Menjaring ide karya tulis ilmiah

Mendapatkan ide untuk menulis karya ilmiah lebih sulit dibandingkan ide menulis karangan fiksi. Ide karya tulis ilmiah mengharuskan “fresh”dan harus tetap memenuhi kaidah ilmiah. Banyak para peneliti merasa mencari ide karya tulis ilmiah sangat susah sehingga mereka terjebak kepada gaya atau trend penulisan yang dilakukan peneliti senior, cenderung menjadi follower (menggunakan ide karya tuis ilmiah peneliti lain untuk tempat yang berbeda).

Sumber ide karya tulis ilmiah

Jika dilihat dari sumber kegiatan penelitian, saat ini penelitian dapat dibagi menjadi dua kelompok. Penelitian yang dilakukan berdasarkan program pemerintah atau biasadisebut kegiatan top-down, dan kegiatan penelitian dari sebuah civitas atau akademis. Pendekatan kegiatan ini tentu akan menghasilkan ide – ide karya tulis yang berbeda.

ide karya tulis
berdiskusi salah satu mendapatkan permasalahan yang tepat.

Kegiatan penelitian top-down

Kegiatan penelitiantop-down biasanya merupakan kegiatan yang didasarkan oleh program pemerintah. Tujuan kegiatan ini tentunya untuk mendukung program pemerintah atau mencari solusi terhadap masalah – masalah yang dihadapi untuk sebuah pengembangan.

Contoh yang mudah dipahami adalah pemerintah menetapkan target swasembada pangan,salah satunya beras. Maka pemerintah membuat programupaya khusus untuk mencapai target tersebut. Kemudian peneliti disemua bidang pertanian diminta fokus terhadap progress dari program upsus ini. Peneliti kemudian disibukkan dengan kegiatan koordinasi dan turun lapang untuk mendapatkan laporan perkembangan luas panen dan luas tambah tanam.

Lalu pertanyaannya adalah “bagaimana cara menjaring ide karya tulis?”

Bandingkan ilmu yang dikuasai dengan realita di lapangan

 Seringnya turun lapang karena adanya kegiatan top-down dari instansi, sebaiknya dimanfaatkan oleh peneliti untuk menambah pemahaman tentang realitas kehidupan sosial dari semua aspek gambaran tersebut kemudian dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh peneliti. Perbandingan realita dan harapan selanjutnya akan menghasilkan gap atau pertanyaan yang perlu dijawab dan diteliti dan kemudian akan menjadi sebuah ide karya tulis.

Contoh paling gampang dan menonjol akhir – akhir ini adalah tentang kebijakan impor beras disaat petani sedang melakukan panen raya. Banyak sekali komentar baik yang mewakili instansi maupun pribadi di surat kabar atau sosial media. Bagi peneliti yang mengerti tentang ilmu penawaran dan permintaan, kemudian ditambah dengan ilmu tata niaga, tentunya akan melihat hal ini sebagai sebuah pembelajaran dan bisa menjadi sebuah ide untuk menulis. Ide ini tidak harus di tingkat nasional, namun bisa dilakukan di tingkat provinsi karena karakteristik setiap tempat pasti akan berbeda. Karakteristik jakarta dengan konsumsi beras yang tinggi tentu akan berbeda dengan karakteristik jawa barat yang merupakan salah satu lumbung beras.

Contoh budidaya: keluhan petani tentang budidaya dengan berbagai macam teknologi yang ditawarkan bisa menjadi sebuah ide jika mereka mampu jeli untuk menangkap ide tersebut. Meskipun kita semua tahu bahwa sistem jarwo dan jarwo super telah berhasil meningkatkan produktivitas, tentunya inovasi tidak berhenti sampai di jarwo dan jarwo super saja. Tantangan bagi peneliti budidaya untuk menemukan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas yang telah dicapai. Momen bertemu, berdiskusi, dan mendengar masukan dari petani selama program top-down ini sangatlah bagus untuk mendapatkan ide karya tulis.

Variasikan sudut pandang terhadap suatu objek

Kunci dari tips kedua ini adalah “jadilah orang yang berbeda dan anti mainstream”. Bila semua orang fokus kepada pencapaian hasi lsuatu program sudah dapat dipastikan bahwa karya tulis yang mereka hasilkan akan seragam dengan topik yang tidak berbeda karena bersumber pada kegiatan dan sudut pandang yang sama.

Mengacu pada contoh program upaya khusus diatas, jika program yang sedang digulirkan adalah program nasional, maka bisa dibayangkan berapa peneliti dari sabang sampai merauke yang akan menulis tentang produksi, produktivitas, efektivitas program, dan evaluasi kebijakan program. Topik tersebut memang sangatlah penting namun sangat umum. Meskipun dilakukan ditempat yang berbeda, kemungkinan akan menghasilkan kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Hal yang perlu dimengerti adalah topik yang sangat penting dan umum tersebut biasanya sudah dilakukan peneliti senior di tingkat pusat yang memiliki akses di seluruh provinsi di Indonesia.

Oleh sebab itu, gunakan variasi sudut pandang yang berbeda dari objek dan program yang sama misalnya dari lokasi tempat progam berlangsung. Variasi tersebut bisa diperoleh dari uniknya tempat penelitian misalnya lahan kering, rawa, tadah hujan, pegunungan, bukit, atau pinggir pantai. Variasi selanjutnya bisa menggunakan sudut pandang pelaku, misal partisipasi kelompok wanita, babinsa, petani lahan kering, nelayan, petani perkebunan, pedagang, penggilingan, dan lain-lain.

Memandang sudut pandang dengan cara melihat masalah yang lebih umum juga merupakan cara untuk memvariasikan sudut pandang. Biasanya peneliti diminta untuk selalu fokus dan spesifik dalam memandang suatu penelitian yang terbukti dari struktur proposal, judul dan rencana operasional. Namun, dalam menjaring sebuah ide karya tulis, sesekali diperlukan untuk meihat lebih umum untuk mengetahui point-point yang akan dijadikan penekanan selama proses penulisan.

Misalnya, sebuah ide tentang “pengaruh serangan wereng terhadap kebutuhan produksi di tingkat Provinsi XXI tahun 2018”. Judul tersebut mungkin masih familiar namun jika melihat masalah tersebut lebih umum kemungkinan akan dijumpai judul “upaya penekanan intensitas serangan wereng sebagai peningkatan produksi di Provinsi XXI”. Bandingkan kedua judul tersebut, judul kedua tentu lebih umum dibandingkan judul pertama dan penjabaran judul kedua nanti akan lebih panjang sehingga peneliti memiliki banyak point – point yang akan dijelaskan dalam karya tulisnya. Apakah judul kedua bersifat penelitian sekunder? Jawabannya bisa iya bisa tidak. Meskipun peneliti memiliki data yang memungkinkan untuk membuat judul pertama, namun jika peneliti tersebut berkeinginan untuk mengubah sudut pandangnya dan memilih judul kedua, tulisannya tetap penelitian primer dengan data yag dimiliki.

Banyak membaca Jurnal Internasional

Tujuan banyak membaca adalah untuk meningkatkan kemampuan variasi peneliti dalam melihat sebuah objek seperti yang dijelaskan point sebelumnya. Karena memvariasikan sebuah masalah pada suatu objek yang sama sangatlah memerlukan kemampuan khusus yang berkaitan dengan sensitivitas peneliti.

Mengapa jurnal internasional? Membaca jurnal internasional bertujuan agar kita tidak terjebak kepada pola pemikiran umum yang mungkin akan menimbulkan buntunya ide karya tulis ilmiah. Jurnal nasional juga sangatlah berkualitas dan bagus, namun membaca jurnal dari negara lain memungkinkan peneliti memiliki wawasan dan sensitivitas yang tinggi karena mereka terbiasa membaca jurnal dari tempat dan karakteristik yang berbeda.

Misal: isu bioenergi sangatlah mengglobal. Variasi penulisan, ide, dan metode akan lebih banyak jika peneliti mencari di jurnal internasional. Jurnal dari India misalnya, tentu karakteristik tempat disana berbeda dengan peneliti yang membacanya di Indonesia. Menerapkan metode yang dilakukan dengan karakteristik di indonesia tentu masih dibenarkan. Berbeda ketika peneliti membaca sebuah jurnal nasional, kemudian menerapkan di provinsi yang berbeda. Kemungkinan besar akan gagal tersubmit di jurnal akreditasi nasional karena topiknya bukanlah hal yang baru.

Manfaatkan keuntungan program top-down

Keuntungan program top-down ini adalah banyaknya data, entah itu data yang berasal dari provinsi, kabupaten, atau bahkan provinsi lain jika peneliti memiliki network yang luas. Gunakan data tersebut untu menjadi sebuah ide karya tulis. Caranya adalah dengan membandingkan data yang dimiliki dengan data lainnya misalnya time series yang diperoleh dari BPS. Kemudian gunakan analisis singkat misalnya time series atau regresi sederhana. Adakah hubungan antara data – data tersebut? Jika ternyata ada, lalu bagaimana hubungan tersebut dapat dijelaskan dengan mencari literasi yang menguatkan.

Review

Karena program pemerintah biasanya bersifat nasional, tentu akan muncul tulisan dengan topik yang hampir mirip. Tugas peneliti lainnya adalah membaca, mengoleksi, mengelompokkan semua tulisan tersebut yang selanjutnya dapat dibuat menjadi sebuah review. Sebenarnya review tidak hanya merangkum beberapa karya tulis, namun ada metodenya. Meskipun metode tersebut tidak secara gamblang dituliskan dalam karya tulis tersebut, namun review juga biasanya harus menawarkan sebuah ide baru dengan penguat semua argumennya dari karya tulis terdahulu.

Kegiatan Penelitian Akademis

Penelitian akademis biasanya harus mendeskripsikan permasalahan yang jelas. Memang sedikit rumit karena harus mensintesa masalah berawal dari ilmu sesuai backgroundnya. Namun, jika peneliti sudah menemukan satu permasalahan yang dapat dijelaskan, peneliti tersebut akan benar –benar menikmati proses penelitian. Berikut berapa tips untuk dapat menjaring ide karya tulis dari kegiatan penelitian murni

Manfaatkan isu yang berkembang

Hukum biasanya bersifat tetap, tidak pernah berubah. Namun, kondisi atau isu selalu berganti sepanjang zaman. Misalnya ketetapan hukum keseimbangan penawaran dan permintaan bersifat tetap dari masa ke masa. Namun, isu tentang kelangkaan barang, naiknya harga, atau turunya harga sebuah komoditas menjadi sebuah ide yang menarik untuk menjawab fenomena yang sedang terjadi.

Next step

Pabrik handphone selalu berinovasi dengan menghadirkan produk-produk baru. Tidak ada inovasi tanpa adanya penelitian. Maka, menemukan metode untuk melampaui metode yang sudah ada merupakan cara yang tepat untuk mendapatkan ide karya tulis. Metode tidak harus benar-benar baru dari sebelumnya tidak ada menjadi ada. Penyempurnaan metode sebelumnya bisa dianggap sebagai metode baru. Jadi, hindari berpikir tentang suatu hal yang benar – benar baru.

Demikian beberapa cara untuk menjaring ide karya tulis. Semoga dapat bermanfaat.

Selamat Belajar