Uji validitas dan reliabilitas digunakan saat pembuatan instrumen penelitian seperti kuesioner. Kuesioner yang digunakan diuji terlebih dahulu apakah valid dan reliable. Berdasarkan beberapa sumber (Azwar, 1986), (Zulganef, 2006), (Sugiharto dan Sitinjak, 2006), validitas secara sederhana dapat diartikan menurut arti kata itu sendiri “valid” yang artinya bahwa apakah kuesioner yang dihasilkan ini mampu memberikan data yang akurat atau tidak .

Masih berdasarkan arti katanya, “reliable” memberikan pengertian apakah kuesioner yang akan digunakan dapat diandalkan atau tidak. Seberapa kuat kuesioner tersebut dapat digunakan dalam mengoleksi data di lapangan.

Mengapa harus valid dan reliable?

Dalam teknis pengujiannya, uji validitas menggunakan korelasi. Mengapa demikian? Korelasi menandakan bahwa terdapat hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Artinya jika semua variabel pengamatan memiliki korelasi yang baik menandakan bahwa kuesioner yang disusun memiliki komprehensif dan topik yang spesifik.

Hal ini membantu peneliti untuk mampu membahas persoalan atau topik yang diangkat secara detil, karena antar variabel saling mendukung. Berbeda halnya jika ternyata sebagian besar variabel tersbeut tidak memiliki korelasi, bisa diartikan bahwa topiknya terlalu melebar dan sulit bagi peneliti nantinya untuk menyusun narasi satu variabel dengan variabel lainnya.

Masih dengan alasan yang sama, reliabilitas juga menghitung seberapa andal kuesioner tersebut dihitung dengan cara melihat dari nilai varians dibandingkan varians total (rumus Alpha Cronbach). Makin kecil selisih varians masing masing variabel dengan variabel secara total, maka kuesioner tersebut akan menghasilkan nilai alpha yang tinggi yang artinya semakin reliabel atau andal untuk digunakan.

Praktek uji validitas dan reliabilitas

Saya memiliki contoh file sebagai latihan yang  bisa di download pada link dibawah ini:

Data latihan uji validitas dan reliabilitas

Data tersebut memiliki 28 pertanyaan dimana 23 pertanyaan dikelompokkan pada pertanyaan independen variabel, dan sisanya adalah pertanyaan untuk dependen variable dengan 51 jumlah responden.

Uji validitas

Pertama kita copykan data tersebut di SPSS :

data yang akan diolah

Kemudian klik analyze – correlate – bivariate

klik analyze – correlate – bivariate

Pada tampilan windows kita isikan Q1 sampai Q23 dan nilai X pada variables, beri centang pada pearson, two-tailed dan flag significant correlations.

Memberi isian Q1 sampai Q23 bermaksud untuk melihat validitas terhadap pertanyaan variabel variabel independen terhadap nilai X.

masukkan nilai Q1 – Q23 dan nilai X

Kemudian klik OK, dan perhatikan nilai significant (nilai pearson correlatin) variable X dengan masing masing hubungan variabel  (nilai berkisar antara 0 – 1). Semakin tinggi nilainya maka semakin bagus. Biasanya patokan nilai valid adalah diatas 0.3

hasil uji validitas

Jika dilihat dari nilai pearson correlation, kuesioner ini sudah OK karena semua nilai korelasinya diatas 0.3.

Permasalahannya adalah apabila peneliti ingin mengambil hanya 30 sample responden namun tetap valid dan reliable. Hal ini bisa disebabkan karena peneliti tersebut sudah membuat aturan pada proposalnya bahwa uji valid dan reliablenya menggunakan 30 responden. Otomatis dia harus memilah 51 responden tersebut menjadi 30 responden namun tetap valid.

Pengambilan 30 data yang akan di uji validitas tidak sepenuhnya mudah, perubahan jumlah sample akan mempengaruhi hasil uji validitas. Sebagai contoh, berikut data diambil dari responden 1 sampai 30 secara berurutan.

hasil uji validitas dengan n = 30

Terdapat satu variabel atau pertanyaan pada Q1 yang menjadi tidak valid (korelasinya dengan nilai X dibawah 0.3). Maka perlulah sedikit trik untuk mengetahui cara mengiliminasi responden tersebut.

