Peranan Penyuluh Terhadap Preferensi Teknologi dan Persepsi Petani Cengkeh di Maluku Tengah

Siapa yang tidak mengenal cengkeh jika berbicara di Maluku? Cengkeh sudah dibudidayakan sejak turun temurun di Maluku dan menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia khususnya Maluku terkenal dengan rempah – rempah. Alasan dasar mengapa para penjajah datang untuk mencari rempah juga termasuk bumbu cerita makin terkenalnya kejayaan rempah pada saat itu.

Penyuluh merupakan ujung tombak keberhasilan desiminasi. Penyuluh memberikan contoh, mendidik, dan mengajak petani untuk mengikuti paket teknologi yang telah dihasilkan. Keberhasilan adopsi dan difusi teknologi sangat berkaitan erat dengan cara upaya penyuluh memperkenalkan teknologi barau kepada petani. Tidak jarang dijumpai di lapangan bahwa penyuluh berhadapan dengan petani yang telah memiliki pengalaman yang banyak sehingga terjadi perbedaan pendapat antara keduanya.

Disisi lain, cengkeh merupakan salah satu komoditas perkebunan yang perkembangannya tidak bisa dilihat secara bulanan seperti halnya tanaman pangan atau hortikultura. Pengenalan metode pemberian pupuk pada tanaman padi akan segera diketahui tingkat efektivitasnya saat padi tersebut panen dan dapat dibandingkan dengan beberapa metode yang digunakan. Namun, pengenalan metode pemberian pupuk atau perlakuan lainnya pada cengkeh harus menunggu tahun depan karena cengkeh hanya berbuah satu tahun sekali.

Judul karya tulis Peranan Penyuluh Terhadap Preferensi Teknologi dan persepsi petani cengkeh di Maluku Tengah, disampaikan pada seminar nasional yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ambon tahun 2016. Karya tulis ini berusaha menggambarkan tentang hubungan pentingnya peranan penyuluh terhadap peningkatan motivasi, membangun komunikasi, meningkatkan kesadaran lingkungan, parisipasi petani, dan akses informasi yang kemudian berhubungan dengan preferensi petani terhadap paket teknologi yang diperkenalkan kepada petani. Paket teknologi yang dimaksud adalah paket teknologi pupuk organik, pupuk anorganik, metode tugal, dan infus akar.

Penelitian ini dilakukan di Bulan Oktober hingga Desember 2015 yang bertepatan musim panen cengkeh di Maluku Tengah. Lokasi penelitian di dua desa yang mewakili dua kecamatan, yakni Desa Haya Kecamatan Tehoru, dan Desa Tamilow di Kecamatan Amahai. Penentuan lokasi penelitian tersebut dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa kedua kecamatan tersebut merupakan penghasil cengkeh terbesar di Maluku Tengah. Jumlah responden sebanyak 30 orang yang merupakan jumlah anggota kelompok tani di kedua desa tersebut.

Penelitian dilakukan dengan dua tahap yakni: tahap pertama, petani responden mendapat materi pemeliharaan tanaman cengkeh yang terdiri dari pemupukan dan penanggulangan hama dan penyakit. Pemupukan dan penanggulangan hama penyakit tersebut dititikberatkan pada penggunaan bahan-bahan organik yang terdiri dari pupuk organik cair dan pestisida nabati. Informasi awal yang diperoleh bahwa sebelum mendapatkan materi tersebut, petani telah menerima bantuan berupa pestisida kimia dan pupuk anorganik dari dinas pertanian. Petani memiliki pilihan paket teknologi yakni pupuk organik dan pestisida nabati, dibandingkan dengan pupuk anorganik dan pestisida kimia. Selain bahan yang digunakan, cara aplikasi pupuk organik cair juga dibedakan dengan dua cara yakni, metode tugal dan metode infus akar.

Tahap kedua, pengumpulan data persepsi dan preferensi petani terhadap materi yang telah  diberikan satu bulan sebelumnya (tahap pertama) dengan menggunakan kuesioner. Selain menilai

kemampuan penyuluh dalam memberikan dan menyampaikan materi, petani juga diminta memberikan pilihan terhadap paket teknologi yang lebih disukai.

Data kemudian dianalisis dengan menggunakan rank spearman. Mengapa menggunakan spearman? Karena data yang dimiliki berkisar di skala ordinal saja. Petani diminta menilai apakah penyuluh memberikan penyampaian dengan baik dari berbagai kriteria, kemudian petani juga ditanya tentang pengetahuan yang dimilikinya setelah satu bulan mengikuti pelatihan.

Hasil yang diperoleh disajikan dalam 2 tabel sebagai berikut:

Screenshot_1 Peranan Penyuluh Terhadap Preferensi Teknologi dan Persepsi Petani Cengkeh di Maluku Tengah rank spearman peranan penyuluh komunikasi
hasil rank spearman

 

Screenshot_2 Peranan Penyuluh Terhadap Preferensi Teknologi dan Persepsi Petani Cengkeh di Maluku Tengah rank spearman peranan penyuluh komunikasi
Hubungan peranan penyuluh terhadap persepsi petani cengkeh

 

Jika dilihat dari hubungan peranan penyuluh dengan preferensi petani cengkih pada gambar 1, terlihat bahwa peranan penyuluh yang berhubungan dengan preferensi petani adalah (1) membangun komunikasi, (2) memotivasi, (3) mengajak praktek langsung, (4) menumbuh kesadaran lingkungan, (5) meningkatkan pertisipasi, (6) mendidik dan mengarahkan, (7) kemampuan akses informasi. Variabel tersebut dapat dikatakan berhubungan dengan preferensi petani cengkih karena berhubung nyata pada p = 0.05. Diantara variabel yang berhubungan dengan preferensi, terdapat beberapa variabel yang memiliki hubungan yang kuat karena memiliki nilai koefisien spearman diantara 0.6 – 0.79. Variabel tersebut adalah memotivasi, meningkatkan partisipasi, mendidik dan mengarahkan.

Petani lebih memilih menggunakan pupuk organik daripada pupuk anorganik. Hal ini memperlihatkan bahwa upaya penyuluhan dapat dikatakan berhasil karena materi penyuluhan berhubungan dengan penggunaan pupuk organik. Mayoritas petani yang memilih pupuk organik menilai bahwa peyuluh yang melakukan desiminiasi melakukan komunikasi, memotivasi, mengajak praktek langsung, menumbuh kesadaran lingkungan, dan lain – lain (sesuai hasil penelitian).

Begitupun dengan preferensi petani terhadap metode pemupukan. Diseminasi dilakukan dengan memperkenalkan teknologi tugal dan infus akar. Mayoritas petani yang memilih metode tugal mengatakan bahwa metode tugal dirasakan lebih mudah mengaplikasikannya daripada metode infus akar.

Gambar kedua menjelaskan hubungan peranan penyuluh terhadap persepsi petani. Dalam penelitian ini diprediksi  terdapat lima persepsi yang terbentuk setelah petani mengikuti pelatihan. Yakni (1) Pupuk organik lebih baik daripada pupuk anorganik, (2) Pemupukan metode tugal dapat memperbaiki tanah, (3) Pestisida nabati lebih mahal dibandingkan pestisida kimia (4) Pestisida nabati efeknya lebih lama daripada pestisida kimia, (5) Pupuk organik memberi efek lebih cepat.

Diantara peran penyuluh, memotivasi merupakan variabel yang berpengaruh secara nyata di setiap pernyataan. Hal ini menandakan bahwa kemampuan penyuluh dalam meningkatkan motivasi petani sangat diperlukan agar teknologi dapat diadopsi melalui perubahan persepsi dan preferensi petani.

Kesimpulan yang diperoleh bahwa terdapat beberapa cara yang harus dipenuhi oleh penyuluh agar petani mau melakukan teknologi yang dikenalkan; seperti mengajak komunikasi, motivasi, praktek langsung, dan meningkatkan partisipasi petani dalam acara penyuluhan tersebut.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *