Custom Search

Proyeksi Daya Dukung Pakan dan Populasi Sapi di Provinsi Maluku

proyeksi sapi dan pakanPaper yang menceritakan tentang estimasi tingkat kecukupan pangan dan tingkat populasi sapi di Provinsi Maluku. Kebutuhan akan daging sapi selalu meningkat dengan ditunjukkannya fluktuasi harga sapi terutama pada hari – hari tertentu seperti hari raya keagamaan. Meskipun, daging sapi masih dibawah permintaan ikan yang mayoritas masyarakat konsumsi sebagai lauk sehari –hari.

Hal yang menjadi menarik tatkala wilayah Indonesia bagian timur terutama Maluku sempat disebut sebagai wilayah yang berpotensi menjadi penghasil sapi karena populasi sapi dan tingkat harga yang relatif stabil dibandingkan wilayah Indonesia bagian barat terutama Jakarta. Selisih harga antara penjualan sapi di WIT dengan WIB sempat menimbulkan reaksi untuk mendatangkan sapi tersebut guna memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Makalah ini menjadi penting karena wilayah maluku merupakan wilayah kepulauan dengan persentase wilayah daratan tidak mencapai 10% dari total keseluruhan. Sehingga timbul pertanyaan apakah pakan di kepulauan Maluku dapat mencukupi prediksi perkembangan populasi. Perlu diketahui bahwa metode pemeliharaan sapi di maluku mayoritas masih menggunakan pemeliharaan tradisional dengan tanpa kandang atau dibiarkan liar di sekitar kebun masyarakat. Hal ini dapat dipahami karena daging sapi bukan merupakan komoditas sumber protein  utama bagi masyarakat Maluku. Sebenarnya hal ini menarik jika dikaitkan dengan program diversifikasi pangan khususnya pemenuhan kebutuhan protein. Swasembada protein yang kerapkali diidentikkan dengan swasembada daging terlalu membebankan produksi daging sapi sehingga mengharuskan Indonesia menyediakan daging sapi dengan cara impor. Padahal, jika kita merujuk pada komoditas lain yang bisa menjadi alternatif sumber protein, ikan memiliki potensi yang besar dalam memenuhi kebutuhan protein seperti yang dilakukan oleh masyarakat Maluku secara turun temurun. Bahkan terbentuk anggapan “tidak bisa makan tanpa ikan”.

Alat analisis yang digunakan untuk menentukan prediksi populasi adalah analisis time series merujuk pada tahun 1992 hingga 2012. Data BPS di maluku memang sangat terbatas, tidak bisa mengoleksi data hingga tahun 80an. Menurut petugas di BPS bahwa data statistik Maluku banyak yang hilang akibat kerusuhan besar yang pernah terjadi di Provinsi tersebut. Sama halnya dengan paper yang pernah saya tulis tentang pengaruh perubahan iklim terhadap produksi tanaman pangan, data yang saya gunakan pun tidak menyentuh tahun 1980-an. Namun demikian, tidak mengurangi upaya untuk terus melakukan analisis karena data tersebut dapat dikatakan cukup apabila memiliki nilai goodness of fit yang memadai sehingga bisa menghasilkna model yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat populasi sapi dan pakan di wilayah Provinsi Maluku.

Baca Juga  Persepsi Petani Terhadap Gapoktan Sebagai Pengelola Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Pulau Seram

Empat model yang digunakan dalam paper ini adalah model linear, quadratic, exponential, dan moving average. Tiga dari empat model ini merupakan model dari time series yang sederhana. Pemilihan model time series ini karena model tersebut memang cocok untuk digunakan dalam mengolah data time series populasi sapi dan pakan, tidak harus menggunakan model Arima Atau Sarima atau alat analisis peramalan yang lain karena data populasi Sapi tersebut menunjukkan model trend yang signifikan dengan data pertahun.

Berdasarkan nilai MSD, model quadratic dinilai sesuai digunakan untuk menghitung peubah populasi sapi dan peubah daya pakan karena memiliki nilai MSD terkecil dan nilai R 2 adjusted yang paling besar. Proyeksi jumlah sumberdaya pakan ternak yang berasal dari limbah pertanian dan perkebunan di Provinsi Maluku masih mencukupi kebutuhan ternak sapi hingga 1,800.734 ekor. Nilai sumberdaya pakan tersebut dikatakan berlebih karena prediksi populasi sapi di Provinsi Maluku hanya mencapai 96.343 ekor di tahun 2017.Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka Provinsi Maluku memiliki potensi dalam pengembangan agroindustri. Pengembangan agroindustri yang mengintegrasikan subsektor tanaman pangan dan perkebunan dengan subsektor peternakan dapat dilakukan dengan melakukan diseminasi teknologi integrasi tanaman pangan atau perkebunan dengan peternakan, seperti pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi dan pemanfaatan pakan dari limbah tanaman pangan atau perkebunan.

Konsep pemeliharaan sapi di Maluku masih konsep sederhana dengan tujuan memenuhi kebutuhan sendiri, belum mengarah kepada produksi untuk luar daerah. Hal yang perlu dibenahi secara perlahan adalah melakukan desiminasi teknologi intensif atau semi intensif kepada peternak yang kemudian dapat diiringi dengan teknologi integrasi tanaman – ternak.

Semoga pertanian Indonesia khususnya Maluku dapat semakin berkembang dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan sehingga tercipta generasi generasi yang cerdas, insan yang sehat, dengan pemerataan kesejahteraan baik di kota hingga desa dan pelosok tanah air.

Makalah lengkapnya bisa dilihat pada jurnal agriekonomika di link berikut ini:

http://journal.trunojoyo.ac.id/agriekonomika/article/view/1001/2211