Berasumsi mengunakan data sebelumnya, eliminasi akan dilakukan sehingga datanya berjumlah 30 (n=30). Karena jumlah awal n = 51, maka kita akan mengeliminasi sebanyak 21 responden.

Bagaimana caranya?

Karena data kelompok X (independen) juga merupakan data kelompok Y (dependen), maksudnya responden yang sama, maka dalam eliminasi ini akan mempengaruhi kedua kelompok secara langsung. ini lah yang menjadikan tantangan karena menemukan formulasi responden yang tepat untuk kelompok X belum tentu tepat untuk kelompok Y.

Pertama, kita perhatikan sifat dari korelasi yang dihasilkan. Mayoritas adalah berkorelasi positif. Artinya semakin tinggi nilainya maka korelasinya semakin kuat.

Kedua, beri rank pada nilai X dan nilai Y. jumlahkan nilai rank X dan Y kemudian short dari nilai yang terbesar ke nilai yang terkecil.

menyeleksi responden

Data yang akan kita eliminasi adalah data yang berada dalam rank menengah. Karena data ini berjumlah 51, maka nilai tengah berada di rank 25 atau 26. Perhatikan bahwa jika rank X adalah 25 maka belum tentu rank Y juga 25. Dalam hal inilah yang menjadi patokan mengeliminasi.

Prioritas utama adalah yang kedua duanya memiliki rank menengah. Kemudian setelah itu, pilih nilai rank yang mendekatinya. Misal salah satu X atau Y memiliki rank menengah.

arsir kuning akan di delete

Yang berarsir kuning adalah data yang akan didelete.

Hasil sortir eliminasi data ada pada file berikut:

Hasil sortir data uji validitas

Kemudian kembali dilakukan uji validitas dan hasilnya adalah sebagai berikut untuk kelompok X.

hasil uji validitas setelah eliminasi

Dan untuk kelompok Y:

hasil uji validitas untuk kelompok Y

Uji Reliabilitas

Klik analyze – scale – reliability analysis, kemudian isikan pada windows yang muncul Q1 sampai Q23 (nilai X tidak dimasukkan) kemudian gunakan model = alpha. Klik OK

Oh iya, nilai yang dimasukkan tentu saja nilai atau data yang sudah dieliminasi hasil uji validitas diatas ya..

Akan muncul hasil output cronbach alpha, jika nilainya lebih besar dari 0.6, maka kuesioner tersebut dikatakan reliable.

Berikut hasil uji reliable pada latihan ini untuk kelompok pertanyaan independen variabel.

Dan berikut untuk kelompok dependen variable:

Terima kasih, selamat belajar!

Peneliti bidang sosial ekonomi pertanian. Pernah bekerja di bidang supply chain. Detil info silahkan kunjungi laman about me.

Join the Conversation

80 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Pagi Pak..mau tanya kenapa uji var X dan Y harus dipisah?kenapa bukan digabung lalu dibandingkan dg nilai total X dan Y?terimakasih sebelumnya?

  2. Pak izin bertanya, apabila saya sudah menguji validitas variable 1, 2, dan 3 namun variable 3 belum valid. Saya melakukan perubahan pertanyaan terhadap variable 3 dan menyebarkan angket ke responden berbeda. Apakah boleh Pak ?

  3. Pak saya mau nanya saya sedang penelitian mohon untuk di jawab untuk penyebaran kuisioner di lingkup populasi penelitian saya hanya berjumlah 4 orang apakah kuisioner yang di sebar ke 4 orang itu bisa di uji reliabilitas dan validitas? Apakah ada kriteria untuk responden terkait junlah respondennya untuk membuat uji validitas dam reabilitas?

  4. selamat malam pak, izin bertanya apakah data yang telah dieliminasi perlu disebar kembali ke responden untuk kedua kalinya? kemudian untuk data yang telah dieliminasi otomatis indikator juga tereliminasi, apakah itu tidak apa-apa?

    terimakasih banyak pak 🙏

    1. Pertama iya perlu diisi ulang kepada responden lama. Kedua bisa dieliminasi indikatornya. Tapi klo itu indikator yang penting, kuesionernya saja yang diubah atau diganti. Ini hanya validasi kuesioner, belum masuk ke indikator jadi tdk berarti indikatornya bermasalah. Terima kasih

  5. Pak mau tanya apakah uji validitas ada ketentuan kreterianya untuk perapa responden. Sedangkan saya jumlah sampel responden ya sekitaran 192 . Mohon penjelasannya pak?

