Business Model Canvas: Memetakan dan Mengembangkan Model Bisnis

Materi Pembelajaran
Business Model Canvas (BMC) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk merancang, menganalisis, dan mengembangkan model bisnis secara visual. Materi ini membahas pengertian, tujuan, manfaat, kelebihan dan kekurangan BMC, serta sembilan komponen yang membentuk sebuah model bisnis.

Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan pengertian, tujuan, dan manfaat dalam pembuatan Business Model Canvas, serta mampu mengidentifikasi dan menganalisis langkah-langkah dalam penyusunan BMC.

1. Pendahuluan: Mengapa Model Bisnis Perlu Dipetakan?

Sebuah ide bisnis yang terlihat menarik belum tentu dapat berkembang menjadi usaha yang berjalan dengan baik. Sebuah produk mungkin memiliki kualitas yang baik, tetapi belum tentu memiliki target pasar yang jelas. Demikian pula, sebuah usaha dapat memiliki banyak pelanggan, tetapi mengalami kesulitan karena struktur biayanya terlalu besar atau sumber pendapatannya tidak cukup kuat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjalankan usaha tidak hanya berkaitan dengan produk atau jasa yang ditawarkan. Seorang wirausahawan juga perlu memahami bagaimana sebuah bisnis menciptakan nilai, siapa yang menjadi konsumennya, bagaimana produk disampaikan kepada konsumen, bagaimana hubungan dengan pelanggan dibangun, serta bagaimana bisnis memperoleh pendapatan dan mengelola biaya.

Dalam konteks tersebut, diperlukan sebuah cara untuk melihat bisnis secara menyeluruh. Business Model Canvas atau BMC menjadi salah satu alat yang dapat digunakan untuk membantu proses tersebut. BMC menyajikan model bisnis dalam bentuk visual sehingga berbagai unsur penting dalam bisnis dapat dilihat dalam satu kerangka yang saling berhubungan.

2. Pengertian Business Model Canvas

Business Model Canvas merupakan alat yang digunakan dalam pendekatan manajemen usaha untuk merancang, menganalisis, dan mengembangkan model bisnis. Model bisnis tersebut dituangkan dalam bentuk visualisasi yang terdiri atas sembilan elemen utama.

BMC diperkenalkan dan dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur. Model ini ditampilkan dalam bentuk sebuah canvas yang berisi sembilan elemen untuk membantu penyusunan formulasi strategi bisnis.

Konsep utama BMC adalah menyederhanakan cara melihat sebuah bisnis. Daripada menyusun rencana bisnis dalam dokumen yang panjang sejak awal, seorang calon wirausahawan dapat terlebih dahulu memetakan gagasan bisnisnya melalui sembilan elemen utama. Dengan cara ini, hubungan antara konsumen, nilai yang ditawarkan, aktivitas bisnis, sumber daya, mitra, pendapatan, dan biaya dapat dilihat dengan lebih jelas.

Inti Konsep
BMC dapat dipahami sebagai sebuah peta sederhana mengenai bagaimana suatu bisnis dirancang untuk menciptakan nilai, menyampaikan nilai kepada konsumen, dan memperoleh pendapatan dari aktivitas tersebut.

3. Tujuan dan Manfaat Business Model Canvas

Penyusunan BMC tidak hanya bertujuan membuat gambaran bisnis menjadi lebih menarik secara visual. BMC digunakan untuk membantu wirausahawan memahami bisnis secara menyeluruh sebelum dan selama menjalankan usaha.

Salah satu manfaatnya adalah membantu memetakan ide bisnis secara menyeluruh. Sebuah ide yang pada awalnya hanya berupa gagasan dapat diuraikan menjadi berbagai bagian yang lebih konkret. Dari pemetaan tersebut, calon wirausahawan dapat melihat apakah target konsumennya sudah jelas, apakah nilai yang ditawarkan relevan, bagaimana produk akan disampaikan, serta dari mana pendapatan akan diperoleh.

BMC juga dapat mendorong inovasi dalam model bisnis. Ketika setiap bagian bisnis dituangkan secara visual, hubungan antara satu komponen dengan komponen lainnya menjadi lebih mudah untuk dipertanyakan dan dikembangkan. Perubahan pada satu bagian dapat mendorong munculnya gagasan baru pada bagian lainnya.

Selain itu, BMC dapat mempersingkat proses penulisan perencanaan bisnis dan membantu perusahaan lebih fokus terhadap poin-poin penting dalam perencanaan. Pemetaan yang lebih jelas juga diharapkan dapat mengurangi risiko kekeliruan dalam pelaksanaan bisnis.

Dengan demikian, BMC membantu wirausahawan untuk:

Memetakan ide bisnis secara menyeluruh, mendorong inovasi, menyederhanakan proses perencanaan, menjaga fokus terhadap aspek penting bisnis, serta mengurangi kemungkinan kesalahan dalam pelaksanaan.

4. Kelebihan dan Kekurangan Business Model Canvas

BMC memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya banyak digunakan sebagai alat untuk memvisualisasikan model bisnis. Bentuknya relatif sederhana sehingga lebih mudah dipahami dibandingkan dokumen perencanaan bisnis yang panjang. BMC juga bersifat fleksibel sehingga dapat digunakan untuk mengeksplorasi perubahan model bisnis.

Sifat visual BMC membuat proses diskusi menjadi lebih mudah dilakukan. Beberapa orang dapat melihat komponen yang sama dan mendiskusikan apakah hubungan antarkomponen tersebut sudah masuk akal. Karena itu, BMC juga memiliki karakter yang kolaboratif.

Namun, BMC bukanlah alat yang sempurna dan tidak selalu dapat menggambarkan seluruh kompleksitas sebuah bisnis. Model yang sederhana dapat menjadi keterbatasan apabila bisnis memiliki struktur yang sangat kompleks. Selain itu, BMC belum tentu cocok untuk semua jenis bisnis dan tetap membutuhkan usaha dalam proses penyusunannya.

Kelebihan Kekurangan
Mudah digunakan Memiliki keterbatasan dalam menggambarkan bisnis yang kompleks
Visualnya sederhana dan menarik Belum tentu sesuai untuk semua jenis bisnis
Fleksibel Membutuhkan usaha dalam proses penyusunannya
Mendukung kolaborasi โ€”
Lebih terfokus โ€”

5. Sembilan Komponen Business Model Canvas

Business Model Canvas terdiri atas sembilan elemen utama. Kesembilan elemen tersebut menggambarkan berbagai aspek penting dalam sebuah bisnis, mulai dari siapa konsumennya, nilai yang ditawarkan, bagaimana produk disampaikan, bagaimana hubungan dengan konsumen dibangun, hingga bagaimana bisnis memperoleh pendapatan dan menanggung biaya.

Sembilan komponen tersebut adalah Customer Segment, Value Proposition, Channels, Customer Relationship, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Key Partnerships, dan Cost Structure.

5.1 Customer Segment: Siapa Konsumen yang Dilayani?

Customer Segment atau target pasar menjelaskan karakteristik kelompok konsumen yang menjadi sasaran penjualan produk atau jasa. Komponen ini penting karena sebuah bisnis tidak selalu ditujukan untuk semua orang. Semakin jelas kelompok konsumen yang ingin dilayani, semakin mudah bisnis menentukan nilai yang relevan bagi mereka.

Dalam komponen ini terdapat tiga pertanyaan pokok yang perlu diperhatikan, yaitu customer jobs, customer gain, dan customer pain. Customer jobs berkaitan dengan pekerjaan atau kebutuhan yang ingin diselesaikan konsumen. Customer gain berkaitan dengan keuntungan atau manfaat yang diharapkan konsumen, sedangkan customer pain berkaitan dengan masalah atau kerugian yang ingin mereka hindari.

Sebagai contoh yang terdapat dalam materi, target pasar produk donat kentang dapat mencakup mahasiswa dan pecinta makanan manis.

5.2 Value Proposition: Nilai Apa yang Ditawarkan?

Value Proposition merupakan komponen yang menjelaskan keunggulan dari produk atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen. Fokusnya adalah menjawab alasan mengapa konsumen memilih produk atau jasa tersebut dibandingkan dengan alternatif lainnya.

Nilai yang ditawarkan dapat berupa kualitas, kenyamanan, harga yang terjangkau, pelayanan yang cepat, atau keunggulan lain yang membedakan sebuah bisnis dari bisnis lainnya.

Dengan demikian, value proposition tidak sekadar menjelaskan produk. Komponen ini harus memperlihatkan nilai yang diterima konsumen. Sebuah produk yang sama dapat memiliki proposisi nilai yang berbeda apabila cara produk tersebut ditawarkan dan manfaat yang ditekankan berbeda.

Pertanyaan kunci:
“Apa keunggulan yang membuat konsumen memilih produk atau jasa kita?”

5.3 Channels: Bagaimana Produk Menjangkau Konsumen?

Channels merupakan sarana yang digunakan untuk memperkenalkan dan menyampaikan produk kepada target konsumen. Pemilihan saluran yang tepat dapat membantu bisnis meningkatkan efisiensi penjualan sekaligus memperkuat interaksi dengan pelanggan.

Saluran tersebut dapat berupa toko online, media sosial, website, toko offline, maupun kegiatan seperti pameran produk. Pilihan saluran harus disesuaikan dengan karakteristik target pasar.

Sebagai contoh, apabila target konsumen merupakan mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial, penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu saluran untuk memperkenalkan produk. Sebaliknya, apabila konsumen lebih membutuhkan pengalaman langsung terhadap produk, saluran offline dapat memiliki peran yang lebih penting.

5.4 Customer Relationship: Bagaimana Hubungan dengan Konsumen Dibangun?

Customer Relationship menjelaskan bagaimana pelaku usaha berkomunikasi, berhubungan, dan membina hubungan dengan konsumen. Hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan bagaimana mendapatkan konsumen, tetapi juga bagaimana mempertahankan mereka dan membangun loyalitas.

Dalam materi disebutkan bahwa konsumen tidak hanya perlu didapatkan, tetapi juga harus dipertahankan melalui metode Customer Relationship Management atau CRM.

Pemikiran ini penting karena hubungan antara bisnis dan konsumen tidak berhenti setelah transaksi pertama. Pengalaman konsumen dalam memperoleh produk, berkomunikasi dengan penjual, menerima pelayanan, dan menangani keluhan dapat memengaruhi keputusan mereka untuk kembali menggunakan produk atau jasa tersebut.

5.5 Revenue Streams: Dari Mana Pendapatan Diperoleh?

Revenue Streams menjelaskan bagaimana perusahaan memperoleh pemasukan dari segmen pasar yang telah ditentukan. Komponen ini tidak hanya menanyakan apakah bisnis menghasilkan pendapatan, tetapi juga bagaimana mekanisme pendapatan tersebut tercipta dan saluran pendapatan apa saja yang dapat dimanfaatkan.

Pendapatan dapat diperoleh melalui berbagai mekanisme. Materi memberikan contoh seperti franchise, sewa, berlangganan, pembayaran tunai (cash), dan kredit (credit).

Dengan memetakan revenue streams, seorang wirausahawan dapat melihat dengan lebih jelas hubungan antara konsumen yang dilayani dengan sumber pendapatan yang dihasilkan oleh bisnis.

5.6 Key Activities: Apa yang Harus Dilakukan Bisnis?

Key Activities merupakan kegiatan utama yang dilakukan oleh suatu usaha untuk memperoleh sumber pendapatan. Kegiatan tersebut dapat dimulai dari proses perencanaan usaha, pemasaran, hingga pemanfaatan dan pemeliharaan aset.

Komponen ini membantu wirausahawan mengidentifikasi aktivitas yang benar-benar penting bagi keberlangsungan bisnis. Tidak semua aktivitas memiliki tingkat kepentingan yang sama. Karena itu, pemetaan kegiatan utama membantu bisnis menentukan aktivitas mana yang harus menjadi perhatian utama.

Dalam bisnis makanan, misalnya, kegiatan utama dapat berkaitan dengan persiapan bahan, proses produksi, pemasaran, pelayanan konsumen, dan pemeliharaan peralatan. Contoh tersebut merupakan ilustrasi penerapan komponen BMC, sedangkan bentuk kegiatan sebenarnya harus disesuaikan dengan karakteristik bisnis yang dianalisis.

5.7 Key Resources: Sumber Daya Apa yang Dibutuhkan?

Key Resources menjelaskan sumber daya utama yang dibutuhkan agar model bisnis dapat berjalan. Sumber daya dalam BMC tidak hanya berarti tenaga manusia, tetapi juga mencakup sumber daya fisik dan kekayaan intelektual.

Sumber daya fisik dapat berupa alat produksi, gedung kantor, atau pabrik. Sementara itu, kekayaan intelektual dapat berupa merek, hak paten, hak cipta, dan bentuk aset intelektual lainnya.

Pemahaman ini penting karena keberlangsungan sebuah usaha sangat bergantung pada kemampuan bisnis menyediakan sumber daya yang diperlukan. Produk yang baik tidak dapat dihasilkan secara konsisten apabila sumber daya yang mendukung proses tersebut tidak tersedia atau tidak dikelola dengan baik.

5.8 Key Partnerships: Siapa Mitra Strategis Bisnis?

Key Partnerships berkaitan dengan pihak-pihak yang dapat membantu menguatkan dan menstabilkan bisnis. Kerja sama dapat dilakukan dengan berbagai pihak sesuai kebutuhan model bisnis.

Mitra tersebut dapat berupa pemasok, rekan bisnis, vendor, brand ambassador, key opinion leader (KOL) untuk kegiatan promosi, maupun distributor.

Keberadaan mitra tidak selalu berarti bisnis tidak mampu berjalan sendiri. Kemitraan dapat digunakan untuk memperoleh sumber daya, memperluas jangkauan pasar, mendukung promosi, atau memperkuat proses operasional yang diperlukan oleh bisnis.

5.9 Cost Structure: Biaya Apa yang Harus Ditanggung?

Cost Structure berisi rincian biaya yang muncul dalam menjalankan bisnis. Komponen ini membantu pelaku usaha memahami berbagai pengeluaran yang diperlukan agar model bisnis dapat berjalan.

Biaya tersebut dapat mencakup biaya produksi, gaji, biaya vendor, bahan baku, perawatan, pemeliharaan, dan berbagai pengeluaran lainnya.

Pemetaan biaya menjadi penting karena pendapatan yang besar belum tentu menghasilkan keuntungan apabila biaya yang harus ditanggung bisnis juga sangat besar. Dengan memahami struktur biaya, wirausahawan dapat melihat kebutuhan finansial bisnis dan mempertimbangkan efisiensi dalam penggunaan sumber daya.

6. Memahami Hubungan Antarkomponen BMC

Sembilan komponen dalam BMC sebaiknya tidak dipahami sebagai sembilan bagian yang berdiri sendiri. Setiap komponen memiliki hubungan dengan komponen lainnya.

Customer Segment menentukan siapa yang menjadi konsumen. Dari pemahaman terhadap konsumen tersebut, bisnis dapat menentukan Value Proposition yang sesuai. Selanjutnya, Channels digunakan untuk menyampaikan nilai tersebut kepada konsumen, sedangkan Customer Relationship menentukan bagaimana hubungan dengan konsumen dibangun dan dipertahankan.

Dari hubungan tersebut muncul Revenue Streams, yaitu bagaimana bisnis memperoleh pendapatan. Untuk menghasilkan dan menyampaikan nilai tersebut, bisnis membutuhkan Key Activities dan Key Resources. Dalam menjalankan kegiatan tersebut, bisnis dapat membutuhkan Key Partnerships. Seluruh aktivitas tersebut pada akhirnya menimbulkan berbagai pengeluaran yang tercermin dalam Cost Structure.

Perhatikan hubungan sederhananya:

Siapa yang dilayani โ†’ nilai apa yang diberikan โ†’ bagaimana nilai disampaikan โ†’ bagaimana hubungan dibangun โ†’ bagaimana pendapatan diperoleh โ†’ kegiatan dan sumber daya apa yang dibutuhkan โ†’ siapa mitranya โ†’ berapa biaya yang harus dikeluarkan.

7. Contoh Sederhana Penyusunan BMC

Untuk memahami hubungan sembilan komponen tersebut, bayangkan seorang mahasiswa ingin mengembangkan usaha makanan ringan berupa donat kentang. Contoh berikut merupakan ilustrasi penerapan konsep BMC, bukan contoh yang secara khusus diberikan sebagai model lengkap dalam PPT.

Customer Segment. Mahasiswa dan konsumen yang menyukai makanan manis dapat menjadi kelompok konsumen yang dituju.

Value Proposition. Produk dapat menawarkan donat kentang dengan rasa yang sesuai selera konsumen, harga yang terjangkau, atau pelayanan yang cepat.

Channels. Produk dapat diperkenalkan melalui media sosial, toko online, maupun penjualan langsung.

Customer Relationship. Hubungan dengan pelanggan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, pelayanan yang responsif, dan upaya mempertahankan pelanggan.

Revenue Streams. Pendapatan utama berasal dari penjualan produk kepada konsumen. Apabila model bisnis berkembang, sumber pendapatan lain dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan usaha.

Key Activities. Kegiatan utama meliputi perencanaan produksi, pembuatan produk, pemasaran, penjualan, serta pemeliharaan peralatan yang digunakan.

Key Resources. Sumber daya yang dibutuhkan antara lain bahan baku, peralatan produksi, tenaga kerja, serta identitas atau merek produk.

Key Partnerships. Usaha dapat bekerja sama dengan pemasok bahan baku, pihak yang membantu distribusi, atau mitra promosi.

Cost Structure. Biaya dapat mencakup bahan baku, tenaga kerja, kemasan, pemasaran, distribusi, serta perawatan peralatan.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa sebuah produk saja belum menggambarkan keseluruhan model bisnis. BMC membantu mahasiswa melihat bagaimana produk tersebut berhubungan dengan konsumen, aktivitas, sumber daya, mitra, pendapatan, dan biaya.

8. BMC sebagai Alat untuk Menguji Ide Bisnis

Salah satu manfaat penting BMC adalah membantu seseorang menguji kelayakan logika awal sebuah ide bisnis. Ketika sembilan komponen dituliskan secara berdampingan, kemungkinan terdapat bagian yang belum jelas.

Misalnya, seseorang sudah mengetahui produk yang ingin dijual tetapi belum dapat menentukan siapa konsumennya. Dalam kondisi lain, target pasar sudah jelas, tetapi nilai yang ditawarkan tidak memiliki perbedaan yang kuat. Ada pula kemungkinan bahwa produk memiliki konsumen dan nilai yang jelas, tetapi biaya produksinya terlalu tinggi dibandingkan dengan potensi pendapatan.

Situasi semacam itu menunjukkan bahwa BMC dapat digunakan sebagai alat untuk mengajukan pertanyaan kritis terhadap sebuah ide bisnis. Tujuannya bukan sekadar mengisi sembilan kotak, tetapi memahami apakah komponen-komponen tersebut dapat membentuk sebuah model bisnis yang masuk akal.

Pertanyaan reflektif:

Apabila Anda memiliki sebuah ide bisnis, bagian mana yang paling sulit Anda tentukan: siapa konsumennya, nilai yang ditawarkan, cara memperoleh pendapatan, sumber daya, mitra, atau struktur biaya? Jelaskan mengapa bagian tersebut sulit ditentukan.

9. Langkah Berpikir dalam Menyusun BMC

Penyusunan BMC pada dasarnya dimulai dengan memahami ide bisnis secara menyeluruh. Wirausahawan perlu mengetahui terlebih dahulu siapa yang ingin dilayani dan masalah atau kebutuhan apa yang ingin dijawab. Pemahaman tersebut kemudian menjadi dasar dalam merumuskan nilai yang ditawarkan.

Setelah konsumen dan nilai yang ditawarkan dipahami, perhatian dapat diarahkan pada bagaimana produk atau jasa akan diperkenalkan dan disampaikan kepada konsumen, serta bagaimana hubungan dengan konsumen akan dibangun.

Berikutnya, bisnis perlu menjelaskan bagaimana pendapatan akan diperoleh. Agar pendapatan tersebut dapat tercipta, perlu ditentukan kegiatan utama, sumber daya yang dibutuhkan, serta pihak-pihak yang dapat menjadi mitra strategis. Seluruh proses tersebut kemudian dikaitkan dengan struktur biaya yang muncul.

Dengan pola berpikir tersebut, BMC bukan sekadar kegiatan mengisi sembilan bagian secara terpisah. Penyusunan BMC merupakan proses untuk melihat keterkaitan antarbagian dalam model bisnis.

10. Ringkasan

Business Model Canvas merupakan alat yang digunakan untuk merancang, menganalisis, dan mengembangkan model bisnis secara visual. BMC diperkenalkan dan dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur serta disusun dalam bentuk canvas yang terdiri atas sembilan elemen utama.

BMC memiliki beberapa manfaat, antara lain membantu memetakan ide bisnis secara menyeluruh, mendorong inovasi, mempersingkat proses perencanaan, meningkatkan fokus terhadap aspek penting bisnis, dan membantu mengurangi risiko kesalahan dalam pelaksanaan. BMC juga memiliki kelebihan berupa kemudahan penggunaan, tampilan visual yang sederhana, fleksibilitas, dan sifat kolaboratif. Namun, BMC memiliki keterbatasan dan tidak selalu sesuai untuk seluruh jenis bisnis.

Sembilan komponen utama BMC terdiri atas Customer Segment, Value Proposition, Channels, Customer Relationship, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Key Partnerships, dan Cost Structure.

Kesembilan komponen tersebut saling berhubungan. Karena itu, penyusunan BMC tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan mengisi sembilan kotak secara terpisah, tetapi sebagai proses memahami bagaimana sebuah bisnis menciptakan nilai, menyampaikan nilai kepada konsumen, membangun hubungan dengan konsumen, memperoleh pendapatan, serta mengelola sumber daya, mitra, kegiatan, dan biaya.

Pesan Utama

Business Model Canvas membantu wirausahawan melihat sebuah bisnis secara utuh. Sebuah ide bisnis tidak cukup hanya memiliki produk yang menarik. Wirausahawan perlu memahami siapa konsumennya, nilai apa yang diberikan, bagaimana produk disampaikan, bagaimana hubungan dengan konsumen dibangun, bagaimana pendapatan diperoleh, serta sumber daya, aktivitas, mitra, dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan bisnis.
Contoh BMC

Business Model Canvas

Mode: Tunggal atau Bandingkan 2 Bisnis

Bisnis Anda