Home » Penulisan » Simulasi Neraca Perberasan Sumatera Utara

Simulasi Neraca Perberasan Sumatera Utara


Pemerintah dalam kabinet kerja mencanangkan upaya khusus untuk meningkatkan produksi padi secara nasional. Upaya tersebut berupa bantuan sarana input baik pupuk, benih dan alsintan untuk menggenjot luas tambah tanam atau biasa disebut sebagai LTT. Laporan LTT dilakukan perhari untuk memonitor luas areal padi yang dibudidayakan di suatu daerah. Bahkan, laporan tersebut juga divalidasi menggunakan satelit untuk mengetahui detil luas area lahan yang ditanami padi.

Seiring berjalannya program upsus tersebut, Kementerian Pertanian melakukan kerja sama dengan instansi lain seperti pemerintah daerah, TNI dan petugas penyuluh lapangan mengawal distribusi bantuan dan tercapainya target LTT yang telah ditetapkan. BPS selaku instansi yang berwenang dalam publikasi data resmi juga terlibat memvalidasi data LTT.

Kerjasama antar instansi tersebut membuahkan hasil yang baik. Data poduksi padi secara nasional meningkat signifikan dari tahun 2014 hingga 2019. Data menunjukkan produksi padi tahun 2017 mencapai 81.38 juta ton GKG atau meningkat 3.72% per tahun (Sulaiman et al. 2018). Provinsi Sumatera Utara pada awal pencanangan upaya khusus swasembada beras memiliki luas tanam padi sebesar 727.103 hektar. Nilai ini meningkat 61 % atau senilai dengan luas 1.174.571 hektar di tahun 2018.

Meskipun peningkatan LTT padi pada program upaya khusus dikatakan berhasil, namun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaannya. Pertama, sebagian masyarakat masih ragu terhadap kebenaran data yang dikeluarkan oleh Kementan dan BPS terkait dengan jumlah LTT yang menyimpulkan bahwa Indonesia seharusnya sudah mencapai swasembada beras. Hal ini terlihat adanya kesenjangan antara data yang tertulis dengan fakta di lapangan bahwa Indonesia masih mengimpor beras untuk cadangan pangan. Kesimpangsiuran argumen para tokoh pun dipertanyakan karena membicarakan hal yang berbeda, sebagian yakin bahwa pasokan beras nasional cukup disaat sebagian tokoh lainnya mengatakan perlu  impor.

Kedua, masih terjadi permasalahan distribusi terutama dalam hal pemerataan beras. Provinsi yang mengalami surplus beras seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan cenderung tidak terjadi problem stok pangan (Lantarsih et al. 2016). Namun berbeda halnya dengan kota kota besar khususnya Jakarta yang menggantungkan kebutuhan pangan dari wilayah penyangga di sekitarnya memiliki problem yang serius terhadap stok pangan. Harga sangat sensitiv terhadap perubahan stok mengingat beras merupakan kebutuhan pokok sehingga tetap dibeli meskipun harga yang mahal. Hal ini dapat terjadi karena fokus terhadap pencapaian produksi terkadang melupakan distribusi dan preferesi konsumen. Menurut (Krisnamuti and Sawit 2017), suatu daerah yang memiliki nilai produksi pangan masih lebih rendah dibandingkan kebutuhannya, cenderung fokus terhadap upaya pencapaian produksi secara agregat dan belum memiliki kebijakan tentang preferensi konsumen termasuk distribusi  komoditasnya.

Fluktuasi stok beras disebabkan karena pola produksi padi dan kebutuhan beras yang berbeda. Meskipun terlihat bahwa saat ini sebagian besar sudah melakukan musim tanam sepanjang tahun, yang dibuktikan dengan adanya nilai LTT disetiap bulannya, namun proporsi setiap bulan masih berbeda. Kecenderungan produksi padi masih menggantungkan musim hujan sehingga pada musim tersebut LTT lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau.

Pada sisi konsumsi, kebutuhan beras secara nasional cenderung tetap dan tidak mengenal musim. Hal ini disebabkan karena jumlah konsumsi beras secara langsung dipengaruhi oleh jumlah penduduk di suatu daerah. Meskipun secara agregat nilai konsumsi beras dikatakan terus menurun. Pada tahun 2009 (BPS 2018b) konsumsi beras mencapai 9 Kg/kapita/tahun, saat ini konsumsi beras turun hingga 7.56 Kg/kapita/tahun. Namun, penurunan tersebut jika diperhatikan hanya terjadi di kota – kota besar. Sedangkan daerah perdesaan dan urban masih memiliki tingkat konsumsi diatas rata – rata nasional.

Kedua pola produksi dan konsumsi yang berbeda, setidaknya akan menimbulkan dua kondisi yakni pertama, kebutuhan tentang gudang beras untuk menampung beras saat produksi lebih tinggi dibandingkan konsumsi. Kedua, kondisi pada saat produksi lebih rendah dibandingkan konsumsi sehingga konsumsi menggunakan pasokan stok dari produksi sebelumnya.

Oleh sebab itu, perlu adanya kajian tentang neraca perberasan yang membandingkan nilai produksi beras terhadap konsumsi disetiap bulan sepanjang tahun. Hal ini akan memberikan informasi dini terhadap kekurangan pasokan beras sehingga keberadaan beras dapat dipastikan memenuhi kebutuhan masyarakat. Meskipun dalam kajian ini masih menggunakan asumsi bahwa semua beras dapat memenuhi preferensi konsumen. Padahal, terjadi kecenderungan kenaikan preferensi konsumen terhadap kualitas beras terutama beras medium. Sehingga meskipun pasokan beras mencukupi secara agregat, dapat dimungkinkan harga beras bisa naik dan terjadi kelangkaan beras karena konsumen tidak menemukan beras sesuai dengan preferensinya. Hal ini dapat dijumpai pada konsumen perkotaan yang cenderung membeli beras dalam kemasan bermerk dibandingkan membeli beras curah di pasar.

Trend Produksi dan Luas Tanam Padi Sumatera Utara

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusat Data dan Informasi Kementan, produksi padi Sumatera Utara terus mengalami kenaikan sejak tahun 1990 (gambar 1). Lonjakan tertinggi pada tahun 1995 yakni mencapai 3.9 juta ton padi dengan selisih mencapai 900 ribu ton dari tahun sebelumnya. Meskipun pada satu tahun sesudahnya kembali turun ke angka 3.1 juta ton.

Pada periode 1996 hingga 2006 produksi beras dapat dikatakan stabil dalam range 3 hingga 3.5 juta ton pertahun. Kemudian produksi mengalami kenaikan trend positif yang tinggi  setelah tahun 2005 hingga 2016.  Puncak kemiringan tertinggi dicapai setelah tahun 2014 yang menandakan dimulainya program upaya khusus.

Berdasarkan produksi padi dalam range tahun 2010 hingga 2016, terdapat lima besar kabupaten penyuplai produksi padi tertinggi yakni Kabupaten Simalungun (14%), Kabupaten Deli Serdang (12%), Kabupaten Langkat (10%), Kabupaten Serdang Bedagai (8.6%), Kabupaten Mandailing Natal (5%) dan Batubara (4.5%).

Beberapa penelitian telah dilakukan terhadap faktor faktor yang mempengaruhi produksi padi di Sumatera Utara. (Azhar, Supriana, and Chalil 2011) mengemukakan bahwa produksi beras memiliki hubungan berbanding terbalik dengan impor, semakin tinggi impor maka produksi akan semakin rendah. Sedangkan (Siringo and Daulay 2014) mengemukakan bahwa perbaikan produktivitas dan produksi disebabkan karena adanya peningkatan penggunaan input pertanian dan luas lahan pertanian.

Tingkat Konsumsi dan Preferensi Konsumen

Preferensi berhubungan dengan berbagai faktor. Sebagian konsumen memilih beras berdasarkan harga, sebagian yang lain memilih berdasarkan atribut yang melekat pada komoditas tersebut, seperti rasa, pulen, warna, ukuran, dan lain – lain. Sebagian kecil loyal terhadap merk beras premium tertentu meskipun jenis atau varietas beras tidak selalu sama dari waktu ke waktu.

Menurut (Napitupulu, Alamsyah, and Malik 2017),  konsumen terbagi menjadi tiga kelompok dalam pemilihan preferensi beras. Pertama, konsumen yang berpendapat rendah menempatkan mutu beras secara umum pada kategori tertinggi, selain itu konsumen juga memilih lokasi pembelian dalam memilih mutu beras tersebut. Kedua, konsumen yang berpendapatan menengah menempatkan mutu beras yang lebih spesifik, yakni daya tahan dan aroma beras sebagai pertimbangan /utama dalam penentuan keputusan mengonsumsi beras. Perilaku konsumen cenderung tetap dalam pemilihan jenis dan varietas beras. Ketiga, konsumen yang berpendapatan tinggi lebih loyal terhadap jenis beras yang dikategorikan lebih penting dibandingkan atribut lainnya. Konsumen dalam kelompok ini tidak mempertimbangkan atribut iklan atau promosi beras yang dilakukan oleh produsen.

Karena termasuk bahan pokok, beras termasuk komoditas yang menyebabkan perubahan inflasi. Tingkat inflasi terutama di triwulan I mengalami perubahan karena adanya kegiatan panen besar di sentra produksi beras, seperti langkat, simalungun, Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Batubara (Putra, Yusuf, and Syafril 2014).

Meskipun beras merupakan komoditas penyumbang inflasi, Ketersediaan stok beras di Sumatera Utara dapat dikatakan stabil. Beberapa kajian tentang ketahanan pangan, perbandingan permintaan dan penawaran, dan rasio ketersediaan konsumsi pangan menyatakan hasil yang tidak berbeda yakni beras merupakan komoditas yang aman dari sisi stok di Sumatera Utara. Kajian tersebut antara lain dilakukan oleh (Winiarti 2015), (Silalahi, Sitepu, and Tarigan 2014), dan (Adelina, Lubis, and Ayu 2013). Adapun faktor yang mempengaruhi ketersediaan beras antara lain stok beras, luas areal panen padi, produktivitas lahan, jumlah konsumsi beras, dan harga beras.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, konsumsi beras di Sumatera Utara kurang lebih 7.56 Kg perkapita perbulan. Akan tetapi nilai tersebut memiliki kesenjangan yang tinggi antar daerah di Provinsi Sumatera Utara. Kota Pematang Siantar dan Binjai merupakan daerah dengan konsumsi palimg rendah, yakni mencapai 6 Kg/kapita/bulan. Sedangkan konsumsi tertinggi berada di Kabupaten Padang Lawas Utara yakni mencapai 11.08 kg/kapita/bulan.

Sebagai faktor langsung yang mempengaruhi besaran konsumsi beras, jumlah penduduk di Sumatera Utara diprediksi meningkat 11.38 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun (BPS 2015). Pada tahun 2015, jumlah penduduk Sumatera Utara sebanyak 13,961,440 jiwa dan diproyeksikan meningkat mencapai 15,550,460 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan beras sebagai konsumsi juga akan meningkat seiring tambahan penduduk. Peningkatan produksi beras tentunya beriringan dengan peningkatan produksi padi GKG dengan berbagai program yang dilakukan seperti intensifikasi, ekstensifikasi, dan optimalisasi lahan rawa.

Simulasi Neraca Perberasan Sumatera Utara

Ketahanan pangan khususnya beras di Sumatera Utara dapat dikatakan telah mencukupi kebutuhan konsumsi. Dilihat dari sisi produksi, pada tahun 2016 produksi padi mencapai 4.2 juta ton GKG. Angka tersebut jika dikonversi menjadi beras dengan nilai konversi 83.12 persen (BPS 2018a), maka setidaknya akan menghasilkan beras sebesar 3.5 juta ton beras. Jumlah tersebut melebihi nilai konsumsi yang hanya berkisar 1.3 juta ton untuk nilai konsumsi 8 kg/kapita/bulan.

Namun nilai tersebut tidak serta merta menggambarkan kondisi stok beras yang aman karena nilai impor beras di Sumatera Utara tetap ada. Impor memang tidak dapat digunakan sebagai indikator kekurangan pasokan pangan secara agregat tapi dapat menjadi alternatif kebijakan dalam kondisi tertentu  (situasional). Hal ini juga disebabkan karena produksi padi belum merata disetiap musimnya.

Situasi neraca produksi dan konsumsi beras dalam setiap bulan di tahun berjalan dapat digambarkan dengan menggunakan simulasi dinamis sistem seperti yang tertuang dalam gambar 2. Gambar di atas memperlihatkan bahwa neraca beras dipengaruhi oleh tingkat konsumsi dari sisi permintaan dan produksi dari sisi penawaran. Produksi beras ditentukan dari konversi produksi gabah yang dihasilkan dari lahan pertanian melalui luas tanam. Luas tanam memiliki delay produksi berupa periode sekali tanam atau musim tanam.

Luas tanam sendiri dapat dipenuhi oleh petani berdasarkan harga yang diterima sebagai sumber penghasilan. Selain itu, luas tambah tanam juga bisa dipengaruhi oleh program pemerintah dengan peningkatan IP ataupun optimalisasi lahan kering dan rawa.

Disisi konsumsi, keluaran beras dapat dikatakan tetap setiap bulannya. Meskipun pada akhir tahun terdapat hari hari besar, namun peningkatan tersebut lebih disebabkan karena perpindahan atau migrasi sementara penduduk dari kota ke pedesaan. Sisi permintaan dan penawaran tersebut tercermin dalam neraca beras yang selanjutnya akan mempengaruhi harga beras karena kondisi stok.

Gambar 3 menjelaskan tentang kondisi neraca beras di Provinsi Sumatera Utara menggunakan simulasi dinamis sistem. Terlihat pada gambar tersebut bahwa secara umum kebutuhan beras telah tercukupi. Neraca terus meningkat dari Bulan Maret hingga Agustus. Namun pada Bulan Agustus, Oktober, dan November terjadi defisit, yakni konsumsi lebih tinggi dibandingkan produksi. Defisit yang terjadi pada bulan tersebut dapat dijelaskan karena luas tanam pada Bulan April dan Mei tidak sebesar bulan yang lain.

Meskipun secara total kebutuhan beras dapat dipenuhi, namun perlu diingat bahwa petani pada umumnya tidak menyimpan gabah dalam jumlah yang besar. Kebanyakan petani justru menjual sekaligus gabah yang dipanen untuk mendapatkan uang tunai. Hal ini menandakan bahwa stok beras berada di tangan pedagang dan bulog.

Neraca perberasan terlihat lebih detil pada gambar 4 yang menceritakan di setiap sentra produksi beras di Sumatera Utara. Daerah tiga besar produksi beras yakni Simalungun, Deli Serdang dan Langkat memiliki rata – rata produksi padi tidak jauh berbeda yakni senilia 500 ribu ton padi GKG. Namun, Deli Serdang memiliki jumlah penduduk yang paling  besar, yakni mencapai 2.2 juta penduduk, sedangkan Langkat memilik penduduk 1 juta dan terakhir adalah Simalungun yang berkisar 880 ribu jiwa. Hal ini menjadikan daerah Kabupaten Simalungun memiliki surplus beras di setiap bulannya. Sedangkan Deli Serdang tampak defisit beras di Bulan Aprir hingga Juni, Bulan Agustus, Oktober, dan Desember. Sedangkan Kabupaten Langkat meskpun surplus, namun stok yang tersisa tidak terlalu banyak di pertengahan tahun, hingga pada Bulan September sampai Februari terjadi panen raya.

Sentra produksi selanjutnya yakni Serdang Bedagai, Mandailing Natal, dan Batubara. Diantara sentra produksi dalam kelompok ini, Serdang Bedagai memiliki jumlah penduduk tertinggi yakni mencapai 615 ribu jiwa. Sehingga meskipun Serdang Bedagai berada dalam posisi ke-empat dalam kontribusi beras, neraca beras dalam kabupaten tersebut selalu defisit sepanjang tahun.

Perbaikan Manajemen Rantai Pasok Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan

Asumsi yang digunakan dalam kajian ini adalah produksi beras yang dihasilkan diserap sempurna oleh konsumen. Padahal, konsumen memiliki preferensi terhadap jenis beras yang dihasilkan. Menurut kualitasnya beras bisa dibedakan menjadi beras premium, medium dan beras curah. Meskipun keberadaan stok mencukupi, terkadang harga beras naik apabila terjadi kelangkaan beras premium dan medium di kalangan konsumen tertentu.

