Tips Menjadi Siswa Penulis KTI

Karakter siswa dalam dunia pendidikan berbeda dengan mahasiswa. Siswa cenderung lebih mengikuti paket yang telah ditentukan oleh pendidik di sekolah sedangkan mahasiswa menentukan sendiri paket pelajaran yang akan dipelajarinya. Hal ini menyebabkan siswa terkesan hanya menerima bahkan sebagian tidak tau mau kemana setelah lulus nanti. Ini termasuk fakta penulis saat SMU dulu (jujur banget).

Karakter yang sudah melekat tersebut menimbulkan sikap kritis yang kurang dan perlu diasah jika memang mau menjadi siswa yang extra ordinary. Sudah bukan masanya lagi siswa extra ordinary adalah siswa yang suka membolos, naik pagar, nongkrong dikantin, atau malah tawuran demi terlihat keren oleh rekannya. Zaman sekarang tentunya extra ordinary siswa adalah yang melek teknologi, menguasai komunikasi, membuat konten, youtuber, tik tok. Namun karena topik blog ini adalah karya tulis ilmiah, tentunya saya akan mengarahkan bahwa siswa yang extra ordinary itu adalah yang bisa membuat karya tulis ilmiah.

Saya tidak bilang menulis karya tulis ilmiah adalah mudah. Menyusun satu paragraf bagi orang yang belum terbiasa itu bisa membutuhkan waktu satu malam. Apalagi pada masa siswa tersebut masih dijejali oleh teori seperti paragraf deduksi paragraf induksi ataupun campuran. Alih alih mengeluarkan kreatifitas, idenya malah mandek karena harus memenuhi syarat materi sekolah.

Sebagai orang yang pernah menjadi siswa dan pernah tergabung dalam sebuah kelompok ilmiah remaja, beberapa hal berikut yang menjadi batasan atau hambatan siswa dalam pembuatan karya tulis ilmiah

Kekurangan alat analisis

Pada dasarnya alat analisis belum menjadi mata pelajaran khusus di sekolah di era 2000-an, saya kurang tahu untuk era sekarang. Siswa hanya belajar tentang statistik dasar itupun hanya berkisar antara rata-rata, modus, nilai tengah, dan lain lain. bekal yang dimiliki siswa pada saat itu adalah analisis deskripsi dengan essay sebagai pilihan jenis karya tulisnya.

Padahal, alat analisis adalah modal penting bagi peneliti peneliti muda untuk meneruskan ide dan pikiran kritisnya. Alat analisis akan membantu mengusir dahaga pengetahuan dalam dunia realita baik dalam skala laboratorium atau sosial masyarakat. Seandainya mereka dibekali dengan rancob yang sederhana, ataupun beberapa analisis uji beda maka kualitas essai yang ditulis bisa ditingkatkan. Karya tulis ilmiah bisa kuat baik dari sisi kuantitatif maupun kualitatif.

Kurang berlatih dan suka membaca artikel ilmiah

Bagi saya yang saat itu hanya belajar untuk mendapatkan nilai ujian tinggi, belum begitu memikirkan apa yang terjadi dengan dunia luar. Pada saat itu juga berpikir belum masuk di salah satu jurisan tertentu, mengapa harus ambil pusing memahami salah satu isu? Berat memang menjadi siswa yang harus menguasai semua ilmu. Katakanlah seorang siswa IPA harus menguasai atau minimal mengerti matematika, fisika, kimia, biologi. Padahal masing masing mata pelajaran tersebut memiliki dunia yang luas pada artikel ilmiahnya masing masing. Siapa yang mau peduli?

Orientasinya lomba

Memenangi lomba adalah sebuah pengakuan yang menyenangkan bagi siswa. Pengakuan dari teman, guru dan diri sendiri bahwa kita bisa menulis karya tulis ilmiah. Padahal orientasi tersebut hanya menimbulkan hasrat singkat untuk latihan menulis. Selesai lomba, selesai juga latihan menulis.

Gantilah orientasi menang lomba dengan  pembentukan kebiasaan menulis sejak dini. Tidka mengapa jika tulisan itu berupa diary ataupun novel yang menceritakan perhatian bertepuk sebelah tangan. Toh pada intinya latihan menulis tersebut bertujuan melancarkan koordinasi otak dengan tangan.

Ketiga faktor tersebut yang menurut saya menjadi penghambat perkembangan siswa dalam belajar menulis karya tulis ilmiah. Untuk mengatasi hambatan tersebut, berikut adalah tips menjadi siswa yang lihai menulis karya tulis ilmiah

  1. Pahami pengertian dan jenis jenis karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah tidak hanya sebuah makalah, melainkan bisa berupa laporan kegiatan, essay, review, ataupun penjabaran pandangan terhadap sebuah fenomena. Kesemuanya memiliki trik yang berbeda. simak artikel dan video yang ada di dalamnya: pengertian karya tulis ilmiah.
  2. Berlatih sesering mungkin. Luangkan waktu minimal 15 menit dalam satu hari untuk menulis. Awalnya terasa berat, namun lama kelamaan kita akan terbiasa merangkai kata menjadi kalimat hingga menjadi sebuah buku. Saya pernah menuliskan khusus tentang ini. baca artikel : latihan menulis karya tulis ilmiah.
  3. Pelajari alat analisis. Bertanyalah kepada para senior yang pernah belajar metode penelitian dan pengolahan data. Mintalah mereka untuk mengajari alat analisis yang sederhana. alat analisis tersebut bertujuan untuk memecahkan permasalahan yang telah disusun sebelumnya. sebagai pemula, silahkan baca artikel berikut sebagai gambaran: uji t berpasangan.
  4. Pahami bagian pendahuluan melebihi bagian yang lain. pendahuluan adalah inti dari karya tulis ilmiah. Jika pendahuluannya bagus, diiringi oleh alat analisis yang tepat, maka karya tulis ilmiah akan menjadi menarik. point ini juga sudah pernah saya bahas pada artikel : hal yang wajib ada di bagian pendahuluan.
  5. Tingkatkan rasa kritis. Meskipun menjadi siswa menerima apa yang diberikan oleh guru, maka sesekali kritislah terhadap pelajaran. Jangan hanya menghapal pelajaran untuk nilai ujian, atau malah hanya membaca buku sehari sebelum ujian (ini juga fakta lho..)

    Tipsnya sudah diberikan lengkap dengan link sebagai penjelasannya. Keputusan menjadi atau tidak menjadi siswa yang ahli menulis ada di tangan kamu sendiri. Jika merasa ada hambatan, silahkan berikan komentar. Oh iya, maaf jika tulisan ini sulit dipahami. karena saya kurang paham dengan gaya tulisan anak muda zaman sekarang.

    Selamat Belajar!

You May Also Like

1 Comment

Leave a Reply to Regresi Tobit: Linear dengan batas bawah dan akhir Cancel reply

Your email address will not be published.