  6. Pak saya mau bertanya, klu 75 responden di awal brp responden yg ideal untuk uji validitas nya pak? Terima kasih

  7. Selamat malam, saya ingin bertanya. Apakah boleh saya melakukan kuesioner uji coba kepada populasi yang berbeda dengan populasi penelitian nanti? (misalnya, untuk uji coba saya menyebar ke karyawan kota x, tetapi untuk penelitian saya menyebar kuesioner ke karyawan kota y). Terima kasih..

  8. Assalamualaikum pak, ijin bertanya. Kalau misal penelitiannya hanya berbentuk survey (tidak mencari hubungan antar variabel) apakah tetap harus dilakukan uji validitas? selanjutnya, jika memang harus dilakukan uji validitas nanti rumus yg masukan X sama Y nya gmna ya pak karena lebih dari 2 variabel akan tetapi tidak mencari hubungan. Terimakasih sebelumnya pak.

    1. tetap dilakukan uji realibilitas dan validitas. jawaban lebih detil silahkan melihat video TJBudi#02. terima kasih

  9. Haloo, Pak..
    Saya ijin bertanya, bila terdapat banyak pertanyaan namun hanya butuh 2 responden/narsum saja apakah perlu diuji pertanyaannya, pak? Sedangkan pertanyaannya itu sudah pasti atau semacam SOP dari framework auditnya seperti itu, pak. Baiknya gimana ya, pak?

    1. jika 2 responden saja maka tidak perlu dilakukan uji pertanyannya. simak lebih lengkap jawaban ini di video youtube dengan judul TJ Budi #1

  10. Ohh gitu pak. Soalnya penelitian saya langsung nyebar ke responden penelitian pak. Lalu sama dosen saya di komentari harusnya disebar ke responden lain yg karakteristiknya sama. Kalau memang mau langsung ke responden harus nunjukin teorinya yg membolehkan pak. Udah coba caro teorinya belum nemu pak. Itu gimana ya pak?

  11. Assalamualaikum Pak saya mau bertanya. Kalau uji valid dan reliabel langsung disebar ke sampel penelitian boleh pak? Kalau memang bisa saya bisa nemu teorinya dimana ya pak yg menyatakan bisa? Mohon dijawab ya pak. Terima kasih

    1. wa alaikum salam..idealnya dilakukan setelah pembuatan kuesioner untuk menguji kuesioner. Jadi tidak perlu mencari teori yang bisa disebar kepenelitian ya.. karena terkadang realitanya tidak ideal. tapi apa itu dilarang? sepertinya tidak karena biasanya responden yang diambil melebihi kebutuhan sampling dengan dilengkapi enumerator saat wawancara. sehingga bias informasi akibat penulisan kuesioner bisa dihindari.

      1. Ohh gitu pak. Soalnya penelitian saya langsung nyebar ke responden penelitian pak. Lalu sama dosen saya di komentari harusnya disebar ke responden lain yg karakteristiknya sama. Kalau memang mau langsung ke responden harus nunjukin teorinya yg membolehkan pak. Udah coba caro teorinya belum nemu pak. Itu gimana ya pak?

        1. benar dosennya mbk.. apalagi untuk skripsi yang notabene masih belajar meneliti. Buku selalu bicara ideal mbk. sepertinya akan sangat sulit mencarinya. terima kasih

  12. Assalamualaikum pak maaf mau tanya
    kalau seumpama responden asli saya untuk penelitian adalah pasien dengan hipertensi, apakah ketika saya lakukan validitas dan reliabilitas harus pasien hipertensi juga? atau boleh responden acak yang tidak bersangkutan dengan variabel penelitian saya/ pasien hipertensi?

    1. tidak perlu. uji validitas dan reliabilitas menguji alat kuesionernya. jadi belum masuk kedalam pengambilan data penelitian. terima kasih

  13. Selmat malam mau bertaya bagaimana caranya uji validitas dan reliabilitas jika variabel x terdapat 15 item dan hanya 1 responden sedangkan pada variabel y terdapat 16 item dan 15 responden..
    Bagaimna itu pak😇😇😇😇

    1. saya rasa tidak adil jika variabel x nya hanya 1 responden ya.. lebih baik ditambah dulu respondennya. bagaimana menganalisisnya jika hanya satu responden Mheili? terima kasih

  14. Selamat malam Pak agung.
    Saya mau tanya. saya punya 87 responden. Kira2 87 orang tersebut menjadi objek data pengujian valid dan reliabel atau saya mengambil 30 orang saja sebagai pengujian valid dan reliabel ? Kemudian sisanya 57 orang untuk uji korelasi

    1. selamat pagi, bisa semuanya.. pengujian valid dan reliabel bisa mengambil 30 responden saja. kemudian seluruh responden (87 responden) bisa digunakan untuk uji korelasi dan lainnya sesuai tujuan penelitian. terima kasih

  15. Halo pak, izin bertanya. apakah uji validitas harus dilakukan sampai semua data valid? Atau apabila ada atribut yang tidak valid dapat langsung dibuang dan dilanjutkan uji reliabilitas? Terimakasih sebelumnya pak

  16. Assalamualaikum izin bertanya, jika responden di uji validitas variabel X dan Y berbeda apakah boleh? Misal responden di uji validitas di X itu 70 orang sedangkan responden di di uji validitas Y 30. Apakah boleh pak? Apakah bisa mempengaruhi di uji reliabilitasnya?

    1. jawabannya tidak boleh. karena responden di variabel x adalah responden yang sama untuk variabel Y. terima kasih

  17. Halo mas, saya mau tanya. Jumlah sampel saya ada 20 responden, dan jumlah pertanyaan dalam kuesioner saya ada 14 butir. Apakah itu terlalu sedikit dan bisa mempengaruhi uji nya? Karena saya sudah mencoba untuk menguji datanya, walaupun valid tapi di korelasinya negatif dan signifikasinya sangat lebih dari 0,005. Kira kira solusinya apa ya? Mohon pencerahannya.

    1. dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan korelasi positif atau negatif ya mbk.. jika sudah valid dan reliable maka kuesioner tersebut siap digunakan. mengenai hasil penelitiannya itu hal yang berbeda. terima kasih

  18. Selamat malam mas, apabila saya melakukan pre test pada 100 responden Lalu ternyata hasilnya valid Dan reliabel, apakah itu tidak masalah ? Terima kasih

  19. Selamat malam pak, kalau misal data saya x,y,z nya valid tapi ada beberapa item yg ketika uji reliabilitas tdk reliabel, lalu hrs bagaimana agar reliabel?

  20. selamat malam pak.. perkenalkan saya dini, mahasiswa yg sedang skripsi.

    mau menanyakan beberapa hal pak. jadi saya pre test ke 30 responden, setelah olah data semua pertanyaan valid. tetapi variabel x1 tidak reliable. kira-kira itu karena faktor apa ya pak? padahal penilaian yang diberikan responden bagus yaitu rata2 penilaiannya pada range 4-5 dengan skala interval. apakah saya perlu sebar kuesioner ulang? kira-kira agar valid dan reliable kuesioner itu harus seperti apa?

    saya sangat mengharapkan jawaban dari bapak. atas perhatiannya terima kasih.

    1. ini pertanyaannya bisa buat saya nulis artikel khusus nih mbk..hehehehehe.
      di bagian awal dari artikel ini saya sudah tuliskan penyebab tidak reliabel biasanya karena variansnya kurang banyak. atau jawaban responden kurang bervariasi. hal ini dikuatkan oleh cerita mbk dini bahwa responden memberikan penilaian yang bagus dengan range 4-5. lalu 1 – 3 nya ga pernah diisi? jangan terlalu takut dengan responden yang memberikan jawaban nilai rendah karena secara statistik akan memberikan varians yang bagus.
      apa yang harus dilakukan? tergantung mbk sendri. bisa menambah responden bisa juga membuang x1.
      terima kasih ya.. subscribe my channel.

  21. Kaa mau nanya, kalau mau melakukan ujinya validitasnya minimal berapa responden dulu yang kita libatkan?

      1. Assalamualaikum wr wb, mohon izin bertanya mas. Jumlah responden 30 untuk statistik. Boleh tau pustakanya dari mana? Terima kasih

  22. Selamat malam Pak, izin bertanya apakah uji coba instrumen penelitian itu boleh dilakukan pada sampel penelitian? Takutnya nanti jawaban responden saat uji coba berbeda dgn jawaban saat penelitian yg sesungguhnya. Mohon pencerahannya Pak, terima kasih.

  23. Selamat siang pak. Saya mau bertanya, apakah item2 pernyataan yang tidak valid tdk diikut sertakan dlm uji reliabilitas pak? Dan kenapa demikian?

    1. logikanya cukup sederhana. bagaimana kita bisa menilai reliable sedangkan pertanyaan tersebut sudah terbukti tidak valid?

  24. Izin bertanya, untuk uji validitas apakah harus di luar sampel penelitian? Kemudian untuk uji reliabilitas apakah dengan data yg sama maksudnya responden yg sama dengan uji validitas? Dan untuk uji reliabilitas soal yg tidak valid tidak di ikut sertakan? Terimakasih

    1. pertama tidak harus, bisa iya bisa tidak, tergantung kondisi. kedua iya, responden yang sama. ketiga bisa tidak diikutsertakan, bisa diperbaiki kemudian uji validitas lagi. terima kasih

  25. Selamat malam, ijin bertanya jika saya mengambil 30 responden dari 90 sampel yg akan diuji,, dan sudah didapat hasil instrumen pertanyaan yg valid, apakah 30 responden yg dipake uji valid td perlu mengisi kuisioner yg sudah valid td untuk uji korelasi/regresi berhubung item pertanyaannya pasti tidak jauh berbeda. Mohon penjelasan

  26. Selamat malam ijin bertanya,
    Apabila untuk uji valid n reliabel saya mengambil sampel 30 dari 90 responden yg akan diteliti,, kemudian didapat hasil instrumen yg valid dan reliabel,, lalu apakah 30 sampel uji valid/reliabel td perlu untuk mengisi pernyataan kuisioner yg sudah valid td yg nantinya digunakan untuk uji korelasi,, mengingat pernyataannya pasti akan masih sama klo valid semua ataupun klo ada yg tidak valid tinggal di drop,, mohon penjelasannya.

    1. jika responden pada uji validasi dan reliabel tersebut memang responden sampling untuk penelitian, maka silahkan saja langsung diambil datanya. tapi pengujian validasi dan reliable tidak harus responden sampling. bisa saja teman dekat, maka biasanya responden untuk uji korelasinya berbeda dengan responden validasi. terima kasih

  27. Selamat sore Pak Agung,
    Saya ingin menanyakan perihal uji validitas dan reliabilitas terhadap soal tes Pilihan Ganda berjumlah 30 butir. Saya sudah mengujinya terhadap 40 responden, dan setelah diolah secara statistik, hasil menunjukkan bahwa tes Pilihan Ganda tersebut valid dan reliabel. Pertanyaan saya adalah, saya hanya ingin memastikan apakah pemilihan 40 responden yang saya lakukan sudah benar? Sebenarnya adakah teori yang menyatakan bahwa jumlah responden boleh minimal 30? Terima kasih sebelumnya Pak.

    1. Selamat sore pak.. silahkan membaca artikel minimal data responden regresi di blog ini. Jawaban saya masih sama. Terima kasih

  28. Assalamualaikum. Saya baru baca artikel ini. Saya mau tanya, pak. Item pertanyaan variabel Y saya ada 6 dgn sampel berjumlah 376. Pas uji reliabilitas, 6 item itu tidak reliabel dan validitasnya pun di bawah rata-rata (<0,3). Pasalnya, item pertanyaan var. X yg jumlahnya 14 itu valid sma reliabel. Bagaimana pak? Apa saya harus mengubah pertanyaan, menyebarkan kuesioner lagi, atau ada yg salah dalam jumlah pertanyaan dan sampelnya? Makasih

  29. Assalamualaikum. Saya baru baca artikel ini. Saya mau tanya, pak. Pertanyaan untuk variabel X saya ada 6 dengan sampel 376. Pas saya uji, 6 item tersebut valid tapi tidak reliabel. Alhasil, berpengaruh pada validitas itemnya di uji reliabilitas. Apakah saya harus menambah pertanyaan lagi atau uji ulang var. Y? Soalnya yg variabel X (ada 14 item pertanyaan) itu valid sama reliabel semua. Terimakasih

    1. Iya…artinya terjadi pemahaman yang tidak sama antara pembuat pertanyaan dan responden. Kuesioner perlu diubah dan survey ulang lagi. Terima kasih

  30. selamat malam, izin bertanya
    uji validitas dan reliabilitas menggunakan sampel penelitian apa boleh ?
    terima kasih

  31. Assalamu’alaikum pak.. Maaf Pak.. mau bertanya
    Untuk uji validitas kuisioner tapi jumlah sampel hanya 4 responden itu bagaimana njih? Soalnya kalau membandingkan r hitung dengan r tabel, r tabelnya tidak memenuhi.. 🙏

    1. wa alaikum salam… baiknya evaluasi kuesionernya dulu mbk. dikuatirkan kuesionernya belum runut dan mudah dimengerti responden. baru uji validasi dengan responden baru. terima kasih

    1. Tolong klo bertanya yang jelas ya… Juga ucapkan salam sebelumnya. Kita saling menghormati disini. Terima kasih

  32. tamya dong. apkah uji validitas dan reliabilitas menggunakan data riil atau boleh ngarang sendiri untuk menguji kuisonernya?

  33. bagaimana kalau peneliti tidak sebar kuesioner uji 30 yg valid sama relia? tapi langsung mengambil 100(misal) responden dari jumlah total sampelnya baru di uji

    1. seperti itu yang sering dijumpai. alhasil setelah diuji ternyata tidak valid dan reliable baru mereka membaca artikel ini.

      1. uji validitas sebenarnya menilai kuesioner. apakah kuesioner tersebut bisa dipahami oleh responden (valid dan reliable), tidak ada miss antara jawaban soal satu dengan yang lainnya. maka dari itu, tidak memerlukan syarat berapa harus minimal responden yang dilibatkan. bahkan, responden juga tidak harus calon responden penelitian.

        mengenai jawaban 15 bisa atau tidak, itu tergantung rasa nyaman peneliti yang melakukan. saya tidak akan terjebak validitas minimal sekian sekian. terima kasih

        1. Uji coba instrumen itu bisakah dilakukan terhadap responden penelitian? Takutnya nanti responden TDK konsisten atas jawabannya. Beda jawabanx saat uji coba dgn saat sudah penelitian.
          Mungkin bisa diterapkan untuk kuisioner yg non tes, tp bgmn dgn instrumen tes misalx hasil belajar.
          Mohon pencerahannya. Terima kasih.

          1. selamat malam pak… pada dasarnya responden uji validasi dan reliable berbeda dengan responden penelitian. tapi bisa saja dilakukan di responden penelitian. biasanya menjadi sekaligus langsung penelitian juga langsung uji validasi. resikonya, jika tidak valid maka penelitian bisa diulang.

            begini, uji validasi itu memperlihatkan berapa kuat korelasi antara soal satu dengan soal lainnya. beberapa kasus ditemukan tidak berkorelasi atau tidak valid karena karena (1) tidak konsisten membuat skala, misalnya ada satu soal pilihan buruk hingga baik, dan 5 adalah nilai baik, sedangkan di soal yang lain ternyata ada nilai 1 justru yang bernilai baik. (2) kecenderungan acak responden, pada proses penjaringan data biasanya sudah dipolakan. misal pada bagian A org yang menjawab pendapatan tinggi, akan cenderung menjawab pengeluaran lebih tinggi dibanding yang menjawab berpendapatan rendah. kecenderungan ini yang akan menyebabkan nanti soal tersebut valid atau tidak. karena kecenderungan tersebut bisa disebabkan karena jelas atau tidaknya soal yang dibuat.

            solusi yang bisa saya tawarkan untuk instrumen tes adalah menggunakan responden selain responden penelitian. misalnya adalah panitia, atau guru, atau kakak tingkatnya. kemudian soal yang sudah valid tersebut diberikan ke peserta tes dengan acak. terima kasih

  34. Maaf menganggu, pak saya ingin bertanyaa selain melihat correlated item correlation (diskriminasi item) apa ada cara lain utk melihat valid atau tidak nya suatu item?
    Terima kasih

    1. mohon maaf.. data yang saya gunakan ini belum bisa dipublikasikan. jika mau, gunakan saja data random dan kemudian berlatih. terima kasih