Manajemen rantai pasok merupakan pengorganisasian aliran komoditas atau barang dan jasa yang dimulai dari proses penyediaan bahan baku hingga sampai di konsumen akhir. Pada prakteknya, rantai pasok tidak hanya mengatur tentang aliran barang melainkan pengorganisasian stok untuk mencukupi kebutuhan produk selama beberapa hari kedepan. Hal ini dapat dilakukan pada saat kuantitas tertentu yakni biaya penyimpanan produk lebih rendah dibandingkan biaya pengiriman barang. Selain mengantisipasi biaya transpostasi yang tinggi, manajemen stok juga diperlukan untuk menghadapi lonjakan permintaan pada saat peak season  seperti hari raya, libur sekolah, dan lain – lain. Menurut (Masyitha 2018), persediaan optimum Perum Bulog di wilayah Sumatera Utara sebesar 43.698 ton. Nilai ini jika dibandingkan dengan konsumsi bulanan penduduk Sumatera Utara hanya mengakomodir konsumsi selama 12 hari. Hal ini memang dapat dipahami karena Bulog bukan satu satunya pelaku rantai pasok beras dan hanya beroperasi saat kondisi tertentu seperti terjadi kenaikan harga dan panen besar.

amun demikian, manajemen rantai pasokan komoditi pertanain berbeda dengan komoditi non pertanian.\    Komoditi pertanian rentan dengan serangan organisme selama penyimpanan yang    menyebabkan komoditas mudah rusak. Menurut (Wahyuni 2013) bahwa karbohidrat, lemak dan energi di dalam beras akan mengalami penurunan selama masa penyimpanan 7-9 bulan. Hal ini menandakan bahwa aliran beras dalam sebuah gudang sebaiknya tidak melebihi masa simpan agar kandungannya tidak mengalami penurunan kualitas.

Jika melihat dari batas umur penyimpanan tersebut, kondisi kebutuhan beras di Sumatera Utara seharusnya dapat dipenuhi tanpa mendatangkan impor karena jumlah produksi dalam tahun yang sama sudah melebihi kebutuhan konsumsi. Namun, impor tidak hanya tergantung pada surplus atau defisit neraca perberasan suatu wilayah. Menurut (Satria 2018) impor beras di Sumatera Utara dipengaruhi oleh harga beras di pasar internasional, harga beras Sumatera Utara, jumlah permintaan beras dan tingkat inflasi di Sumatera Utara. Hal ini menandakan bahwa perlu adanya peningkatan daya saing beras Sumatera Utara secara komparatif dan kompetitif terhadap beras impor dipasara internasional. Peningkatan daya saing akan tercermin dari efisiensi biaya produksi yang menurunkan harga pasar beras.

Upaya peningkatan manajemen rantai pasok beras juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan luas tanam pada bulan April dan Mei, sehingga defisit neraca beras di Bulan Agustus dapat dihindari. Meskipun defisit tersebut dapat dipenuhi dengan stok di bulan sebelumnya, pemerataan produksi sepanjang bulan akan meningkatkan efisiensi rantai pasok karena memiliki rantai yang lebih pendek dan menekan biaya simpan dalam rantai pasok tersebut. Namun, tentu hal ini bukanlah perkara mudah mengingat pertanian sangat bergantung kepada iklim dan sumber daya air. Pemanfaatan lahan kering dan lahan rawa dapat menjadi alternatif untuk memenuhi permintaan beras tersebut. Sehingga penambahan luas area di lahan kering atau rawa diatur tidak berbarengan dengan padi sawah dan lahan eksisting.

Manajemen rantai pasok yang baik akan mendeskripsikan secara gamblang aliran komoditas, baik aliran masuk ataupun aliran keluar. Penimbangan komoditas di jalan utama penghubung provinsi dan kota akan membantu pemerintah memantau aliran komoditas termasuk data secara musiman. Data tersebut selanjutnya dapat menjadi input dalam sistem informasi yang lebih komprehensif.

