Custom Search

Melatih Daya Kritis

Anda tentu telah mengetahui tentang pengertian berpikir kritis. Salah satu pengertian berpikir kritis adalah suatu kemampuan nalar untuk membandingkan suatu fakta atau beberapa gagasan dan menyimpulkannya dengan menghasilkan suatu solusi atau permasalahan baru. Banyak pengertian lain dari kritis, dan anda pun bisa mendeskripsikannya dengan sudut pandang yang anda miliki.

Terkadang kita merasa heran jika menjumpai seseorang yang bisa melihat dengan jeli permasalahan dalam sebuah tulisan. Terkadang saya pun mengucapkan “That is brilliant” saat menjumpai pertanyaan yang saya pun tidak pernah memikirkannya.

Daya kritis perlu kita latih, berpikir kritis berarti mampu menganalisa masalah dengan logis. Mereka dapat menghubungkan masalah satu dengan lainnya, melihat titik point yang lemah yang mungkin disepelekan oleh orang lain. Banyak istilah yang dapat digunakan untuk orang yang berpikir out of the box, atau think different ini. Banyak juga yang berpendapat bahwa kemampuan ini diciptakan khusus oleh pencipta terhadap beberapa orang di dunia.
Begitu istimewanya orang yang memiliki daya kritis, sehingga tidak jarang mereka disebut sebagai orang pintar. Einstein, meskipun pernah tidak lulus sekolah, tetap saja pemikirannya diakui dan dijuluki sebagai sang jenius. Newton, memperhatikan apel yang jatuh dan menjadikannya sebagai dasar hukum gravitasi, padahal semua orang pasti sudah mengetahui hal tersebut (apel pasti jatuh ke bawah). Namun newton dan einstein memberikan solusi baru terhadap dunia pengetahuan. Semua hal itu berasal dari kemampuan logis dan daya kritisnya.

Berpikir kritis bukan tanpa sebab. Mereka mampu melatih otak mereka untuk melakukannya. Kali ini saya akan mencoba memberikan sebuah tips untuk kita sama – sama meningkatkan daya kritis terhadap sebuah karya tulis. Sengaja saya membatasi topik kritis dalam sebuah objek yang berbentuk karya tulis, karena karya tulis merupakan sebuah tulisan yang memiliki aturan ketat didalamnya. Sehingga sebagai reviewer, mampu dengan mudah menganalisis kesesuaian dan ketidaksesuaian dalam karya tulis tersebut.

Ciptakan antusias yang tinggi

Dalam sebuah presentasi, beberapa orang tidak peduli dengan apa yang dibawakan oleh presenter. Mereka cenderung berharap waktu cepat berlalu dan presentasi disudahi, atau sekedar menuliskan absen pertanda mereka hadir. Orang semacam ini sudah dipastikan tidak memiliki antusias dan daya kritis yang rendah terhadap bahan materi yang disampaikan.

Meskipun, sebenarnya terdapat beberapa kemungkinan pada kasus tersebut; bisa saja (1) materi yang disampaikan memang benar membosankan, (2) materi yang disampaikan hanya mencakup hal yang umum, (3) mereka memiliki kepentingan lain diluar materi tersebut, atau (4) mereka lebih menguasai materi ketimbang presenter yang menyajikan.
Namun, sebagai peserta seminar yang baik, keempat kemungkinan diatas bisa diutarakan menjadi saran atau pertanyaan kepada presenter. Jika materi memang membosankan karena layout yang kurang baik, atau presenter membawakan terlalu cepat, maka bisa diberi saran terhadap jalannya presentasi. Jika anda merasa lebih memahami persoalan ketimbang presenter, coba berikan pendapat dari sudut pandang yang berbeda sehingga menambah pengetahuan dari presenter yang kemungkinan bisa memberikan efek positif bagi perbaikan makalahnya.

Antusias terhadap apa yang akan kita lakukan merupakan kunci penting dari sebuah keberhasilan. Ciptakan rasa keingintahuan yang tinggi dan menganggap bahwa ilmu pengetahuan yang kita miliki masih harus terus ditambah. Pikirkan hal apa yang menjadi “pembeda” antara satu makalan dengan makalah lainnya. Dan apakah perbedaan tersebut dapat mengubah hasil dari sebuah penelitian selanjutnya?

Rasa antusias yang tinggi juga kita perlukan terhadap naskah yang ingin kita review. Berikan perhatian pada setiap bagian; latar belakang, metode, pembahasan, dan kesimpulan. Baca kalimat demi kalimat dan temukan alur cerita. Apakah alur cerita yang ditulis mengalir secara normal atau adakah lompatan – lompatan ide di dalamnya. Jika terdapat lompatan ide, apakah hal itu memang disengaja karena akan dibahas di bab selanjutnya ataukah memang suatu hal yang layak anda pertanyakan

Baca Juga  Multidimensional Scaling Part 3

Pahami alur cerita dan temukan benang merahnya

Pada sebuah naskah terutama karya tulis ilmiah, bab latar belakang masalah, tujuan, keluaran (jika ada), metode, pembahasan, dan kesimpulan HARUS memiliki benang merah. Aliran ide dipaparkan dari latar belakang yang mensintesis masalah yang dihadapi dan pengungkapan mengapa penelitian tersebut memang penting untuk dilakukan.

Kita berikan contoh kasus: Penelitian tentang perhitungan usahatani timun. Latar belakang tentang perlunya dilakukan perhitungan usahatani padi sawah kira – kira menjelaskan tentang timun yang diusahakan oleh beberapa petani. Kemudian disamping itu terdapat kebijakan pemerintah daerah setempat untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai sentra timun. Sebelumnya juga belum pernah dilakukan analisis perhitungan usahatani budidaya timun. Maka perlulah dilakukan perhitungan usahatani timun.

Kemudian pada sub bab tujuan, tentunya akan kita cantumkan untuk mengetahui apakah timun memang layak diusahakan pada wilayah tersebut. Keluarannya adalah sebagai bahan masukan kepada pemerintah daerah setempat tentang keragaan budaya usahatani dan permasalahan yang dihadapi petani sehingga pemerintah bisa mengambil kebijakan yang tepat.

Metode perhitungan dan pembahasan tentu tidak keluar dari benang merah yang sudah ditulis di bab latar belakang. Dan kesimpulan adalah jawaban dari tujuan yang ditulis. Sangat tidak diperkenankan apabila terdapat statemen atau kalimat dalam kesimpulan yang tidak tercantum pada tujuan awal penelitian. Jika tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan timun, maka kesimpulannya adalah pernyataan timun layak/tidak untuk diusahakan. Tidak relevan jika dalam kesimpulan muncul kalimat timun layak menjadi komoditas unggulan meskipun memiliki keuntungan yang tinggi. Karena penentuan komoditas unggul atau tidak, melalui proses metode penelitian yang lain.

Periksa alur cerita dan benang merah tersbeut untuk meningkatkan daya kritis anda. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah makalah ini sudah tersusun secara padu dan kuat dari latar belakang hingga kesimpulan? Jika ada beberapa bagian yang belum padu atau belum terhubung, tanyakan mengapa, dan apakah itu layak anda jadikan pertanyaan kepada penulis makalah tersebut.

Tanyakan 5 W dan H pada karya tulis di setiap bagian

Tehnik ini sudah sangat umum diperkenalkan dan saya yakin anda sudah mengetahuinya. Karena kalimat tanya memang berawal dari kata – kata tersebut; Apa? Dimana? Kapan? Mengapa? Dan Bagaimana?
Semua orang sudah tahu kata tanya tersbeut tapi tidak semua dapat menggunakan kata tanya itu dengan baik. Kembali ke point pertama, karena mereka tidak memiliki antusias.

Dari kata tanya Apa, anda bisa mengembangkan dengan pertanyaan Apa latar belakangnya? Apa manfaat penelitian ini? Apa judul makalah ini? Apakah sudah relevan? Apakah benar metodenya? Apakah tujuan sudah dijawab di kesimpulan? Apakah pembahasan sudah cukup menjelaskan? Apa beda penelitian ini dengan penelitian sebelumnya? Apakah argumen penulis sudah tepat? Dan lain – lain…

Kata dimana bisa anda kembangkan menjadi: dimana lokasi penelitian? Dimana letak point penting dari makalah tersebut? Paragraf mana yang tidak memiliki hubungan dengan isi makalah? Dimana letak perbedaan gaya tulisan dengan penulis lain? Dimana letak ketidaksesuaian paragraf? Harusnya ditempatkan di bab mana?

Kata kapan bisa anda kembangkan menjadi kapan penelitian dilakukan? Kapan data sekunder diambil? Masih relevan atau tidak dengan kondisi sekarang? Apabila ada penelitian yang dilakukan secara time series/ deret waktu, anda bisa mengekplorasi lebih dengan kata tersebut, misal: pada grafik time series, kapan produksi mengalami penurunan, kapan produksi mengalami peningkatan? Kapan pemerintah atau pihak yang berkaitan melakukan treatment terhadap kondisi tersebut? Dan lain – lain.

