Lembar sertifikat wisuda masih tergeletak di meja ketika surat penolakan kerja yang kelima datang. Aku membacanya perlahan, kata demi kata seperti tetesan air yang mengikis batu keyakinanku. *”Kami menghargai pengalaman Anda dengan SPSS, namun tim kami membutuhkan keahlian dalam Python atau R.”*
Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya seperti pukulan keras. Empat tahun kuliah. Puluhan juta biaya. Dan apa yang kudapat? Kemampuan mengoperasikan software bajakan yang bahkan tidak diakui di dunia nyata.Ā
Malam itu, di kosan sempit yang bocor ketika hujan, aku menatap laptop butut pemberian kakak. Layarnya masih menyala, memamerkan jendela SPSS 25āversi crack yang dibagikan dosen di grup WhatsApp kelas. Ikon biru itu tiba-tiba terasa seperti nisan bagi masa depanku.Ā
Ini bukan sekadar cerita tentang software bajakan. Ini tentang bagaimana sistem pendidikan membunuh impian, mengurung mahasiswa dalam keterbelakangan, dan menjadikan mereka korban dalam perlombaan yang bahkan tidak mereka sadari sedang terjadi.Ā
Ruang Lab yang Membunuh Rasa Ingin Tahu
Semester pertama praktikum statistik adalah pengalaman yang kubenci sekaligus kusayangi. Ruang lab ber-AC rusak itu dipenuhi tiga puluh komputer bekas proyek pemerintah, masing-masing dengan stiker “Dilarang Install Software Selain yang Disediakan”āsebuah peringatan sekaligus pengakuan kekalahan.Ā
“Untuk analisis hari ini, buka file Data_Praktikum_1.sav,” suara Bu Dosen menggema dari depan. Tanganku gemetar mengikuti instruksinya: klik Analyze, pilih Descriptive Statistics, lalu Frequencies.Ā
“Kenapa harus begini, Bu?” tanya Rina, teman sebangkuku.Ā
“Karena ini yang ada di modul,” jawab Bu Dosen tanpa ekspresi.Ā
Tidak ada penjelasan mengapa harus uji itu. Tidak ada diskusi tentang asumsi statistik. Kami hanya menjadi mesin pencetak output, buta terhadap makna di balik angka-angka itu.Ā
Di sudut ruangan, Aslam, asisten lab, berbisik padaku saat Bu Dosen tak melihat: “Sebenarnya bisa pakai R lebih cepat, tapi nggak boleh di sini.”
Aku mengangguk, tapi hati kecilku bertanya: Kalau lebih baik, kenapa dilarang?Ā
Kesenjangan yang Menghantui
Tahun kedua, aku mulai sering mengikuti workshop dengan praktisi industri. Dan di situlah kenyataan itu menghantamku.
Suatu hari, seorang analis data dari bank ternama mempresentasikan sistem prediksi risiko kredit. Layar proyektor menampilkan baris-baris kode Python yang elegan, mengalir seperti puisi. “Kami mengembangkan model ini dengan library Scikit-learn,” katanya bangga.Ā
Di sebelahku, Bayu berbisik: “Apa itu Scikit-learn?”Ā
Aku hanya bisa menggeleng. Di kampus, kami bahkan tidak pernah mendengar namanya.Ā
Setelah acara, aku memberanikan diri mendatangi Pak Dosen. “Kenapa kita tidak belajar tools seperti itu?”
Dia menghela napas panjang. “SPSS sudah cukup untuk skripsi. Tools lain terlalu sulit untuk mahasiswa S1.”
Tapi matanya berkata lain. Dan ketika suatu hari aku tidak sengaja melihat laptopnya yang terbuka, kudapati deretan tab browser:Ā
– Cara install Python
– Tutorial dasar Pandas
– Konversi syntax SPSS ke RĀ
Dia sedang berjuang sendiri, tapi terlalu takut untuk mengakui ketidaktahuannya di depan kelas.
Air Mata Seorang Guru Besar
Semester tujuh. Kejadian itu mengubah segalanya.
Profesor Andiāguru besar paling senior di jurusanāterlihat menangis di ruang dosen. “Makalahku ditolak jurnal internasional,” keluhnya pada rekan-rekannya. “Reviewer bilang analisisku ketinggalan zaman. Harus pakai metode machine learning dasar.”
Malam itu, di warung kopi dekat kampus, dia bercerita padaku dengan suara parau:Ā
“Kita semua terjebak, Nak. Dulu saat S3, aku hanya diajari SPSS. Sekarang di usia 60 tahun, aku disuruh belajar coding dari nol.”
Tangannya gemetar memegang smartphone butut. “Cucuku yang SMP saja sudah bisa Python dasar. Aku… aku malu.”
Di matanya, kulihat ketakutan yang sama seperti yang kurasakanāketakutan menjadi fosil di era yang bergerak terlalu cepat.Ā
Kosan 2×3 Meter yang Menjadi Gerbang Pembebasan
Setelah wisuda dan tujuh surat penolakan, aku memutuskan belajar Python. Kosan sempit itu menjadi saksi perjuanganku.
Minggu pertama adalah bencana. Aku menangis frustasi karena gagal install Anaconda. “Apa itu environment variable?” Aku mengutuk diri sendiri karena tidak mengerti istilah teknis sederhana.Ā
Tapi perlahan, dengan bantuan komunitas online, aku mulai memahami. Di minggu ketiga, aku berani bertanya di forum Python Indonesia. Di bulan kedua, script pertamaku berhasil *scraping* data e-commerce.
“Ini… ini jauh lebih powerful daripada SPSS,” gumamku sendiri, melihat data puluhan ribu produk terkumpul dalam hitungan detikāsesuatu yang mustahil kulakukan dengan software bajakan kampus.Ā
Empat bulan kemudian, dengan portofolio GitHub sederhana, aku diterima sebagai data analyst di sebuah startup. Gajinya tiga kali UMR.
Universitas di Jawa Tengah yang Memilih Jalan Berbeda
Dua tahun berselang, aku berdiri di depan mahasiswa sebuah universitas kecil di Jawa Tengah. Sebelum mulai workshop, Rektornya bercerita:
“Kami tidak punya dana untuk lisensi SPSS. Awalnya kami malu, tapi ternyata itu berkah.”
Mereka terpaksa pakai R sejak 2015. Hasilnya?Ā
Lulusan mereka laris di industri. Banyak yang mendirikan startup. Beberapa bahkan menjadi mentor di bootcamp teknologi ternama.Ā
“Keterpaksaan itu anugerah,” kata Rektor itu sambil tersenyum. Di matanya, kulihat kebanggaan yang tidak pernah kulihat di wajah dosen-dosen almamaterku.Ā
Epilog: Pilihan yang Menentukan Nasib
Kini, setiap kali melewati almamaterku, aku selalu melihat mahasiswa baru berjalan masuk dengan wajah penuh harapan. Aku ingin berteriak pada mereka:
“Hati-hati dengan SPSS bajakan itu! Itu bukan sekadar softwareāitu penjara yang menyamar sebagai pendidikan.”
Tapi aku tahu, seperti dulu, mereka harus menemukan sendiri kebenarannya.Ā
Sedangkan untuk para dosen yang masih mengajar dengan *software* bajakanāaku sudah tidak marah lagi. Aku hanya sedih. Karena setiap semester, tanpa sadar, mereka sedang mencetak generasi yang akan tersingkir oleh mesin.Ā
Di era AI ini, hanya ada dua pilihan:Ā
Belajar tools yang dipakai dunia nyata, atau menjadi fosil sebelum sempat lulus.Ā