Efektivitas para pelaku rantai pasok beras dari hulu hingga hilir dapat ditingkatkan melalui sistem informasi. Sistem informasi akan memudahkan komunikasi dan koordinasi terkait dengan pergerakan informasi dan data yang cepat. Sistem informasi akan mengakomodir kebutuhan petani untuk memasarkan produknya berdasarkan jenis beras dan membantu konsumen menemukan spesifikasi beras yang sesuai dengan preferensinya. Penguatan sistem informasi diiringi dengan peningkatan daya kompetitif beras akan menyebabkan produksi beras Sumatera Utara akan terserap terlebih dahulu sebelum mendatangkan beras dari luar Sumatera Utara.

DAFTAR PUSTAKA

Adelina, Puji, Satia Negara Lubis, and Sri Fajar Ayu. 2013. “Analisis Rasio Ketersediaan Dengan Konsumsi Pangan Di Kota Medan.” Journal on Social Economic of Agriculture and Agribusiness 2 (1): 1–13.

Azhar, Muhammad, Tavi Supriana, and Diana Chalil. 2011. “Hubungan Impor Beras Dengan Harga Domestik Beras Dan Produksi Beras Di Sumatera Utara.” Journal on Social Economic of Agriculture and Agribusiness 2 (6): 1–12.

BPS. 2015. Proyeksi Penduduk 2015-2025 Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Hasil SUPAS 2015. Medan: BPS Sumatera Utara.


———. 2018b. Statistik Pengeluaran Untuk Konsumsi Penduduk Provinsi Sumatera Utara. Medan: BPS Provinsi Sumatera Utara.

Lantarsih, Retno, Sri Widodo, Dwidjono Hadi Darwanto, Sri Budhi Lestari, and Sipri Paramita. 2016. “Sistem Ketahanan Pangan Nasional: Kontribusi Ketersediaan Dan Konsumsi Energi Serta Optimalisasi Distribusi Beras.” Analisis Kebijakan Pertanian 9 (1): 33. https://doi.org/10.21082/akp.v9n1.2011.33-51.

Masyitha. 2018. “Menentukan Persediaan Beras Berdasarkan Jumlah Permintaan ( Studi Kasus : Perusahaan BULOG Regional SUMUT ).” Universitas Sumatera Utara.

Napitupulu, Dompak MT, Zulkifli Alamsyah, and Adlaida Malik. 2017. “Konsumen Beras Preferensi Dan Kesediaan Membayar.” In Konsumen Beras Preferensi Dan Kesediaan Membayar, edited by M. Husein Sawit and I Wayan Rusastra, pertama, 274. Bogor: Agro Indo Mandiri.

Putra, Harry Permana, Yusbar Yusuf, and Basri Syafril. 2014. “Perbandingan Tingkat Inflasi Provinsi Riau Dengan Tingkat Provinsi Yang Berbatasan Langsung Dengan Provinsi Riau (Sumatera Utara, Sumatera Barat Dan Jambi) Selama Periode 2009 — 2013.” JOM FEKON 1 (2): 1–13.

Satria, Angga. 2018. “Pengaruh Produksi Beras Terhadap Impor Beras Di Sumatera Utara.” Universitas Sumatera Utara.

Silalahi, Doni, Rachmad Sitepu, and Gim Tarigan. 2014. “Analisis Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara Dengan Metode Regresi Data Panel.” Saintia Matematika 2 (3): 237–51.

Siringo, Headhi Berlina, and Murni Daulay. 2014. “Analisis Keterkaitan Produktivitas Pertanian Dan Impor Beras Di Indonesia.” Jurnal Ekonomi Dan Keuangan 2 (8): 488–99.

Sulaiman, Andi Amran, Kasdi Subagyono, Irsal Las, Zulfifli Zaini, Erna Suryani, Sri Hery Susilowati, Nani Heryani, Anny Mulyani, and Adang Hamdani. 2018. Membangkitkan Empat Juta Hektar Lahan Sawah Tadah Hujan Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan.

Wahyuni, Pebri Indah. 2013. “Perubahan Kadar Air, Zat Giza Dan Jumlah Tribolium Castaneum Herbst Dari Berbagai Umur Simpan Beras Jenis C4.” Journal of Chemical Information and Modeling 53 (9): 1689–99. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.

Winiarti, Diah. 2015. “Analisis Rasio Ketersediaan Dan Konsumsi Pangan Strategis Di Kota Medan.” Penelitian 4 (1): 1–14.

Like this article? Dont keep this to yourself!


Leave a Reply

Your email address will not be published.