Kata mengapa merupakan kata yang paling mudah dikembangkan karena kata mengapa merupakan muara semua dari pertanyaan diatas. Misal: (1) apakah penelitian ini sudah relevan? Belum. Mengapa? (2) paragraf kelima tidak berhubungan dengan latar belakang. Mengapa? (3) produksi mengalami penurunan pada tahun ketiga. Mengapa? Karena pertanyaaan mengapa ini sangat mudah dieksplorasi, kebanyakan orang langsung menanyakan kata mengapa sebelum bertanya point dari pertanyaan tersebut.

Baca Juga  Tehnik Evaluasi Kegiatan Pendampingan atau Penyuluhan

Misal: “Mengapa anda melakukan penelitian ini?” Padahal, penulis sudah menjabarkan hal tersebut di dalam latar belakang. Pertanyaan yang tidak didasari oleh point penting ini hanya terkesan pertanyaan yang asal-asalan, atau kurang berbobot. Ubah pertanyaan tersebut dengan sanggahan atau komentar terlebih dahulu terhadap latar belakang yang dibuat oleh penulis. Misalnya “ saya tidak sepakat dengan argumen anda pada paragraf kelima di bab latar belakang. Karena menurut saya…bla..bla..bla.. yang dikuatkan oleh penelitian sebelumnya bla… bla.. bla.. lalu, apakah ada kebaruan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya?”

Kata bagaimana juga hampir sama dengan mengapa. Merupakan kata tanya yang sering muncul akibat adanya ketidakpuasan dengan pertanyaan sebelumnya. Dapat saya katakan bahwa kata apa, kapan, dan dimana merupakan kata tanya penggali dari point penting atau dasar dari sebuah makalah, sedangkan kata bagaimana dan mengapa merupakan kata tanya eksekusi untuk melahirkan sebuah pertanyaan dan mengkritisi terhadap makalah tersebut.

Periksa alat penelitian

Setalah anda melakukan penggalian terhadap struktur, alur, dan penjelasan di masing – masing bab, periksa secara khusus metode yang digunakan oleh penulis apakah sudah tepat atau belum. Alat penelitian merupakan tools sehingga meskipun tepat terkadang tidak relevan.

Saya ibaratkan tentang alat alat pemotong. Ada sabit, golok, gergaji, atau mesin potong rumput. Kesemuanya adalah alat potong. Namun jika kita menggunakan sabit untuk memotong rumput dihalaman akan tidak relevan ketimbang kita menggunakan mesin potong rumput.

Begitu juga dengan alat penelitian.semua alat penelitian adalah penting, jika digunakan sesuai bidangnya. Alat penelitian kuantitatif tidak akan maksimal jika digunakan penelitian yang bersifat kualitatif. Begitupun sebaliknya. Bahkan dalam satu rumpun penelitian kuantitatif pun, terdapat tingkatan data. Ada data parametrik, dan data non parametrik yang kesemuanya menggunakan alat penelitian yang berbeda.

Temukan kaitan karya tulis dengan hasil penelitian lainnya

Sebagai tambahan referensi, anda bisa membandingkan makalah satu dengan makalah lainnya. Temukan perbedaannya dan apakah penulis melakukan pembaruan dari penelitain – penelitian sebelumnya.

Perluas wawasan

Point 4 dan 5 memerlukan wawasan yang luas. Artinya anda perlu memperbanyak membaca makalah jika anda akan mereview sebuah makalah. Anda perlu banyak membaca buku, jika anda akan membedah sebuah buku.
Hal ini yang membuat seseorang ahli di bidang tertentu. Peneliti yang sering berkecimpung di bidang pertanian tentunya akan lebih mahir menilai dari aspek pertanian. Begitupun peneliti budaya, peneliti tehnik, dan lain-lain. Karena mereka memperbanyak wawasan di bidang masing – masing.

melatih daya kritis

perlu waktu untuk melatih daya kritis seseorang

Kritis, Bukan Berlagak Kritis

Bersikap kritis berbeda dengan berlagak kritis. Saya pernah menjumpai orang yang mengajukan pertanyaan dengan memaparkan pengalaman yang dilakukan. Namun pada akhir pertanyaan, justru terkesan tidak ada pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan yang diajukan sudah dijawab dengan sendirinya oleh pendapatnya.

Hindari pertanyaan yang panjang namun tidak memiliki point. Buat kalimat sederhana dan singkat tapi padat dengan apa yang anda pertanyakan. Sampaikan pertanyaan tersebut dengan maksud memberikan solusi atau pandangan baru, bukan berniat menjatuhkan presenter.

Selamat Belajar!