bagi saya, keberadaan Export PDF sebenarnya merupakan konsekuensi dari konsep awal Review Paper. Jika sebuah tiket memang dimaksudkan sebagai perjalanan bimbingan dari awal sampai akhir, maka perjalanan tersebut seharusnya dapat didokumentasikan. Saya tidak ingin seluruh sejarah bimbingan hanya hidup di dalam aplikasi dan menjadi sulit digunakan ketika mahasiswa sudah menyelesaikan proses akademiknya. Riwayat tersebut memiliki nilai dokumentasi sehingga perlu diberikan bentuk yang dapat disimpan dan dibawa keluar dari sistem.
Menutup Tiket dan Mengarsipkan Sebuah Perjalanan
Karena satu mahasiswa hanya dapat memiliki satu tiket aktif dengan satu dosen, tentu harus ada mekanisme yang menandai kapan perjalanan tersebut benar-benar selesai. Review Paper menggunakan siklus tiket yang dimulai dari Open, kemudian berlangsung dalam proses Discussion, setelah proses bimbingan selesai tiket dapat ditutup oleh Reviewer, dan selanjutnya masuk ke Archive.
Menurut saya, keberadaan status ini penting karena percakapan yang tidak memiliki akhir cenderung akan terus dianggap sebagai sesuatu yang aktif. Padahal dalam bimbingan skripsi, ada saat ketika sebuah proses memang sudah selesai. Mahasiswa mungkin sudah menyelesaikan skripsinya, dosen sudah memberikan persetujuan akhir, dan tidak ada lagi pembahasan yang perlu dilakukan dalam tiket tersebut. Pada titik itu, tiket perlu ditutup agar ruang kerja aktif tetap bersih dan perjalanan yang sudah selesai dapat dipindahkan menjadi arsip.
Setelah tiket diarsipkan, barulah konsep satu tiket tersebut memiliki batas yang jelas. Artinya, pembatasan satu tiket bukan berarti mahasiswa selamanya hanya boleh memiliki satu tiket kepada dosen yang sama. Pembatasan tersebut berlaku selama perjalanan bimbingan yang sedang berlangsung belum selesai. Ketika proses telah benar-benar ditutup dan diarsipkan, perjalanan berikutnya dapat diperlakukan sebagai proses baru sesuai mekanisme aplikasi.
Bagian yang Tidak Terlihat oleh Pengguna
Salah satu hal yang cukup menarik dalam pengembangan Review Paper adalah kenyataan bahwa sebagian besar pekerjaan justru tidak terlihat ketika aplikasi sudah selesai. Pengguna hanya melihat halaman login, dashboard, daftar tiket, ruang diskusi, tombol upload, dan berbagai fungsi lain yang tersedia di layar. Di belakang tampilan tersebut terdapat cukup banyak aturan yang harus berjalan secara bersamaan.
Sistem harus mengetahui siapa Author dan siapa Reviewer, memastikan mahasiswa tidak dapat membuat tiket kedua kepada dosen yang sama ketika tiket sebelumnya masih aktif, menentukan kapan jeda dua jam dimulai setelah sebuah balasan dikirim, mengetahui siapa yang terakhir memberikan respons, menjaga agar tiket hanya dapat diakses oleh pihak yang memang terlibat, menyimpan lampiran, mengatur status tiket, sampai memastikan proses ekspor PDF dapat menghasilkan dokumen yang sesuai dengan riwayat yang ada.
Hal tersebut membuat saya melihat pengembangan Review Paper tidak jauh berbeda dengan proses penelitian. Kita memulai dari sebuah persoalan, kemudian membuat rancangan solusi, mengimplementasikan rancangan tersebut, mengujinya, menemukan kesalahan, memperbaikinya, dan kembali menguji. Dalam proses pengembangan perangkat lunak, satu masalah kecil sering kali membuka masalah lain yang sebelumnya tidak terlihat. Apa yang tampak sederhana dari sisi pengguna bisa menjadi cukup kompleks ketika harus diterjemahkan menjadi aturan yang konsisten di dalam sistem.
Karena itu, proses pengembangan aplikasi bagi saya bukan hanya latihan pemrograman. Ia juga menjadi latihan untuk memahami bagaimana sebuah kebutuhan manusia diterjemahkan menjadi aturan komputer yang harus berjalan tanpa ambiguitas.
Firebase, Autentikasi, dan Keamanan Data Akademik
Karena Review Paper menangani proses bimbingan dan memungkinkan pengguna mengirimkan dokumen akademik, keamanan menjadi salah satu bagian yang tidak dapat diabaikan. Sistem menggunakan autentikasi Firebase dengan verifikasi email, sementara komunikasi data dilakukan melalui HTTPS. Tiket juga tidak bersifat terbuka karena akses terhadapnya berkaitan dengan hubungan antara Author dan Reviewer yang terlibat dalam proses bimbingan tersebut.
Hal ini penting karena dokumen yang dikirim mahasiswa tidak selalu merupakan dokumen yang sudah dipublikasikan. Bisa saja di dalamnya terdapat data penelitian, hasil analisis, draft artikel, instrumen penelitian, atau berbagai informasi yang masih berada dalam proses pengerjaan. Karena itu, pengelolaan data tidak dapat diperlakukan seperti penyimpanan file biasa.
Saya juga memikirkan persoalan penyimpanan cloud karena setiap lampiran yang masuk tentu memiliki konsekuensi terhadap kapasitas penyimpanan. Review Paper memiliki mekanisme pengelolaan dan pembersihan data cloud sesuai kebijakan sistem agar data yang tidak lagi diperlukan tidak terus menumpuk. Bagi pengguna, mekanisme tersebut mungkin tidak terlalu terlihat, tetapi dari sisi pengembang, pengelolaan data seperti ini merupakan bagian dari tanggung jawab ketika sebuah aplikasi mulai digunakan oleh orang lain.
Hampir Dua Pekan Menunggu di Closed Testing
Setelah aplikasi mulai stabil, tantangan berikutnya adalah membawa Review Paper ke Google Play Store. Proses ini ternyata memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar menjalankan aplikasi di perangkat sendiri. Ketika aplikasi masih berada di komputer atau ponsel developer, kita cenderung sudah sangat hafal dengan cara kerja aplikasi. Kita tahu tombol mana yang harus ditekan, halaman mana yang harus dibuka, dan bagaimana sebuah proses bekerja. Pengguna tentu tidak memiliki pengetahuan tersebut sehingga aplikasi harus mampu menjelaskan dirinya sendiri melalui desain dan alur yang tersedia.
Review Paper kemudian menjalani proses closed testing selama hampir dua pekan. Dalam masa tersebut, saya kembali memeriksa berbagai fungsi dari sudut pandang pengguna, mulai dari autentikasi, hubungan Author dan Reviewer, pembuatan tiket, pengiriman balasan, pembatasan waktu, pengelolaan lampiran, pengunduhan file, status tiket, sampai proses ekspor PDF. Pengujian seperti ini penting karena aplikasi sebenarnya bukan kumpulan fitur yang berdiri sendiri. Satu kesalahan pada sebuah proses dapat memengaruhi proses lainnya.
Setelah melalui tahap tersebut dan proses peninjauan selesai, akhirnya Review Paper mendapatkan persetujuan untuk dipublikasikan. Bagi saya, momen tersebut cukup melegakan karena aplikasi yang sebelumnya hanya berupa gagasan, rancangan antarmuka, dan barisan kode akhirnya benar-benar dapat ditemukan oleh pengguna melalui Google Play Store.
Namun saya juga memahami bahwa publikasi bukanlah akhir dari pengembangan. Justru setelah aplikasi digunakan oleh orang lain, berbagai asumsi yang selama ini dibuat oleh developer mulai mendapatkan pengujian yang sebenarnya. Pengguna dapat menemukan pola penggunaan yang tidak pernah kita pikirkan, menemukan bagian antarmuka yang membingungkan, atau bahkan menemukan kebutuhan baru yang sebelumnya tidak pernah muncul selama proses pengembangan. Bagi saya, hal tersebut bukan masalah, tetapi bagian dari proses pengembangan aplikasi yang memang seharusnya terus berlangsung.
Mengapa Review Paper Tidak Dibuat untuk Mempercepat Bimbingan?
Jika seluruh konsep Review Paper harus saya jelaskan dalam satu kalimat, mungkin saya akan mengatakan bahwa aplikasi ini tidak dibuat untuk membuat bimbingan menjadi lebih cepat, tetapi untuk membuat bimbingan menjadi lebih terstruktur.
Pernyataan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menjelaskan hampir semua keputusan desain yang ada di dalam aplikasi. Mengapa mahasiswa hanya memiliki satu tiket dengan satu dosen? Karena saya ingin menjaga agar perjalanan bimbingan tetap kontinu dan tidak terpecah menjadi percakapan yang berbeda-beda. Mengapa tiket tidak dapat dibuat lagi sebelum tiket sebelumnya selesai? Karena proses yang sedang berjalan harus diselesaikan terlebih dahulu. Mengapa ada jeda dua jam untuk memberikan balasan? Karena saya ingin menghindari pola komunikasi yang menyerupai media sosial dan memberikan ruang bagi pengguna untuk membaca, berpikir, serta mengerjakan revisi. Mengapa ada Last Reply? Karena dalam proses bimbingan kedua pihak perlu mengetahui siapa yang terakhir memberikan respons. Mengapa ada Export PDF? Karena perjalanan tersebut pada akhirnya merupakan sebuah rekam jejak akademik yang mungkin perlu didokumentasikan.
Jika dilihat secara terpisah, setiap fitur mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika semuanya ditempatkan dalam satu konsep, terlihat bahwa Review Paper memang dirancang dengan filosofi yang berbeda dari aplikasi chatting biasa.
Saya tidak ingin mahasiswa merasa harus selalu online untuk mengikuti bimbingan. Saya juga tidak ingin dosen merasa harus memberikan respons seketika hanya karena sebuah pesan sudah masuk. Yang saya harapkan justru sebuah pola yang lebih tenang: mahasiswa mengirimkan sesuatu yang memang sudah dipersiapkan, dosen membaca dan memberikan review, mahasiswa mempelajari review tersebut, melakukan revisi, kemudian kembali memberikan respons. Proses tersebut berlangsung berulang sampai penelitian selesai.
Dengan kata lain, Review Paper mencoba mengembalikan unsur waktu dan proses berpikir ke dalam komunikasi digital.
Dari Sebuah Gagasan Menjadi Sebuah Aplikasi
Ketika pertama kali membayangkan Review Paper, tentu saya tidak langsung mengetahui seluruh bentuk aplikasi seperti sekarang. Banyak keputusan baru muncul ketika proses pengembangan berlangsung. Beberapa hal yang awalnya terlihat sederhana ternyata membutuhkan perhatian lebih besar. Sebagian fitur perlu diubah setelah diuji, sebagian aturan harus dipikirkan kembali, dan beberapa masalah baru justru muncul ketika aplikasi digunakan dalam kondisi yang lebih mendekati penggunaan nyata.
Namun mungkin memang seperti itulah sebuah aplikasi seharusnya berkembang. Kita tidak mungkin mengetahui seluruh kebutuhan pengguna hanya dengan duduk dan membayangkan sistem di atas kertas. Pada akhirnya sebuah sistem harus dibuat, diuji, digunakan, kemudian dievaluasi kembali.
Dan sebagai dosen serta peneliti, saya justru menikmati proses tersebut karena ada kemiripan yang cukup kuat dengan cara kita bekerja dalam penelitian. Ada masalah yang ingin diselesaikan, ada rancangan solusi, ada implementasi, ada pengujian, ada kesalahan, ada revisi, kemudian ada hasil yang kembali dievaluasi. Bedanya, dalam penelitian kita sering menghasilkan artikel atau model, sedangkan dalam proyek ini hasil akhirnya adalah sebuah aplikasi yang dapat langsung digunakan.
Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa Review Paper sudah menjadi solusi sempurna untuk seluruh persoalan bimbingan akademik. Rasanya terlalu dini untuk mengatakan demikian. Aplikasi ini baru memulai perjalanannya ketika sudah masuk ke Google Play Store. Justru pengalaman dari mahasiswa dan dosen yang menggunakannya nanti yang akan menunjukkan apakah berbagai keputusan desain tersebut benar-benar membantu atau masih membutuhkan perubahan.
Review Paper dan Harapan Saya terhadap Bimbingan Akademik
Pada akhirnya, alasan saya membuat aplikasi ini sebenarnya cukup sederhana. Saya ingin melihat apakah teknologi dapat digunakan bukan hanya untuk mempercepat komunikasi, tetapi juga untuk membuat proses akademik menjadi lebih tertib.
Kita sudah sangat terbiasa dengan komunikasi digital yang cepat. Pesan dapat dikirim kapan saja, file dapat dibagikan dalam hitungan detik, dan seseorang dapat memberikan respons dari mana saja. Semua itu tentu merupakan kemajuan yang luar biasa. Tetapi dalam proses akademik, saya merasa ada sesuatu yang tidak boleh hilang hanya karena teknologi membuat semuanya menjadi cepat, yaitu kesempatan untuk membaca, berpikir, mengerjakan, dan merefleksikan kembali apa yang sedang dilakukan.
Skripsi sendiri merupakan perjalanan yang panjang. Mahasiswa tidak tiba-tiba menghasilkan puluhan halaman dalam satu malam. Ada proses membaca literatur, menemukan masalah, menyusun gagasan, mendapatkan kritik, memperbaiki tulisan, mengumpulkan data, melakukan analisis, kemudian kembali merevisi. Jika proses tersebut kemudian didukung oleh sistem yang hanya berorientasi pada kecepatan komunikasi, menurut saya ada bagian penting dari proses akademik yang justru berisiko hilang.
Karena itu, Review Paper saya rancang dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Satu mahasiswa memiliki satu tiket dengan satu dosen, kemudian perjalanan tersebut terus mengalir dari awal sampai akhir. Tidak ada kebutuhan untuk memecah bimbingan menjadi tiket Bab 1, Bab 2, atau Bab 3. Semua tetap berada dalam satu riwayat karena skripsi itu sendiri merupakan satu kesatuan penelitian. Pengguna juga tidak dapat membalas secara terus-menerus karena terdapat jeda dua jam yang memberikan kesempatan untuk memproses respons sebelumnya. Last Reply membantu menunjukkan posisi masing-masing pihak, sementara seluruh riwayat dapat didokumentasikan melalui Export PDF.
Mungkin konsepnya tidak terlalu rumit jika dijelaskan seperti itu. Tetapi justru kesederhanaan tersebut yang saya harapkan dapat menjadi kekuatan Review Paper.
Review Paper Resmi Hadir di Google Play Store
Setelah melalui perjalanan pengembangan, pengujian, perbaikan, dan hampir dua pekan closed testing, kini Review Paper resmi tersedia di Google Play Store. Aplikasi ini saya kembangkan untuk mahasiswa dan dosen yang membutuhkan cara yang lebih terstruktur dalam menjalankan proses bimbingan skripsi, tugas akhir, maupun review paper.
Bagi mahasiswa, saya berharap Review Paper dapat membantu menjaga perjalanan bimbingan tetap berada dalam satu alur sehingga tidak mudah tercecer di antara berbagai aplikasi komunikasi. Bagi dosen, saya berharap sistem ini dapat membantu mengelola proses bimbingan tanpa harus menjadikan aplikasi chatting sebagai satu-satunya ruang kerja akademik. Sedangkan bagi institusi pendidikan, saya berharap konsep ini dapat menjadi salah satu alternatif ketika mulai memikirkan bagaimana proses bimbingan akademik dapat didigitalisasi dengan pendekatan yang lebih terstruktur.
Saya sadar bahwa sebuah aplikasi tidak akan membuat skripsi menjadi mudah. Mahasiswa tetap harus membaca, meneliti, mengolah data, menulis, menerima kritik, dan melakukan revisi. Dosen juga tetap harus meluangkan waktu untuk membaca dan memberikan arahan. Tidak ada sistem yang dapat menggantikan proses tersebut.
Yang dapat dilakukan teknologi adalah membantu mengurangi kekacauan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Membantu menyimpan riwayat.
Membantu menjaga konteks.
Membantu mengetahui siapa yang sedang menunggu.
Membantu mengelola dokumen.
Dan yang paling penting, membantu menjaga agar proses bimbingan tetap menjadi sebuah proses, bukan sekadar percakapan panjang yang sulit dilacak.
Karena itu saya tidak melihat Review Paper sebagai aplikasi yang dibuat untuk membuat bimbingan skripsi menjadi lebih cepat. Saya justru ingin aplikasi ini membantu membuat bimbingan menjadi lebih terarah, lebih terdokumentasi, dan lebih terstruktur.
Pada akhirnya, mungkin memang seperti itulah teknologi seharusnya digunakan dalam pendidikan. Bukan menggantikan proses berpikir manusia, tetapi menciptakan lingkungan yang membuat manusia memiliki ruang yang lebih baik untuk berpikir.
Review Paper — Bimbingan Skripsi & Paper, Kini Lebih Terstruktur.
Panduan Review Paper