Pilih Mana: Kerja Atau Pacaran Sambil Kuliah?

Posted on

Beberapa orang berpandangan pacaran itu sudah perlu dijalankan sejak kuliah, bahkan mungkin sejak SMA. Padahal, itulah masa dimana seseorang tumbuh dan berkembang secara optimal, dan masa itu tak akan kembali. Pertanyaannya, apa yang sebaiknya dilakukan: kerja atau pacaran sambil kuliah. Untuk menjawabnya, maka kita perlu ketahui dulu kerugian yang kamu dapatkan jika pacaran di masa sekolah.

Pacaran itu membuat ruang gerakmu terbatas

Mungkin asyik ya jika kamu bisa jalan-jalan bersama kekasih hati? Atau setidaknya bertemu berdua. Dunia serasa milik berdua. Tapi ketahuilah, hal itu akan berlaku selama tiga bulan saja, selepas itu kamu akan menghadapi rasa bosan terhadap rutinitas yang monoton itu.

Bagaimana cara kamu mengatasi rasa jenuh itu? Pastinya kamu mencari “kehidupan lain” di luar dunia pacaranmu. Namun, apa jadinya kalau kamu mendapat pacar yang manjanya minta ampun? Yang akan minta kawalanmu jika mau kemana-mana. Padahal saat itu kamu sedang bersama teman-teman kamu.

pacaran atau kuliah

Pasti ada hal yang dikalahkan, ya toh? Apakah kamu sudah siap jika dirimu direpotkan untuk menghadapi hal-hal begini saat masih kuliah?

Pacaran itu butuh biaya

Apakah kamu akan menampik kalau pacaran itu membutuhkan biaya? Ya, setidaknya, kamu perlu mengajak dia makan, nonton, jalan-jalan, dan lain-lain yang kamu lakukan bersama-sama. Nah, dari mana biaya yang kamu keluarkan ini berasal? Apakah hasil keringat sendiri atau masih “nadah” orang tua?

Jika kamu sudah memiliki penghasilan sendiri saat ini, maka itu hal yang bagus. Namun, jika kamu masih “nadah” orang tua untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, termasuk kuliah, sebaiknya kamu lupakan saja impian untuk memiliki pacar. Bukan tidak mungkin uang yang digunakan untuk biaya kuliah kamu malah terpakai traktir pacarmu. Hal ini kan tindakan tidak bertanggung jawab.

Pacaran mengurangi waktu bermain

Seperti kami sebutkan di poin pertama, waktu bermain kamu pasti akan tersita karena kamu harus meladeni pacarmu. Jika tidak diladeni, maka bisa-bisa pacarmu ngambek. Misalnya, kamu lagi mabar game sama teman-teman. Doi tiba-tiba telpon / chat minta dijemput / diantar ke suatu tempat atau cuman ingin ketemu dan ngobrol, tapi karena kamu lagi mabar, otomatis kamu cuekin dia. Tidak enak juga meninggalkan teman yang sedang digank sama musuh game kan?

Alhasil, besok-besok kamu bakal jadi sudah untuk mabar lagi atau sekadar hangout dengan teman-teman. Kamu mungkin berpikir bahwa kamu bisa mengajak pacarmu ke komunitas kamu, tapi itu pun belum tentu pacar kami cocok berteman dengan teman-teman kamu. Namun, kalau cocok itu poin penting buat kamu dan pacarmu untuk terus bersama.

Pacaran itu membuat hidup semangat

Banyak orang berpikir pacaran itu bisa bikin hidup semangat. Padahal banyak orang pacaran yang justru malah galau. Kamu bertengkar dikit sama pacar, kamu galau. Pacar kamu tidak mau jemput atau antar, kamu galau. Itulah faktanya jika pacaran dilakukan saat kamu masih kuliah dalam posisi labil. Faktanya, bukan pacaran yang membuat kamu semangat, tapi rasa suka. Coba deh ingat-ingat, betapa jantungmu berdegub kencang saat bertemu dengannya saat kamu belum jadian. Jangankan diajak ngobrol, dia menyuruh kamu melakukan sesuatu pun itu tampaknya menjadi tugas yang ringan. Tapi begitu kamu pacaran dengannya perlahan-lahan itu menjadi biasa. Ujung-ujung kamu putus, dan galau.

Pacaran mengubah prioritas

Kamu mungkin memiliki prioritas saat pertama kali kuliah. Ingin melakukan ini, itu, ini, itu yang akan mengembangkan diri kamu secara lebih baik lagi. Namun prioritas ini bisa berubah ketika kamu memiliki pacar dan mengalami kegalauan demi kegalauan saat bermasalah dengannya. Prioritas kuliahmu berantakan. Kamu jadi berpikir untuk mempertahankan dia bagaimanapun caranya.

Bukan itu perubahan prioritas? Hal ini jika tidak dimanajemen dengan baik, maka akan sangat merepotkan buat perkembangan kehidupan pribadimu. Nah siapkah kamu dengan pilihan kerja atau pacaran sambil kuliah?

Pacaran mengganggu kreativitas

Ada beberapa mahasiswa yang pernah mengalami kegalauan akut lalu mengundurkan diri dari dunia kampus. Maksudnya, dia menghilang demi bisa menenangkan dirinya di tengah-tengah kegalauannya menghadapi siksaan cinta yang mendera batin. Itu kan sama saja mengganggu kreativitas, ya kan?

Seandainya kegalauan itu tidak terjadi, maka bukankah lebih baik jika waktunya digunakan untuk mengembangkan diri, dengan bekerja mengembangkan kreativitas yang dimiliki misalnya? Ya, daripada dia menggunakan waktunya menghilang untuk sesuatu yang tidak menyenangkan dan jelas. Bukankah lebih baik dia mengasah kemampuan diri dengan kreativitas-kreativitas baru? Hal itu pasti lebih baik dibandingkan pacaran. Dengan begitu, dia akan lebih berkembang ke arah lebih lagi.

Kesimpulan

Sebenarnya cinta adalah hak setiap manusia, tak terkecuali anak muda yang masih bergejolak jiwanya. Namun, hal yang perlu kamu lakukan adalah mengontrol rasa cinta itu. Sebab jalan yang akan kamu tempuh masih panjang dan berliku.

Ketika kamu mencintai orang lain tentu ada perasaan untuk bisa bersamanya setiap saat. Namun siapkah kamu untuk terus berkomitmen menjaga hubungan dengan pasangan. Karena hubungan antar manusia itu hal yang kompleks. Alih-alih ingin menikmati masa muda, yang ada kamu justru kehilangannya karena terlalu terbebani dengan pasanganmu.

Jadi, tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu lebih baik kerja atau pacaran sambil kuliah? Sudah siap menjalani komitmen sambil tetap menjalankan aktivitas harianmu sehari-hari? Jika siap, silakan jalani. Jika belum siap, kamu bisa tetap menemukan hal-hal asyik untuk mengembangkan hidupmu kelak dengan bekerja sambil kuliah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *