Mekanisme bansos mempengaruhi harga pangan

Bansos atau bantuan sosial merupakan program pemerintah untuk membantu masyarakat menengah ke bawah. Bantuan tersebut bertujuan untuk meminimalisir dampak terjadinya kenaikan bahan pokok atau pengurangan subsidi masyarakat.

Akhir-akhir ini, harga pangan terutama beras mengalami kenaikan. Banyak masyarakat menduga kenaikan ini merupakan dampak bansos pemerintah. Artikel ini berusaha menjelaskan bagaimana mekanisme bantuan pemerintah dalam menjaga harga pokok komoditas, dan dampak yang terjadi.

Pertama, harga yang terbentuk di pasar merupakan harga keseimbangan antara kurva penawaran dan permintaan. kurva permintaan (QD) menjelaskan bahwa jika terjadi penurunan harga maka akan terjadi peningkatan permintaan. Atau sebaliknya, jika harga semakin meningkat maka jumlah permintaan akan turun.

Kurva lainnya adalah kurva penawaran (QS) yang menjelaskan hubungan harga dengan jumlah barang penawaran. “Penawaran akan ikut naik jika terjadi kenaikan harga”. Kita bisa memahami bahwa harga yang tinggi tentu memiliki peluang margin keuntungan yang tinggi juga.

Kedua kurva tersebut membentuk suatu titik keseimbangan pada E0, yang memiliki harga (P0) dan kuantitas (q0) dalam sebuah pasar.

bansos beras

Muncul Bansos membentuk keseimbangan baru

Kini pemerintah masuk dalam pasar. pemerintah mengintervensi harga pasar. Intervensi tersebut dalam bentuk batasan harga maksimum. Pada sisi yang lebih ekstreem, pemerintah membagikan beras atau komoditas tertentu secara gratis.

Maka akan timbul kurva di bawah ini:

Pemerintah memberlakukan harga P1. Harga tidak boleh melebihi P1, dan P1 ini lebih rendah dibanding P0 atau harga keseimbangan awal. Sebenarnya, pada kondisi ini pemerintah sedang menanggung biaya sosial, yakni luas area dengan selisih P0 dan P1 dan sisi selisih Q1 dan Q0.

Bansos pembagian pemerintah menimbulkan setidaknya dua efek. Efek pertama yakni keseimbangan E1. Sesuai dengan kurva permintaan, maka harga yang turun akan menimbulkan jumlah permintaan naik. Maka bergeraklah permintaan yang awalnya q0 menjadi q1. Masyarakat pada kondisi ini meminta beras lebih banyak karena adanya bantuan beras yang gratis. Kondisi ini terjadi selama program bansos berjalan. Arti permintaan ini adalah permintaan agregat, jadi bisa timbul dari masyarakat atau pemerintah untuk kegiatan bansos tersebut. Jadi meskipun masyarakat tidak melakukan permintaan, pemerintah melakukannya dengan jumlah yang banyak.

Efek kedua, terjadi ketika pemerintah menghentikan bansos. perhatikan gambar berikut:

bansos pemerintah

Ketika pemerintah menghentikan bansos, maka dalam jangka pendek, masyarakat belum menyadari bahwa bansos dihentikan, yang artinya kondisi ekuilibrium masih berada di E1. Ketika area subsidi dihilangkan, maka kuantitas di kurva permintaan atau q1, akan menemui titik pasangan di kurva penawaran dan menemukan keseimbangan baru di E2.

Jumlah permintaan yang tinggi dengan tidak menambah supply di sisi penawaran berarti kurva penawaran dianggap tetap. Pada kondisi tersebut akan timbul gejolak kenaikan harga di P2. Kondisi ini sebenarnya bersifat jangka pendek. Karena konsumen secara perlahan akan menyadari kondisi sebenarnya sehingga akan mengurangi permintaan dan kembali ke keseimbangan awal atau E0, meskipun terkadang tidak pernah kembali persis sama.

Penutup: operasi pasar murah

Ini adalah teori. Namun Teori ini menjelaskan bagaimana mekanisme program bansos mempengaruhi harga pasar. Jadi tidak hanya melulu tentang stok yang berkurang, meskipun mekanisme stok juga bisa menyebabkan kelangkaan dan berimbas kepada kenaikan harga. Penjelasan ini menggunakan asumsi bahwa stok cukup, dan pemerintah tidak melakukan impor untuk kebutuhan bansos. Cateris paribus.

Timbul pertanyaan: Mengapa pemerintah melakukan operasi pasar murah, jika hal tersebut ternyata tidak efektif menurunkan harga? Operasi pasar murah biasanya bersifat sementara sembari menunggu panen raya tiba sehingga harga kembali ke titik ekuilibrium awal. Jadi keseimbangan kurva penawaran dan permintaan tetap berlaku dan stok atau supply sangat berperan dalam hal ini. Harga tetap akan melambung meskipun pemerintah setiap hari melakukan operasi pasar murah jika stok tidak kunjung membaik, terutama berbicara komoditas sayuran. Maka, terkadang kebijakan impor merupakan solusi untuk menurunkan keseimbangan harga tersebut.

Fluktuasi harga ini sebenarnya bisa diantisipasi dengan teknologi Remote sensing yang bisa mengakumulasi secara cepat luas dari sebuah komoditas. Selamat Belajar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *