Menulis KTI mengenal istilah novelty, yang artinya kurang lebih adalah kebaruan. Karya Tulis Ilmiah yang kita sodorkan harus memiliki kebaruan dari yang sudah pernah publish. Hal ini menjadi salah satu syarat yang cukup sulit untuk menembus jurnal bereputasi baik skala nasional ataupun internasional.

Pernah dalam suatu kesempatan saya tergabung dalam sebuah grup media sosial yang berisikan anak remaja. Dalam pembahasan KTI mereka seringkali menghubungkannya dengan penemuan yang benar benar baru atau lebih ekstreem saya katakan penemuan yang belum pernah ditemukan. Katakanlah seperti dahulu newton menemukan gravitasi atau Alexander Graham Bell dalam menemukan telepon. Membaca pesan mereka saya mengernyitkan dahi. Apakah mereka perlu duduk berjam jam dibawah pohon apel seperti yang dilakukan Newton dalam ceritanya menemukan gaya gravitasi? Saya benar benar yakin, jika mereka memikirkan KTI seperti itu, mereka keburu lulus dari sekolah umum sebelum menulis satupun KTI. Meskipun belum lama ada anak remaja yang berhasil menemukan antikanker dari pohon tertentu, hal ini tidak bisa menjadi patokan untuk menyamaratakan anak seusianya apalagi yang baru mengenal KTI.

Beranjak menuju obrolan teman sekantor. Kebanyakan mereka mengeluhkan tidak bisa menulis KTI karna kesibukan rutinitas yang luar biasa mereka terima dari atasan. Apalagi memiliki tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan top down dengan target kerja yang tidak mungkin terukur dalam sebuah tahapan ilmiah yang bisa dijadikan sebuah KTI. Padahal, saya perhatikan mereka hampir tiap bulan berkunjung ke petani atau masyarakat, bahkan dengan mudahnya berkomunikasi dengan pihak dinas yang bisa saya sebut sebagai pemerintah yang berwenang di daerahnya.

Contoh lainnya untuk melengkapi beberapa cerita tentang kegalauan KTI, saya pernah ngobrol dengan salah satu pengelola jurnal nasional. Madalah yang mereka hadapi bukan terkait dengan jumlah naskah yang masuk, melainkan kualitas artikel yang membicarakan topik yang cenderung  sama tergantung musim tiba. Katakanlah jika pemerintah pusat melakukan kebijakan apel, maka narasi KTI pada periode pemerintah tersebut bisa dipastikan akan bercerita tentang apel. Ironisnya lagi bahasan topik apel tidak dibedakan dari berbagai sisi, melainkan redundant naskah satu dengan lainnya. Hal ini bisa dimaklumi dari berbagai hal. Pertama, kemampuan analisis peneliti tidak diupgrade dan kecenderungan mereka memiliki metodelogi yang sama. Kedua, metode berpikir mereka juga sama seolah tergiring dengan kebijakan apel tersebut sehingga tidak mampu melepaskan diri untuk melihat dari sisi yang lain. Ketiga, fenomena tersebut memang benar ada nyatanya. Artinya sangking jelasnya fenomena apel tersebut, semua orang bisa menuliskannya dengan naskah yang hampir sama kesimpulannya.

Jika saya diperkenankan memberi perumpamaan dari ketiga cerita diatas. Seolah olah kita berada disebuah kebun buah buahan. Kelompok siswa atau kelompok remaja yang saya sebutkan tadi begitu tertarik dengan buah kelapa yang tinggi dan mengaguminya dan berharap buahnya jatuh. Mereka berkerumun di bawah pohon kelapa tersebuy tanpa ada satupun berinisiatif memanggil tukang kebun atau hal lainnya.

Kelompok kedua, yakni kelompok teman kantor, beramai ramai mengamati pohon apel. Setiap orang dalam kelompok tersebut memetik buah apel sehingga tak satupun yang tersisa. Mereka tidak melihat buah lainnya padahal perkebunan ini luas dan beraneka ragam pohon buah buahan.

Kelompok ketiga adalah pembeli buah buahan yang ada disekitar perkebunan. Mereka bosan karena hanya buah apel yang ada dikebun tersebut yang bisa mereka beli. Padahal, menurut pamflet yang mereka baca dari seminar mahal yang mereka ikuti, perkebunan ini terdiri dari berbagai pohon buah tropis diwilayah garis khatulistiwa. Kelompok yang kesal ini saya ibaratkan adalah kelompok pengelola jurnal yang saya ceritakan diatas.

Sebenarnya ada dua kelompok sebagai tambahan pelengkap disini, yakni kelompok On The Job Training dan Kelompok penjual alat pemetik buah. Kelompok On The Job Training mengeluhkan regulasi yang merugikan karena buah yang mereka petik tidak dibayar dengan semestinya seperti yang dilakukan orang didalam kebun tersebut. Lamanya mereka menunggu bisa mencapai 5 tahun atau lebih. Harapan agar buah yang mereka kumpulkan akan terhitung suatu saat, ternyata buyar karena manajemen kebun mengubah regulasi perkebunan. Kelompok terakhir adalah pejaja alat pemetik buah yang gregetan karena melihat orang didalam kebun masih mengandalkan metode tradisional padahal dirinya sudah berdiri sejak lama di dalam kebun menjajakan alat petik yang lebih canggih. Tidak perlulah saya mengungkapkan siapa yang saya ceritakan sebagai OJT dan Penjaja alat pemetik buah ini. Mungkin saja temannya sahabat penulis termasuk OJT yang masih berusaha legowo untuk menerima kenyataan regulasi tersebut.

memetik ide kti
naskah memetik ide kti

Sesuai dengan topik “memetik ide”, kesemua kelompok diatas sudah berada ditempat yang sama. Namun mereka sepertinya belum menyadari output sebenarnya yang perlu diusahakan. Kelompok remaja perlu disadarkan bahwa novelty tidak harus benar benar “baru”, atau kebaruan 100 persen. Menambahkan kebaruan 1% pun bisa dikatakan berbeda asalkan kita berhasil meyakinkan pembaca bahwa ada kebaruan dari KTI yang ditulis. Sebagai contoh, smartphone yang kita pegang saat ini tidak ujug-ujug ada menjadi smartphone yang langsing dan bisa menyelip dikantong jeans. Dulu, telepon malah tidak bisa dipindahkan karena ukurannya yang seperti komputer. Namun karena adanya penambahan inovasi sedikit demi sedikit, dalam waktu yang cukup lama terciptalah smartphone yang sudah tidak bisa lepas dari gengaman ini.

Kelompok penikmat pohon apel perlu disadarkan bahwa buah yang ada dikebun ini tidak hanya apel saja. Mungkin merek perlu dicolek, atau didorong, atau disenggol supaya matanya secara tidak sengaja melihat buah mengkudu dan buah durian yang nilainya tidak jauh berbeda dengan buah apel di mata pembeli.

Ada sedikit tips yang saya peroleh dari sebuah pelatihan. Bahwa ide bisa saja dari orang lain, ide bisa berasal dari petani, bisa berasal dari kebiasaan seseorang yang belum tertuang menjadi KTI. Makalah saya tentang cengkeh salah satu produk dari tips ini. Kesemua orang di lapangan tampak setuju bahwa cengkeh di daerah timur sudah banyak yang tua dan berkurang produktivitasnya. Tetapi masih sedikit orang yang berhasil menuliskannya menjadi sebuah analisis yang mendalam, hanya sekedar pembahasan narasi sebagai pelengkap atau narasi pembukaan untuk mengungkapkan sebuah permasalahan di latar belakang. Terkadang ide berseliweran disekitar kita namun kitalah yang perlu mengupgrade atau mendatangi penjaja alat pemetik buah agar lebih efisien memetiknya.

Ini hanya tulisan mantan OJT di suatu pagi saat sarapan sambil menunggu jam berangkat kantor tiba. Buat pemerhati apel, sadarlah jika masih ada buah gandaria yang tidak kalah uniknya untuk dipetik dan dijual.

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *