Menghitung kebutuhan benih bawang merah

Menghitung kebutuhan benih merupakan suatu kegiatan perencanaan yang penting dilakukan petani sebelum memulai usaha agribisnisnya. Adakalanya benih harus dipesan terlebih dahulu sehingga memerlukan waktu untuk mendatangkannya dari sumber asal. Perhitungan kebutuhan yang salah tentunya akan merugikan petani itu sendiri, terlebih lagi jika ternyata benih yang didatangkan kurang dari kebutuhan yang sebenarnya.

Pemilihan benih yang tepat merupakan upaya untuk meningkatkan hasil panen nantinya. Karena jenis varietas bawang merah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Sering dijumpai varietas A bagus untuk wilayah A namun kurang berkembang di lokasi B. selain karena karakteristik varietas itu sendiri, faktor lokasi yang menentukan kesuburan lahan, iklim, ketersediaan air juga ikut mempengaruhi kesesuaian varietas di lahan tertentu.

mengihtung benih
tanaman bawang merah

Benih bawang merah memiliki dua tipe yang berbeda. Jenis umbi, biasa digunakan petani dikala ingin melanjutkan penanaman kembali dari hasil panen sebelumnya. Kelebihan jenis umbi ini adalah petani tidak perlu melakukan penyemaian terlebih dahulu. Penyemaian membutuhkan waktu kurang lebih 30 – 40 hari dengan tingkat afkir sekitar 10 persen, sehingga terkadang bagi petani hal ini cukup menyulitkan dibanding tanam dengan umbi yang langsung di benamkan sesuai jarak tanam. Kekurangan jenis umbi ini adalah biasanya bulky, ukuran besar. Mengirim benih bawang dalam jenis umbi memerlukan ruang yang besar (berkarung-karung) sehingga tidak efisien dalam hal pembiayaan. Kekurangan selanjutnya adalah terkadang umbi bawnag merah tersebut membawa penyakit seperti jamur untuk proses penanaman selanjutnya.

Jenis biji, atau biasa dikenal True Shallot Seed (TSS). Kelebihan penggunaan ini adalah karena ukurannya yang kecil, mudah dibawa dan dikirim kemanapun. Kebutuhan benih bawang merah untuk 1 hektar hanya memerlukan 2 – 3 kg benih TSS saja. Bandingkan jika harus menggunakan umbi. Kebutuhan umbi dengan jarak tanam kurang lebih 20 x 20 cm, membutuhkan kurang lebih 1,6 ton umbi bawang merah dengan ukuran kurang lebih 5 gram per umbi. Kekurangan penggunaan TSS seperti yang disebutkan sebelumnya adalah harus dilakukan persemaian terlebih dahulu sedelum ditanam di lahan. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 30 – 40 hari. Selain itu, biasanya ukuran umbi TSS lebih kecil ketimbang, sehingga harus menggunakan treatment khusus (seed treatment)  sebelum benih tersebut disemai. Saat pemindahan dari persemaian ke lahan pun merupakan titik kritis tanaman bawang merah. Tanaman akan menghadapi stress pemindahan. Adakalanya tanaman tidak tumbuh normal atau bahkan mati karena perlakuan yang tidak sesuai.

Lalu bagaimana cara menghitung kebutuhan benih? Artikel ini akan membahas cara menghitung kebutuhan benih bawang merah yang menggunakan umbi. Beberapa faktor yang menentukan besar kecilnya kebutuhan benih bawang merah antara lain

Berat umbi

Menanam bawang merah dengan umbi tentunya mengandalkan jumlah umbi, bukan dari berat umbi. Sehingga dengan berat yang sama, umbi yang berukuran sedang tentu akan berbeda jumlahnya dengan umbi yang berukuran besar atau kecil. Ukuran umbi kecil biasanya 4 – 5 gram perumbi, sedangkan ukuran umbi sedang 6 – 10 gram perumbi, dan umbi besar bisa mencapai 15 gram perumbi.

Jadi, sebelum menanam dan menghitung kebutuhan benih, pastikan terlebih dahulu jenis varietas yang akan ditanam dan cari informasi deskripsi varietas terutama berat kering benih umbi yang akan dipesan. Jika varietas bawang merah tersebut memiliki umbi yang besar, tentu pemesanan akan membutuhkan jumlah yang lebih besar atau lebih berat daripada umbi sedang dan kecil.

Jarak tanam

Jarak tanam bawang merah bervariasi. Ada petani yang menggunakan 25 x 25 cm, atau 25 x 20 cm, 20 x 20 cm, 20 x 15 cm, dan 15 x 15 cm. sebagian pakar mengatakan bahwa perlakuan populasi atau mengatur jarak tanam turut mempengaruhi produktivitas lahan bawang merah. Selain menggunakan bibit yang unggul, penggunaan jarak yang tepat akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Lalu jarak tanam berapa yang dikatakan tepat? Jika lahan yag digunakan mengandung unsur hara yang tinggi atau dikatakan subur, kemudian intensitas cahaya juga tinggi, maka jarak yang rapat bisa memaksimalkan hasil. Sebaliknya, jika intensitas cahaya kurang dan lahan kurang subur, maka jarak tanam yang lebih renggang direkomendasikan untuk kondisi yang seperti ini.

Jarak tanam yang akan digunakan tentunya akan mempengaruhi berapa jumlah benih umbi yang akan dipesan. Semakin rapat jarak tanam yang digunakan, semakin banyak benih umbi yang diperlukan.

Persentase kegagalan atau afkir

Terkadang kita memesan benih tidak 100% dalam kondidi baik, adakalanya kita perlu menyortir benih yang tidak layak tanam. Oleh sebab itu kita perlu memperhitungkan berapa persentase afkir dalam rencana pembelian benih bawang merah.

Selain tingkat afkir, kita juga perlu menambah kebutuhan benih umbi bawang merah untuk mengantisipasi serangan hama atau penyakit. Sisa benih umbi ini dimaksudkan untuk menyulam tanaman yang memiliki pertumbuhan yang rendah atau mati karena faktor lainnya.

Untuk mengantisipasi tersebut, lebihkan kebutuhan benih sekitar 10 – 15 persen.

Luas Lahan

Luas lahan sangat mempengaruhi jumlah benih bawang merah. Termasuk dengan design lahan seperti pembuatan bedengan. Semakin lebar bedengan yang dibuat, maka semakin kecil lahan yang digunakan untuk parit, sehingga semakin banyak kebutuhan benih.

Cara menghitung kebutuhan benih bawang merah

Contoh kasus perhitungan kebutuhan benih bawang merah : luas lahan yang akan ditanami bawang merah 200 m2. Jarak tanam yang digunakan adalah 15 x 15 cm. berat umbi kering untuk benih 5 gram perumbi. Perkiraan afkir sebesar 10%. Berapa kah umbi yang perlu dipesan untuk memenuhi kebutuhan tersebut?

Terdapat dua cara untuk menghitung kebutuhan benih bawang merah tersebut.

Cara pertama, asumsi semua lahan ditanami bawang merah

Rumus menghitung kebutuhan benih bawang  merah adalah : luas lahan / jarak tanam

Sehingga benih yang diperlukan adalah :

200 m2 / (15 x 15) cm2,

200 m2 / 225 cm2,

200 m2 / 0,0225 m2,

8.889 umbi.

Kemudian masukkan nilai afkir 10 persen:

8.889 umbi x 110/100 = 9.778 umbi, (110 diperoleh dari 100% + 10%)

Kemudian konversi ke berat:

9.778 umbi x 5 gram/umbi

= 48.890 gram

= 48,89 Kg

= 49 Kg

Sehingga umbi yang dibutuhkan adalah 49 Kg.

 

Cara kedua, memperhitungkan jumlah lahan yang tidak dipakai

Sebelum menghitung kebutuhan benih, kita hitung dulu persentase lahan yang benar-benar ditanami bawang merah. Misalnya lahan 200 m2 tersebut berukuran 20 m x 10 m. kemudian dibuat bedengan ukuran 1.5 x 10 m, dengan jarak antar bedengan 0.5 m.

Sehingga dapat dibayangkan terdapat kurang lebih 10 bedengan (20 / (1.5+0.5) = 10 bedengan, dengan luas lahan yang dipakai untuk parit = 0.5 m x 20 m x 10 bedengan = 50 m2

Artinya luas lahan yang digunakan untuk ditanami bawang merah adalah 150 m2 dari 200 m2. Dengan cara yang sama perhitungannya dengan diatas, diperoleh hasil kebutuhan bawang merahnya:

150 m2 / (15 x 15) cm2,

150 m2 / 225 cm2,

150 m2 / 0,0225 m2,

6.667 umbi.

6.667 umbi x 110% = 7.334 umbi

7.334 umbi x 5 gram/umbi

= 36.670 gram

= 36,67 Kg

 

Dari kedua cara tersebut, manakah tehnik perhitungan yang akan anda pilih? Biasanya petani menggunakan cara pertama. Kelebihan benih bisa disimpan atau dibagikan dengan rekan petani lainnya. Demikian cara menghitung kebutuhan benih bawang merah, semoga bermanfaat.